
perutku terasa mual setelah meminum jus apel yang diberi tuan muda. Untung saja dia tidak memaksaku untuk menghabiskan jus itu. Jika seperti itu, maka Aku pastikan akan memuntahkan isi perutku ke baju tuan muda.
"Sudah berhenti, rasanya aku ingin muntah!" pintaku sekuat tenaga menjauhkan jus yang ada di tangan tuan muda dari mulutku.
"Berarti besok saya akan buatkan kamu jus alpukat saja," ucapnya.
"Besok? Kau membuatnya lagi?" tanyaku kaget.
"Iya."
Gawat, kalau begini terus bisa-bisa Aku akan kehilangan ingatan dan depresi selamanya. Perintahnya tidak bisa dibantah dan pasti dia akan memaksakan kehendaknya padaku. Kenapa dia tidak membiarkan Aku bahagia, selalu membuatku menderita. Sungguh pria yang kejam!
Tuan muda meraih nampan yang telah berisi piring dan gelas, kemudian bangkit dari sisi ranjang lalu melangkah pergi dari kamarku.
"Kenapa kau begitu perhatian padaku?" tanyaku membuat langkah tuan muda terhenti.
"Karena kamu istri saya," ucapnya dan melanjutkan kembali langkahnya.
"Bukankah kau membenciku karena harta warisan papamu?" tanyaku kembali dan lagi-lagi menghentikan langkah tuan muda.
Tuan muda berbalik menatapku dan melemparkan senyuman yang seolah dipaksakannya.
"Soal warisan, bagi saya sangat mudah merebutnya dari wanita seperti dirimu," ucapnya dengan santai.
"Kalau begitu, ambil saja bagianku semuanya. Lalu biarkan aku pergi dari sini," pintaku dengan harapan tuan muda mengabulkannya.
"Kalau kamu meminta pergi dari sini, mungkin 1000 kali saya akan memikirkannya. Sulit bukan?" ujarnya menyeringai dengan sorot mata tajam.
"Istirahatlah, dan jangan buat ulah lagi seperti kemarin!" perintah tuan muda mengingatkanku.
Apa dia tidak berpikir bahwa apa yang Aku lakukan kemarin itu semua adalah ulahnya? Kenapa dia menuduhku seolah-olah Aku yang salah? Dasar pria tak berprikemanusiaan.
Tuan muda langsung membalikkan badannya dan kali ini melangkah keluar dari kamarku.
"Ughhh ... dasar sial, menyebalkan!" teriakku sambil menghentak-hentakkan kaki di atas ranjang.
Tak berapa lama kemudian, tuan muda datang kembali ke kamarku dengan membawa botol minum berisi air mineral yang ditaruh di atas nakas.
"Kalau kamu haus, minum ini saja. Saya sengaja membawa minum dengan botol plastik untukmu karena saya takut jika kamu akan nekat bunuh diri lagi. Belum saatnya kamu untuk meninggalkan dunia ini," Tuan muda berdiri menatapku sembari melipatkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Tidak ada kaca rias, tidak ada vas bunga dan tidak ada barang pecah belah di sini. Karena sengaja saya singkirkan untukmu."
"Saya peringatkan, ada dua bodyguard menjaga di pintu kamar ini. Jadi jangan membuat ulah!" ucapnya kembali memerintah.
Aku tidak mempedulikan perkataannya. Aku hanya mengalihkan pandanganku ke arah jendela. Terserah dia mau marah padaku.
Setelah tuan muda keluar dari kamarku, dengan segera Aku meraih botol minum di nakas lalu Aku berjalan ke kamar mandi dan langsung Aku buang air minum dari botol itu.
"Dasar pria gila, bisa-bisanya dia membodohiku. Aku tahu jika di minuman ini ada obat yang berbahaya untukku," umpatku sambil mengingat wajah tuan muda sembari membanting botol minuman yang sudah kosong ke sembarang arah.
Tak lama kemudian Aku begitu merasa mengantuk, padahal sejam yang lalu Aku baru saja terbangun dari tidur, apalagi pukul baru menunjukkan jam 08.00 pagi. Aku juga belum meminum air mineral dari tuan muda Aras, tapi rasanya Aku benar-benar mengantuk.
Sepertinya ada yang tidak beres, pikirku. Atau malah di jus apel itu ada obat yang telah dimasukan oleh tuan muda. Aku pun berjalan menuju ranjang dan lama-kelamaan Aku tertidur di sana dengan pulas.
Di kantor Haras Company. Tuan muda berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah yang gagah dan ada aura wajah dengan senyuman yang tak biasa dia gambarkan selama ini semasa hidupnya. Dulu dia pikir menikah adalah beban untuknya karena traumanya di masa lalu pada seorang wanita, lebih tepatnya wanita yang melahirkannya, begitu membekas diingatannya.
Tuan muda berpikir, dengan adanya wanita maka akan ada malapetaka. Tapi nyatanya diriku adalah mainan baru yang membuatnya seru. Dia benar-benar menahan diriku seperti tahanan yang tidak boleh bebas keluar kapan saja. Menahan fasilitas yang Aku punya. Entah apa yang ada dipikirannya. Sama sekali tidak memikirkan diriku yang tersiksa di rumah besar nan mewahnya.
"Niko, saya ingin kamu ke Istanbul untuk beberapa waktu. Kamu harus menangani perusahaan pusat di sana, sementara saya menangani perusahaan di sini," menatap kak Niko yang berdiri di hadapannya dengan serius.
"Tuan yakin mengutus saya ke sana? Bukankah selama ini Tuan mengu...," ucap kak Niko yang belum terselesaikan tetapi langsung dipotong oleh tuan muda.
Sejenak kak Niko terdiam dan menganggukan kepalanya pelan.
"Baiklah, kapan saya berangkat ke sana, Tuan?" tanya kak Niko dengan suara sedikit berat.
"Besok, sehabis rapat selesai."
Tuan muda Aras melihat ekspresi kak Niko seolah ada sesuatu yang tersirat dalam benaknya.
"Ada apa? Kamu keberatan meninggalkan Jakarta? Atau ... ada seseorang yang berat untuk kamu tinggalkan? Kanaya mungkin?" tanya tuan muda Aras dengan beberapa pertanyaan yang menyinggung kak Niko.
Sekilas terbesit oleh tuan muda Aras dengan nama Kanaya yang mungkin masih dicintai oleh kak Niko, karena tuan muda Aras masih belum percaya pada perkataan kak Niko yang mengatakan bahwa dia hanya berpura-pura mencintaiku. Tuan muda tidak bisa dibohongi begitu saja.
"Tidak seperti itu, Tuan. Saya malah bersyukur diberikan kepercayaan pada Tuan muda menangani perusahaan besar di sana. Saya akan menjalankan perintah Tuan muda sekaligus almarhum Tuan Halim," jawab kak Niko mengalihkan pertanyaan tuan muda. Sebisa mungkin dia memendam apa yang ada di hati dan pikirannya.
"Bagus, tolong jaga kepercayaan yang saya berikan dan jangan buat saya kecewa."
Tuan muda berharap bahwa kak Niko memang tidak pernah mengkhianatinya.
__ADS_1
Besok paginya, Aku yang sedang berdiri di depan jendela kamar menghirup udara segar, tiba-tiba ada suara seseorang yang membuyarkan kesenanganku.
"Good morning, Naya!" sapa tuan muda mendekatiku.
Aku melirik sekilas dan hanya diam tak menjawab sapaannya.
"Are you ok? Apa kau masih mengingatku?" tanya tuan muda membalikkan tubuhku ke hadapannya.
"Ih, apaan sih kamu!" Aku menepis tangannya dari bahuku.
"Saya kira kamu sakit dan menganggap saya orang lain lagi," ucapnya sambil menatap diriku.
"DAN KAMU ADALAH ORANG YANG SUDAH BUAT AKU SAKIT," Aku menatap tuan muda tajam dengan menekan kata-kata itu.
Sejenak dia terdiam, lalu tuan muda membuka suaranya kembali saat dia telah duduk di sisi ranjangku.
"Turunlah ke bawah satu jam lagi. Kita sarapan bersama," pinta tuan muda dengan tiba-tiba.
Aku pun menoleh ke arah tuan muda.
"Bukannya kamu nggak mau makan satu meja sama Aku?" tanyaku ketus.
"Ya, karena jika kita berdua pasti akan canggung. Untuk hari ini kita makan bertiga. Ada tamu spesial yang akan datang."
"Siapa?" tanyaku menatap tuan muda penasaran.
Tuan muda bangkit dan perlahan berjalan ke arahku semakin dekat lalu memegang kedua bahuku, mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Mantan kamu, alias Niko. Sengaja saya mengajaknya sarapan di sini karena siang nanti dia akan berangkat ke Istanbul," bisik tuan muda bersuara lembut membuat diriku sedikit menegang dan kaget mendengar nama kak Niko.
Tuan muda kembali menatap wajahku ke depan dengan seksama.
"Saya menugaskan Niko untuk menangani perusahaan di Istanbul dalam waktu yang cukup lama. Jadi gunakan waktu terakhir kalian sebaik mungkin," ucap tuan muda sambil tersenyum pahit dan berlalu pergi dari kamarku.
Deg
Pergi? Seketika Aku terdiam dan entah kenapa Aku merasa sedih dengan kepergian kak Niko, sosok yang pernah mengisi hatiku dan hari-hariku dulu.
Bersambung....
__ADS_1