Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Ruangan Penuh Kenangan Buruk


__ADS_3

Keesokan harinya, kemarahan tuan muda juga belum mereda sejak Luis berbicara di telepon untuk menemuinya. Tapi sampai sekarang Luis pun tidak datang sama sekali, apalagi tuan muda berkali-kali menelepon Luis dan hasilnya nomor Luis tidak bisa dihubungi.


Jalan satu-satunya yaitu tuan muda mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Luis lebih tepatnya tempat tinggal Luis di Jakarta. Tuan muda sudah tidak sabar ingin bertemu Luis untuk mempertanyakan siapa dia sebenarnya.


Hatinya tidak tenang jika masalah yang dihadapinya menyangkut masalah rumah tangganya. Pikirannya kalut, resah dan gelisah sejak kepulangannya dari Italia setelah melihat foto yang telah dikirim oleh Luis bersama Naya.


Tiba-tiba Dion memberikan informasi penting pada tuan muda Aras tentang keberadaan Luis saat tuan muda hendak melangkah memasuki mobilnya.


"Tuan muda, tempat tinggal Luis sekarang sudah kosong, apalagi apartemen yang dia tinggali juga tidak berpenghuni, hanya seorang pelayan wanita tua yang menempati apartemen itu. Pelayan itu pun tidak tahu kemana Luis pergi. Dia hanya bilang Luis suka bolak balik ke Italia dan Jakarta," ucap Dion menjelaskan dengan detil.


"Italia? Siapa dia sebenarnya? Urusan apa yang saya miliki dengannya?" tuan muda tampak berpikir.


"Apa tuan memang tidak mengenalnya?" tanya Dion memastikan.


"Saya tidak tahu, Dion. Aghhh ... menyebalkan!" geram tuan muda kesal kemudian memasuki mobilnya dan berlalu pergi menuju kantornya.


Di tempat lain, rumah persinggahan Luis bersama anak buahnya. Dia tampak senang bisa mempermainkan tuan muda Aras, dia senang jika tuan muda Aras marah dan kesal.


"Hahaha, Aras bodoh, dia masih saja sama seperti dulu. Sepertinya kamu tidak sabar untuk bertemu denganku, Aras. Tunggulah beberapa hari lagi, karena aku juga butuh waktu untuk bertemu denganmu," ucap Luis dengan sendirinya yang sedang duduk sambil menatap foto seorang anak laki-laki bersama dengan seorang wanita.


"Oh no, Naya ... aku lupa bahwa Naya sedang dalam masalah karena ulahku. Aku harus segera membantu Naya agar Aras tidak salah paham, kasihan Naya."


"Aku harus segera bertemu dengan Aras secepatnya. Aku harus hadapi Aras apapun resikonya."


Luis meraih ponselnya, kemudian menghubungi salah satu anak buahnya.


"Siapkan keperluan yang sudah saya perintahkan ke kamu waktu itu. Hari ini kita akan datang menemui Aras Ahmet. Siapkan dengan sempurna, jangan sampai ada yang terlewatkan," pinta Luis memerintah anak buahnya.


Luis tersenyum sambil memikirkan apa yang akan terjadi bila dia bertemu dengan Aras di hadapannya. Kata apa yang pertama kali akan Luis ucapkan pada Aras. Itulah yang ada dibenaknya saat ini.


Di kantor Haras Company, tuan muda Aras yang tidak fokus dengan pekerjaannya selalu tertuju pada bayang-bayang diriku. Sebenarnya, ingin dia percaya pada apa yang dikatakan olehku tapi terbesit ingatan masa lalunya tentang sebuah pengkhianatan yang tidak bisa dia lupakan.

__ADS_1


"Aghhh ... kenapa jadi seperti ini? Saat aku sudah bisa menerima Naya sebagai istriku, kenapa masalah timbul dalam keluargaku? Aku tidak mau kejadian di masa lalu pada mama dan papa terjadi padaku dan Naya," tuan muda mengeram marah hingga menggebrak meja dengan keras.


"Apa semua wanita itu sama? Mereka selalu mempermainkan pria yang jelas-jelas menyayanginya? Adakah wanita yang tulus setia padaku, Tuhan. Aku hanya ingin mempertahankan kebahagiaanku bersama Naya."


"Coba saja aku membawa Naya pergi ke Italia bersamaku waktu itu, mungkin masalah ini tidak akan terjadi dalam keluargaku dan tidak ada pria lain yang mengusik Naya dariku."


Brakkk


Tuan muda Aras membuang semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya karena tak bisa lagi dia bendung rasa kesalnya.


Karena merasa tak tenang, akhirnya tuan muda Aras memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal pukul 14.00 siang.


Setelah sampai di kediaman rumah Ahmet, langkah tuan muda diiringi derap suara sepatunya dengan wajah yang tak bersahabat.


Dia langsung berjalan menuju kamar atas tanpa menjawab ucapan bi Tias yang menyapanya.


"Ada masalah apa lagi ini? Kapan tuan muda Aras dan nona Naya bahagia kembali. Baru saja kalian berdua menjalin kasih tapi ada saja masalah yang datang membuat kalian bertengkar lagi. Bibi berharap kalian berdua bisa melewati ujian itu bersama-sama," gumam bi Tias cemas dan lirih yang merasa ada aura buruk dari raut wajah tuannya.


Aku berada di balkon sedang menenangkan pikiranku sembari menatap langit. Tiba-tiba saja tuan muda datang dan menarik tanganku berjalan keluar kamar menuruni tangga dan dia mengajakku ke salah satu ruangan yang entah itu ruangan apa, Aku pun tak mengetahuinya.


"Kenapa kau membawaku kemari? Ruangan apa ini?" tanyaku dengan melihat sekeliling ruangan.


"Tempat ini adalah ruangan yang paling aku benci. Ruangan yang mengingatkanku pada kenangan buruk belasan tahun yang lalu. Kau mau tahu ruangan apa ini?" tuan muda menjelaskan padaku kemudian dia balik bertanya.


Aku hanya mengangguk pelan di hadapan suamiku karena Aku juga ingin tahu yang sebenarnya tentang ruangan yang banyak kenangannya itu.


"Ruangan ini adalah ruangan di mana aku dikurung oleh mamaku sewaktu aku masih kecil dulu. Kuberitahu sebuah rahasia masa laluku yang akan aku ceritakan padamu sesuai dengan janjiku setelah kepulanganku dari Italia. Dengarkan baik-baik, Naya!" bisik tuan muda penuh penekanan saat menyebutkan namaku di akhir kalimatnya.


Aku menatap matanya dan memasang telinga untuk mendengar semua ucapannya agar tidak ada satu pun yang terlewat.


"Dulu hidupku dengan mama dan papa begitu bahagia. Mereka menyayangiku, kami sering menghabiskan waktu bersama untuk jalan-jalan, dan kami selalu liburan ke Luar Negeri setiap kenaikan kelasku."

__ADS_1


"Aku pikir kehidupanku begitu sempurna dan bahagia bersama kedua orang tuaku. Tapi nyatanya aku salah. Papa yang selalu setia dan mencintai keluarganya sedangkan mamaku mengkhianati papa dan meninggalkanku saat umurku 10 tahun."


"Dan di ruangan inilah mama mengurungku sendirian agar aku tidak ikut dengannya. Aku ketakutan dan menangis saat itu. Mamaku itu jahat, dia lebih memilih pergi bersama pria lain dan meninggalkan aku dengan papa."


"Makanya aku tidak percaya dengan wanita, aku benci dengan sebuah pengkhianatan," tuan muda menatapku seolah menyudutkan aku seakan aku ini adalah seorang wanita yang mengkhianatinya.


Aku mencoba untuk berbicara baik-baik dengan suamiku sambil menggenggam kedua tangannya bersimpati.


"Aku turut prihatin atas masa lalu yang menimpamu. Jadi itu alasannya sampai sekarang kamu tidak percaya padaku?" Aku bertanya selembut mungkin pada tuan muda.


"Iya, karena wanita tidak pernah menghargai pengorbanan pria yang mencintainya," tuan muda melepaskan kedua tangannya dariku dengan kasar disertai seringai pahitnya ke arahku.


"Tapi aku tidak seperti mama kamu. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu," sangkalku dan mencoba menggapai tangan suamiku kembali.


Tuan muda memandang mataku penuh tanya seolah mempertanyakan kebenaran tentang ucapanku.


"Oh ya? Aku belum percaya, Naya. Aku hanya ingin...," ucap tuan muda menggantung.


Tok tok tok


Tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar. Lantas tuan muda pun beralih melangkah kemudian membuka pintu.


"Tuan muda, ada pria yang mengaku dirinya Luis dan dia mengajak rombongan anak buahnya di sekitaran halaman rumah ini, Tuan!" ujar Dion memberi informasi pada tuan muda Aras.


"Bagus, akhirnya dia berani menampakkan dirinya kemari," ucap tuan muda dengan seringai jahatnya sambil melirik Aku yang berada di belakangnya.


Tuan muda membalikkan badannya ke arahku dan langsung memberi perintah.


"Kau diam dan tunggu di sini, aku akan menemui Luis!" titah suamiku yang hendak pergi meninggalkanku sendiri.


Aku terkejut dan mencoba menahan langkah suamiku, tapi nyatanya dia sudah terlebih dulu mengunciku dari luar ruangan yang sekarang Aku tempati.

__ADS_1


"Kau mau kemana? Aku ikut. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri di ruangan ini. Di sini gelap, aku takut!" Aku menggedor-gedor pintu dengan keras.


Bersambung....


__ADS_2