Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Kebahagiaan dan Anugerah


__ADS_3

Setelah berjuang selama 9 bulan masa kehamilan, kini saatnya Aku dihadapkan pada proses persalinan. Menunggu hari itu adalah sangat dinanti-nantikan olehku juga suamiku.


Aku berada di ruang persalinan sembari berdo'a dan menunggu tuan muda Aras datang menemaniku. Aku berzdikir mengharapkan persalinan ini berjalan dengan lancar dan normal serta anakku dalam keadaan baik dan sehat.


Rasa sakit yang begitu menyakitkan sedikit menghilang ketika tuan muda datang dan mencium keningku. Aku merasa tenang dan nyaman bila suamiku berada di sisiku. Melihat wajahnya saja, rasa takutku hilang begitu saja.


"Sayang, aku sudah kembali. Aku di sini menemani kamu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Kamu harus kuat, sayang. Jika kau merasa sakit, maka genggamlah tanganku dengan kencang, hem?" Tuan muda menatap lekat mataku dan meraih tanganku dengan memberi pesan.


Aku mengangguk pelan dan tersenyum manis semampuku.


Selama proses melahirkan dengan normal, rasa sakit yang luar biasa hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata. Namun kenyataannya rasa sakit itu hanya diawal saja dan pada akhirnya berganti dengan kenikmatan yang luar biasa. Menikmati kebahagiaan dan anugerah yang Allah berikan yaitu bayi mungil yang begitu lucu dan sehat.


Semua itu butuh kesabaran dan pengorbanan seorang ibu untuk melahirkan bayinya. Apalagi rasa sakit saat melahirkan itu telah dijanjikan bahwa ada pahala yang akan kita dapat. Maka berbahagialah semua wanita di bumi ini.


Sementara, Luis dan bi Tias merasa tidak tenang, ada kekhawatiran yang mereka rasakan. Bi Tias yang tak hentinya merapalkan do'a untukku, sedangkan Luis setiap kali melihat jam ditangannya tak sabaran ingin menantikan seorang keponakan yang sangat dia tunggu-tunggu kehadirannya.


"Kapan selesainya sih, ini sudah terlalu lama. Aku sudah tidak sabar menunggu kabar mereka di dalam. Bagaimana keadaan kakak ipar sekarang? Lalu bayinya, kenapa belum juga menangis? Oh Tuhan, selamatkanlah mereka berdua," ucap Luis sembari berdo'a kemudian mengusap mukanya dengan kasar.


Bi Tias mendekati Luis mencoba menenangkan dia yang sedari tadi mondar-mandir di depan ruang persalinan.


"Sabar, pasti sebentar lagi kita akan mendapat kabar baik, kok. Nona Naya itu wanita yang kuat, pasti mereka berdua akan baik-baik saja. Lebih baik kau duduk dulu," bi Tias meraih lengan Luis dan menuntunnya duduk di kursi.


Oekk, oekk, oekk


Tak lama kemudian suara tangisan bayi pun terdengar nyaring dari ruang persalinan hingga ke luar ruangan di mana Luis dan bi Tias berada.

__ADS_1


"Bi, bukankah itu tangisan bayi? Apakah kakak ipar sudah melahirkan?" tanya Luis memastikan pada bi Tias dengan wajah berseri.


Bi Tias mengangguk dan tersenyum bahagia.


"Syukurlah tuan muda Aras sudah mempunyai keluarga yang lengkap sekarang. Semoga trauma di masa kecilnya hilang dengan kehadiran nona Naya dan anaknya," gumam bi Tias dengan mata berkaca-kaca.


Dua hari kemudian, Aku telah pulang di kediaman Ahmet. Begitu banyak sambutan hangat dari para pelayan dan pengawal untuk kedatanganku dan anakku. Bunga hias serta balon hias meramaikan suasana bahagia di sana.


"Selamat datang baby Arka!" sorak serentak mereka dengan suara lantang.


Kami dikaruniai seorang putra yang tampan mirip seperti tuan muda. Sepakat kami memberi nama anak kami yaitu Arka Ahmet. Arka mengambil nama depan kami, Aras dan Kanaya. Ar sendiri berasal dari nama Aras, dan Ka berasal dari nama Kanaya. Sedangka Ahmet adalah nama marga dari suamiku.


Oekk, oekk, oekk


Sontak baby Arka menangis mendengar suara lantang para pelayan dan pengawal tuan muda.


Aku menatap tajam ke arah suamiku dengan kesal saat melihat para pelayan dan pengawal berhamburan pergi begitu saja dan terlihat kecewa di wajahnya. Aku merasa tidak enak dan malu dengan perlakuan suamiku itu.


"Sayang, kau jangan memarahi mereka seperti itu. Mereka susah payah menyambutku dan Arka, jadi kita harus hargai usaha mereka. Kau harus memikirkan perasaan orang lain, dong!" protesku sembari mengingatkan tuan muda.


"Ya, aku tahu. Tapi cara mereka yang salah. Sudahlah jangan membela mereka. Mending kamu tidurin si Arka di kamar, kasihan dia pasti lelah," ujar tuan muda dengan merangkulku berjalan bersama menuju kamar atas.


Satu minggu kemudian, Luis datang di kediaman Ahmet dan tak tanggung-tanggung dia membawakan banyak sekali mainan untuk Arka dengan paket yang dibawa dengan mobil box.


"Astaga, Luis ... apa kau mau berjualan di sini? Kenapa kau banyak sekali membawa mainan ke rumahku?" tuan muda menggelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu.

__ADS_1


"Semua ini mainan untuk Arka. Sengaja aku membelikan untuknya karena mungkin aku akan lama kembali ke Jakarta. Lusa aku akan pulang ke Italia, cutiku sudah habis," ujar Luis memberitahu.


"Tapi Arka masih kecil, sedangkan kau membelikan mobil mainan ini untuk anak usia 2 tahun."


"Biarkan saja, yang penting aku senang membelikan mainan ini semua untuk Arka."


Sambil menggendong baby Arka, Aku hanya menatap kagum melihat barang-barang pemberian Luis yang dibawa masuk ke dalam rumah seperti barang pindahan.


"Ini terlalu berlebihan Luis, tapi aku akui kau begitu sayang pada Arka, bukan?" tanyaku dengan memastikan ketulusan Luis.


"Iya dong, Arka keponakanku dari Kak Aras, aku bangga menjadi pamannya," ucap Luis sambil mengusap lembut pipi gembul baby Arka.


Tuan muda diam-diam tertawa kecil melihat Luis begitu menyayangi anaknya, Arka.


"Selama aku tidak ada di Jakarta, tolong ingatkan dia tentangku. Nanti jika aku libur panjang, aku akan kembali ke sini dan bermain dengan Arka. Aku akan mengajarinya banyak hal pada Arka."


"Banyak hal? Asal jangan kau ajarkan anakku menjadi seorang gangster!" ujar tuan muda melotot ke arah Luis.


"Bukan seorang gangster, tapi seorang mafia kelas atas, hahaha!" Tawa Luis mengusili kakaknya.


Tuan muda memasang muka tajam pada Luis sehingga Luis pun berlari dari sang kakak.


"Hei, kau awas saja jika mengajari anakku yang aneh-aneh!" Tuan muda mengejar Luis kemanapun adiknya berlari.


Aku tersenyum melihat tingkah dua saudara yang begitu konyol. Rumah terasa hidup kembali jika tuan muda dan Luis berkumpul bersama-sama.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2