
Aku perlahan memundurkan langkahku saat Aku mengetahui bahwa lelaki yang duduk di kursi itu bukanlah kak Niko, melainkan CEO asli yang sesungguhnya. Ya, dia adalah tuan muda Aras Ahmet.
Kedatangan dia yang tiba-tiba membuatku terkejut. Sungguh serasa jantungku mau copot. Baru kali ini Aku berani melakukan hal konyol di depannya setelah dia kembali. Kenapa Aku harus bertemu lagi dengannya? Aku benar-benar malu dan cukup takut menghadapinya.
Apa yang akan Aku lakukan sekarang? Melihatnya saja Aku sudah gemetar di tambah tubuhnya yang sekarang sudah kembali bugar menjadi pria yang sangat tampan luar biasa, apalagi wajahnya di penuhi bulu-bulu halus dan itu membuatnya bertambah keren.
Ah sial, mikir apa Aku ini? Bukankah Aku sudah memiliki kak Niko? Ingat, bahwa pria di depanku ini adalah pembunuh ibu dan ayah. Lalu untuk apa Aku mengaguminya hanya karena dia sangat tampan.
"Ini perusahaan keluarga saya, jadi terserah saya mau kapan saja saya datang kemari. Lalu kamu kira saya itu siapa tadi?" ucap tuan muda Aras dingin kemudian bertanya padaku dengan tatapan tajam.
"Emm ... sa-saya kira ... ah lupakan saja!" jawabku gugup dan langsung beralih melangkahkan kakiku menjauh dari tuan muda Aras.
Aku tahu jika Aku tidak sopan yang pergi begitu saja tampa pamit, karena Aku masih merasa kesal padanya saat kecelakaan yang menimpa ibu dan ayah.
Belum sampai Aku keluar dari ruangan itu, tiba-tiba saja kak Niko masuk dan langkah kami pun terhenti bersamaan. Kak Niko menatapku bingung sedangkan Aku menatap dirinya dengan wajah cemberut kesal.
"Naya!" sapa kak Niko padaku tapi Aku tak mempedulikannya hingga Aku pun berlalu dari ruangan itu.
Kak Niko menatapku heran dan berbalik ke arahku hingga tubuhku tak terlihat dari pandangannya.
"Wanita aneh!" umpat tuan muda Aras sekilas yang ternyata didengar oleh kak Niko kemudian beralih ke arah tuan mudanya.
"Memangnya kenapa dengan Naya, Tuan?" tanya kak Niko penasaran.
"Tiba-tiba dia mengajakku makan siang dan memanggilku dengan sebutan SAYANG," jelas tuan muda Aras dengan menekan katanya diakhir kalimat.
Kak Niko pun kaget saat mendengar perkataan tuan muda Aras mengenaiku. Ah, memalukan sekali diriku. Entah apa yang akan Aku katakan pada Kak Niko jika bertanya tentang hal itu padaku?
"Maafkan Naya, karena saya belum memberi tahu kepulangan Tuan ke Jakarta. Sekali lagi maafkan Naya, Tuan!" ucap Kak Niko merasa bersalah.
Tuan muda Aras merasa aneh, karena terlihat dari wajah kak Niko seperti memohon dalam penyesalan. Tuan muda Aras menyunggingkan senyumnya dan dia tahu tentang sesuatu dari sana.
"Tunggu dulu, jangan-jangan yang dimaksud oleh Naya itu ... kamu? Benar itu kamu, Niko?" tanya tuan Aras sangat penasaran.
"Emm ... i-iya Tuan. Ma-maafkan saya Tuan jika tadi Naya salah mengira bahwa....," jawab kak Niko salah tingkah hingga perkataannya langsung dipotong oleh tuan muda Aras.
"Oh shittt, ternyata kalian menjalin hubungan. Baiklah, apapun itu congratulations. Tapi saya minta, kalian berdua harus konsisten dalam pekerjaan dan jangan membawa masalah pribadi kalian ke kantor ini, mengerti?" pinta tuan muda Aras sembari memberi nasihat pada kak Niko.
"Iya, pasti Tuan!" jawab kak Niko malu-malu. Sedangkan tuan muda Aras masih dengan senyumnya tak percaya.
__ADS_1
Sore hari waktunya jam pulang kantor. Semenjak kedatangan tuan muda Aras, Aku belum sempat berbicara ataupun berkirim pesan pada kak Niko, itu pun hanya berpapasan saat di ruangan tuan muda Aras tadi siang. Kak Niko hanya sibuk dengan tuannya saja. Jadi Aku berinisiatif untuk pulang sendiri tanpa kak Niko. Huh, menyebalkan!
Aku berdiri tepat di depan gedung perusahaan, niat hati ingin memesan taksi online tapi ternyata tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di hadapanku.
Tin tin tin
Ah, kak Niko membuatku kaget. Dia sengaja membunyikan klakson cukup kuat kepadaku.
"Masuklah!" pinta kak Niko.
"Kau selalu membuat jantungku ingin copot, Kak!" ucapku sedikit kesal.
Kak Niko keluar dari mobil lalu mengitari mobil di depanku dan membukakan pintu mobil untukku.
"Maaf, ayo masuklah!" pinta kak Niko dengan senyumannya.
Aku pun masuk perlahan, tapi saat Aku melihat ada tuan muda Aras duduk di belakang dengan tenang dan mengarahkan pandangannya kepadaku, akhirnya Aku mengurungkan niatku untuk duduk di mobil itu.
"Biar aku naik taksi saja," ucapku hendak keluar dari mobil tapi tiba-tiba saja suara tuan muda Aras menahanku untuk keluar.
"Sudah, naik saja di mobil ini," pinta tuan muda Aras menahanku.
"Nggak ada penolakan, cepet masuk. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sama kamu," desak tuan muda Aras padaku dengan tegas yang membuatku tersentak. Aku terpaksa menaiki mobil itu.
Hening, tak ada suara satu pun yang keluar selama perjalanan. Aku pun hanya melihat pemandangan keluar kaca mobil. Kecanggungan pun terjadi di antara kami bertiga. Sesekali Aku melirik kak Niko yang sedang menyetir ke arah kaca spion depan yang ternyata dia juga melirikku. Kami pun tersipu malu.
"Ekhem ... kenapa diam? Kalau kalian mau bicara, ya bicara saja. Jangan sungkan walau saya di sini," ucap tuan muda Aras padaku dan kak Niko. Sepertinya dia tahu bahwa kami berdua saling mencuri pandang.
"Maaf, Tuan tapi kami memang tidak ingin bicara," ujar Kak Niko langsung menjawab.
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya tuan muda Aras blak-blakan.
Apa? Ternyata tuan muda Aras sudah mengetahui hubungan antara Aku dan kak Niko? Hemm ... pasti gara-gara Aku yang tadi salah mengira kalau tuan muda Aras itu adalah kak Niko. Huh, betapa malunya Aku.
"Baru empat bulan, Tuan!" jawab kak Niko sembari melihat tuan muda Aras ke arah kaca spion depan.
Kak Niko benar-benar sopan sekali pada tuan muda Aras. Bukan hanya pada tuannya saja tapi pada semua orang walau mukanya sedikit terlihat seram. Makanya Aku sangat menyukai ketegasan dan kewibawaannya.
"Oh ya, Naya ... papaku menitipkan salam untukmu. Papa sangat menyukai pekerjaanmu yang bisa membuat perusahaan menjadi lebih baik. Dan papa bilang kamu harus tetap bekerja pada Haras Company seumur hidup kamu," tiba-tiba tuan muda Aras menyampaikan pesan tuan Halim padaku saat di Turki.
__ADS_1
"Akan saya usahakan untuk bekerja di Haras Company seumur hidup saya. Dan tolong sampaikan juga salam kembali dariku untuk tuan Halim," ucapku tanpa menolehkan wajahku ke arah tuan muda Aras.
"Ok, pasti akan saya sampaikan," jawab tuan muda Aras santai.
Kak Niko mengantar pulang tuan muda Aras terlebih dahulu, barulah mengantarku pulang. Tapi, sebelumnya kak Niko mampir terlebih dahulu ke rumahku untuk melaksanakan sholat magrib dan makan malam bersama.
Sungguh kebahagiaan kedua yang benar-benar Aku dapatkan dan rasakan setelah kepergian ibu dan ayah. Thanks God.
Tapi saat kami sedang mengobrol setelah makan malam, tiba-tiba saja ada panggilan telepon dari ponsel kak Niko yang membuat perbincangan kami menjadi terhenti.
Kak Niko menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo."
"Sekarang?"
"Ba-baiklah, saya akan segera ke sana secepatnya, Tuan!" ujar kak Niko yang terlihat cemas setelah menjawab panggilan telepon yang ternyata dari tuan muda Aras.
Dengan cepat Kak Niko bangkit dari kursi lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ada apa, Kak? Apa yang terjadi?" tanyaku panik.
"Kakak harus menjemput tuan muda Aras di rumahnya lalu ke bandara. Kakak dan tuan muda akan berangkat ke Istanbul malam ini," ucap kak Niko menjelaskan dengan cepat.
"Apaaa?" tanyaku kaget.
Kak Niko mendekatiku dan memegang kedua pundakku dengan tenang.
"Naya, dengarkan Kakak. Selama Kakak dan tuan muda Aras tidak ada di perusahaan, semua urusan kantor kami percayakan padamu dan beberapa direksi penting di kantor. Jika ada sesuatu yang tidak kamu mengerti tanyakan saja pada mereka, ya!" kata kak Niko sambil memberi pesan padaku.
"Tapi, Kak...."
"Ini mendesak, Nay. Nanti Kakak ceritakan padamu. Jaga diri kamu baik-baik, ya," Kak Niko mengelus kepalaku lembut lalu mengecup keningku.
Mataku mulai berkaca-kaca, tapi kak Niko langsung pergi begitu saja dari pandanganku.
Perasaanku menjadi tidak tenang saat melihat kepergian kak Niko yang terburu-buru dalam kepanikan. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.
Bersambung....
__ADS_1