Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Memanas-manasi


__ADS_3

Satu bulan kemudian, hari-hari yang telah dilalui oleh tuan muda Aras denganku begitu sangat bahagia, tapi tidak dengan Luis. Tuan muda belum sepenuhnya menerima Luis sebagai saudaranya. Aku yakin, suatu saat nanti tuan muda pasti akan menganggap Luis sebagai adiknya, seperti diriku yang sudah sepenuhnya dianggap oleh suamiku sebagai istrinya.


Malam itu, saat Aku dan tuan muda sedang santai di ruang keluarga untuk menonton TV, Luis yang sekarang sudah terbiasa masuk tanpa izin di kediaman Ahmet sering bolak-balik mendatangi kakaknya, tuan muda Aras.


Luis tak akan pernah menyerah, selalu saja mengambil perhatian dari tuan muda agar dianggap sebagai adiknya. Tapi tuan muda selalu cuek dan bergaya biasa saja tanpa bertegur sapa dengan Luis. Dia tak mau memulai, bisa jadi dia sangat gensi untuk bercakap-cakap dengan Luis.


"Hai, kakak ipar malam ini kau terlihat cantik sekali apalagi tubuhmu sekarang cukup berisi dan sangat seksi," ucap Luis yang ikut bergabung dan mengambil tempat duduk di sebelahku.


"Aku memang cantik kok tapi bukan malam ini saja tapi aku cantik setiap hari, dan tubuhku memang seksi sebelum menikah dengan suamiku," ucapku percaya diri.


Tuan muda yang mendengar perkataanku menjawab pertanyaan Luis hanya diam saja dan tidak merespon apa-apa seolah suaraku dan Luis tidak berpengaruh pada tuan muda Aras. Tuan muda begitu cuek dan dingin.


"Kakak ipar, kapan aku mendapat keponakan? Bukankah kau cukup lama menjadi istri kakakku?" tanya Luis tanpa berpikir dahulu.


Deg


Aku dan juga suamiku kaget atas pertanyaan Luis yang tiba-tiba membuat suasana menjadi hening dan canggung. Aku yakin tuan muda pasti kesal.


"Bisa tidak kau diam saja, Luis? Jika kau selalu mengoceh lebih baik kau pergi dari sini," kata tuan muda menatap Luis tajam.


"Aku kan hanya bertanya saja. Apa tidak boleh?" tanya Luis membantah.


Luis berpikir sejenak, kemudian muncul ide untuk melakukan aksinya. Luis seakan tahu jika kakaknya itu belum pernah melakukan kewajibannya terhadap istri layaknya pasangan suami istri lainnya diluaran sana.

__ADS_1


"Apa kalian berdua belum melakukannya?" tanya Luis dengan lantang.


"Hei, kecilkan suaramu!" bentak tuan muda.


Tuan muda menjadi salah tingkah, begitu juga dengan Aku sembari berpura-pura menonton TV di hadapanku.


"Ayolah, kalian berdua ini payah sekali. Apalagi kau, Brother. Kau ini seorang pria perkasa, masa begitu saja belum pernah melakukan dengan istri sendiri," umpat Luis dengan ucapannya yang membuat tuan muda menatapku malu.


"Aku yakin di antara kalian sudah tidak ada kebencian lagi, bukan? Lalu kenapa harus menunda-nunda melakukan kenikmatan seperti surga dunia? Apa kalian tidak pernah bosan dengan hidup kalian tanpa adanya kenikmatan itu?" tanya Luis tiada henti.


"Cukup Luis!" ucapku yang langsung bangkit yang diiringi rasa kesal.


"Kau jangan tanya padaku. Tanyakan saja pada kakakmu itu," Aku marah menatap Luis dan beralih menatap suamiku bergantian.


"Kau lihat sendiri, Brother. Kakak ipar marah dan pergi meninggalkan kita di sini. Pasti dia sedang menangis dan hatinya pasti terluka," ujar Luis memanas-manasi tuan muda.


"Aku memang masih sangat muda dan belum berpengalaman, tapi aku mengetahuinya dari teman-temanku. Kau tidak bisa hanya menjadikan istrimu sebagai wanita biasa, tapi kau harus menjadikan istrimu itu sebagai wanita sempurna seutuhnya dengan cara kau hamili dia," ujar Luis kembali.


"Kau...," ucap tuan muda menggantung karena dipotong langsung oleh Luis.


"Hei tenang dulu, Brother. Aku berkata benar, loh. Jika kakak ipar hamil anakmu maka kau akan mendapat keturunan, benar kan? Jadi jangan menundanya lagi," kata Luis menjelaskan dengan sangat santai.


Tuan muda mulai berpikir dan sedikit ada rasa tidak tenang, dia merasa menyesal dan berdosa padaku, istrinya. Entah kenapa saat dia dalam suasana baik, dia masih ragu untuk melaksanakan kewajibannya, sedangkan jika dia dalam keadaan mabuk atau marah maka ada hasrat yang ingin dia keluarkan padaku, istrinya.

__ADS_1


Tapi memang Aku akui jika tuan muda bisa mengontrol nafsunya jika dalam keadaan seperti itu, maka dia akan langsung pergi menjauhiku agar Aku tak terluka.


Luis kembali untuk memanas-manasi tuan muda dengan perkataan-perkataan yang membuat hati kakaknya itu bergejolak sekaligus membantunya, karena menurutnya dengan aksi perhatiannya itu Luis berharap diakui oleh tuan muda menjadi adiknya. Luis sungguh licik, bukan? Tapi selama itu baik, maka dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.


"Hei, Brother ... kau tidak ingin kakak ipar pergi darimu, kan? Kau harus selalu membuat kakak ipar bahagia dan jangan sampai kakak ipar beralih ke hati yang lain. Aku takut jika kakak ipar masih mencintai mantannya, emm ... si Niko asisten pribadimu dulu, benar kan?" kata Luis yang membuat tuan muda berapi-api.


Tuan muda mengepalkan tangannya kesal karena mengingat kak Niko yang mungkin saja masih mencintaiku, pikirnya. Kali ini ucapan Luis ada benarnya, ucapan Luis membuat tuan muda tak ingin berlama-lama larut dalam kehidupan masa lalunya yang mengingatkan dia tentang pengkhianatan mama Laura.


"Oh ya, Brother ... bukankah Niko akan kembali ke Jakarta beberapa hari lagi? Aku dengar sih dia kembali karena urusan penting dengan keluarganya. Jadi buatlah kakak ipar bahagia sehingga dia bisa melupakan Niko sepenuhnya," ujar Luis mengingatkan dengan mengatakan kedatangan Niko yang akan kembali ke Indonesia.


Luis menyeringai puas telah memancing tuan muda untuk mendapatkan nilai plus baginya. Sedangkan tuan muda, hati dan pikirannya mulai kusut, ada rasa takut juga was-was jika Niko datang kembali.


"Aku harus bertindak tegas dan membuat Naya bahagia. Aku tidak akan membiarkan Naya bersatu kembali dengan Niko, tidak akan pernah," batin tuan muda setenang mungkin.


"Bro, kau itu pria sejati. Buktikan bahwa kau bukan seorang pengecut, kecuali jika kau bukan pria normal," ucap Luis dengan asal bicara.


Tuan muda mengalihkan pandangannya pada Luis. Dia marah saat Luis seolah menyinggungnya.


"Hei, jangan sembarangan kamu ngomong. Aku ini pria normal. Sudah, sana pulanglah ke apartemenmu. Jangan selalu keluar masuk ke rumah ini seenaknya!"


Tuan muda bangkit dan berjalan meninggalkan Luis sendirian di ruangan itu. Luis hanya tersenyum senang melihat kakaknya terpancing oleh semua perkataannya.


"Aku akan berusaha membuatmu bahagia, kak. Aku tahu jika trauma masa lalumu pada mama begitu buruk. Aku juga tahu jika selama ini kau menderita sepertiku. Aku akan menunggu hari itu, hari dimana kau menerimaku menjadi adikmu, kak Aras!" gumam Luis dengan keyakinannya penuh semangat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2