Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Menjaga Kakak Ipar


__ADS_3

Tak terasa kini kandunganku sudah berusia sembilan bulan, tinggal menghitung hari untuk melahirkan. Tuan muda Aras begitu sangat perhatian padaku, terlebih lagi dia memberiku pelayan pribadi untuk berjaga-jaga jika Aku menginginkan sesuatu selama tuan muda bekerja.


Tuan muda tidak ingin Aku kelelahan padahal Aku bosan jika tidak beraktivitas seperti biasa, mengingat kandunganku sudah membesar maka Aku menuruti apa yang tuan muda perintahkan.


Pukul 14.00 siang, sengaja Aku duduk di taman samping melihat-lihat bunga yang sedang bermekaran sambil mendengar musik klasik yang begitu menenangkan pikiran.


"Sepertinya taman ini tempat yang ternyaman bagi kakak ipar di rumah ini," Luis tiba-tiba datang dan duduk di sampingku.


Aku beralih menatapnya cukup kaget. Aku tak menyangka bahwa Luis telah berada di Jakarta tanpa memberi kabar padaku.


"Luis, kapan kau datang?" tanyaku senang.


"Satu jam lalu dari bandara langsung ke sini. Aku merindukan kalian. Aku tidak sabar ingin melihat calon keponakanku ini lahir, Kakak ipar!" ujar Luis menatap perut buncitku.


"Seharusnya kau bilang jika ke sini, jadi biar ada yang menjemputmu."


"Tidak masalah, biar menjadi kejutan. Aku juga membawa hadiah untukmu dan calon keponakanku. Hadiahnya sudah aku suruh bi Tias membawanya ke kamar."


"Kau tidak usah repot-repot melakukannya, Luis."


"Tidak masalah, Kak!" Luis tersenyum bahagia.


Setelah cukup lama kami berbincang, mobil yang membawa tuan muda telah kembali ke rumah.


"Nah itu suamiku pulang, ayo kita ke depan pasti kakakmu itu senang jika kau di sini," Aku bangkit perlahan hendak berjalan.


"Jangan bilang pada kak Aras jika aku datang, aku akan bersembunyi dulu kemudian aku akan berikan kejutan padanya, ok!" Luis bergegas pergi meninggalkanku di taman kemudian dia bersembunyi entah kemana.


"Hemm, begitu semangatnya dia bertemu dengan kakaknya," gumamku menggelengkan kepala.


Aku langsung masuk ke dalam rumah di gandeng oleh pelayan untuk menyambut suamiku.


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan menyambutku selama kau hamil besar. Kau selalu saja membantahku, hah!" tuan muda terlihat kesal tapi penuh kecemasan.


Aku langsung memeluknya begitu saja tanpa kata-kata. Karena aku tahu bahwa aku salah. Dia pun tak ingin Aku menjawab ucapannya dengan bantahan.


"Maafkan aku, sayang. Aku tak bisa berdiam diri di kamar," jelasku.


"Ok, tapi kali ini saja. Untuk besok-besok jangan lakukan apapun yang aku larang, kau paham!"


"Ok, sayang!" Aku mencium pipinya.

__ADS_1


Kami hendak melangkah berjalan ke atas kamar, tapi tiba-tiba tubuh tuan muda begitu sulit untuk melangkah.


"Hei, siapa ini?" tanya tuan muda kaget melihat ada tangan yang melingkar di perutnya dari belakang.


"Surpriseeee!" Luis tiba-tiba muncul di hadapan tuan muda setelah melepaskan kedua tangannya dari perut kakaknya.


Mata tuan muda membulat sempurna seakan tidak percaya bahwa di hadapannya itu adalah Luis yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu apalagi sekarang penampilannya berubah menjadi sangat rapi setelah dia bekerja di kantoran.


"Kau, di sini? Kapan kau datang, Luis? Kenapa tidak memberi tahuku, biar aku menyuruh sopir menjemputmu," Tuan muda menepuk-nepuk bahu Luis menatapnya dengan teliti.


"Sengaja, biar tidak merepotkanmu, Kak!" Luis memeluk kembali tuan muda cukup lama saking rindunya kepada kakaknya.


Aku tersenyum dan bahagia melihat kedua saudara itu yang begitu akur.


"Aku merindukanmu, Kak. Dan sengaja aku ambil cuti untuk menemani kamu dan kakak ipar lahiran nanti sekaligus melihat calon ponakanku. Aku sudah tidak sabar menunggu moment untuk menggendongnya," Luis tertawa kecil sembari bersyukur berada di tengah-tengah kebahagiaan kami berdua.


"Terima kasih karena kau telah hadir menemani kami di sini, Luis!" ujar tuan muda melemparkan senyuman tulus pada Luis.


"Aku lah yang berterima kasih pada Kakak, karena aku merasa dihargai di sini."


Keesokan harinya tepat hari minggu, hari libur yang di tunggu-tunggu oleh tuan muda bisa menjagaku 24 jam penuh. Selalu berada di dekatnya serta dalam pengawasannya.


Dia begitu cerewet melebihi perempuan jika sudah melarangku ini dan itu. Aku begitu bosan dengan kekhawatirannya yang menurutku berlebihan.


Pukul 10.00 pagi, panggilan telepon masuk di layar ponsel milik tuan muda.


"Ada apa?" tawab tuan muda bernada datar.


"Tidak bisakah kau tunda dulu keberangkatanmu?" tuan muda terlihat cemas.


"Ah, kau memang payah, tidak bisa diandalkan. Kau merusak hari tenangku, Niko!" umpat tuan muda kesal.


Sambungan telepon pun terputus.


Ternyata kak Niko yang sedari tadi berbicara pada tuan muda di telepon.


"Aku harus menemui rekan kerja di hotel, ini masalah penting tentang kerjasama perusahaan sebelum dia pulang ke Paris. Niko tiba-tiba mendadak pergi ke Bandung karena urusan keluarga. Padahal aku nggak ingin meninggalkanmu, Nay!" tuan muda terlihat bimbang dan resah, dia menarik nafasnya kasar.


"Bergegaslah, jangan biarkan rekan kerjamu menunggu terlalu lama. Jangan cemaskan aku. Di sini banyak yang menjagaku, sayang!" Aku mencoba meyakinkannya.


Aku menggenggam lembut kedua tangan suamiku percaya diri.

__ADS_1


"Tapi, perasaanku nggak enak jika kamu tidak bersamaku. Bagaimana jika kau mendadak ingin melahirkan saat aku tidak ada, hah?"


Tuan muda bertambah panik, bingung dengan sesuatu yang akan dia pilih, antara aku atau pekerjaan yang harus dia tepati pada rekan kerjanya.


"Pergilah, Kak ... aku akan menjaga Kakak ipar di sini. Percayakan semuanya padaku," Luis yang muncul begitu saja seperti biasa di rumah itu membuatku sedikit lega.


Tuan muda mengerutkan keningnya sembari memikirkan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.


"Apa kau bisa dipercaya?" tanya tuan muda masih menyimpan keraguan.


 


"Pasti dong, sudah lengkap bukan di rumah ini ada aku, bi Tias, pengawalmu, para pelayan yang lain. Emm ... atau perlu aku perintahkan teman-temanku sekalian untuk menjaga Kakak ipar?"


Tak tanggung-tanggung Luis meyakinkan tuan muda sampai berlebihan.


"Tidak, tidak, semua teman-temanmu itu preman," kesal tuan muda.


Luis hanya tertawa garing.


Aku hanya menghela nafas dengan pasrah tentang apa yang diributkan oleh sepasang kakak dan adik itu.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, jaga terus istriku. Kalau istriku kesakitan atau ingin melahirkan, tolong kau cepat bawa dia ke rumah sakit dan hubungi aku, mengerti?" perintah tuan muda pada Luis dengan tegas.


"Ok, siap Bos!" Luis begitu patuh sehingga mengambil posisi sikap tegap seperti tentara.


Aku tertawa melihat tingkah Luis.


"Sayang, aku pergi. Aku janji setelah pekerjaan selesai, aku langsung pulang," Tuan muda langsung berjalan cepat setelah mencium keningku.


"Bahkan dia belum mengganti pakaiannya," gumamku berdecak.


Satu jam berlalu, aku yang ditemani seorang pelayan sedang menatap layar TV yang saat itu kami berdua menonton kartun Tom and Jerry, begitu lucu hingga aku terpingkal-pingkal.


Tapi tak lama kemudian aku merasa perutku sedikit sakit dan aku hanya meringis, tapi setelah beberapa menit kemudian perutku lama kelamaan bertambah sakit hingga aku tak kuat menahannya.


"Aghhh, sakit. Perutku sakit sekali," Aku memegang perutku sambil mengepalkan tangan begitu kuat.


"Nyonya, apa nyonya ingin melahirkan? Tuan Luis ... bi Tias ... Nyonya kesakitannnn!" teriak pelayan dengan lantang.


Luis dan bi Tias bergegas menuju ke sumber suara. Mereka sangat cemas dan juga panik.

__ADS_1


"Kakak Ipar, bertahanlah ... aku akan membawamu ke rumah sakit. Bi Tias tolong beritahu kak Aras sekarang!" Bergegas Luis menggendong tubuhku dengan hati-hati menuju mobil membawaku ke rumah sakit.


Bersambung....


__ADS_2