
Persaudaraan tidak hanya tentang saudara kandung atau sepupu saja, melainkan sesama teman, sahabat bahkan dengan tetangga. Persaudaraan yang baik pun tidak hanya saling menyayangi tetapi juga saling tolong menolong bahkan di saat saudara yang lain sedang kesusahan dan terluka.
Jangan pula kita ikut membenci dan merendahkan seseorang walau dia dihina oleh orang lain sekalipun. Karena kita sering menilai seseorang dari wajah serta penampilan, sedangkan kita tidak pernah tahu dalam hati setiap masing-masing manusia. Terkadang wajah bisa menipu, kita pun bisa tertipu.
Luis mengerjab-ngerjabkan matanya. Dia terbangun dan bangkit duduk di atas ranjang yang terlihat asing baginya.
"Kau sudah bangun, Luis?" tanya tuan muda yang sedari tadi duduk di kursi sembari menjaga Luis.
Luis tak menyahut, dia malah menatap sekeliling ruangan yang sekarang dia berada.
"Hei, kau mendengarku?" tanya tuan muda untuk kedua kalinya.
"A-aku ada dimana sekarang, Kak?" tanya Luis celingak-celinguk.
"Kita ada di pesawat pribadi milikku."
Tuan muda begitu santai dengan jawabannya, tapi Luis begitu sangat cemas dan mulai berpikir ketakutan.
"Apa? Kau sungguh membawaku pulang ke Italia, Kak?"
Luis bangkit dan berjalan menuju tuan muda yang sedang duduk di kursi.
"Kak, aku mohon jangan biarkan aku kembali kesana? Aku benci tempat itu. Bukankah kau berjanji akan menjagaku? Lalu kenapa kau hancurkan kepercayaanku padamu, Kak? Ternyata semua orang sama saja. Tidak ada yang peduli padaku!" kata Luis dengan lirih, ada rasa kekecewaan yang terlihat dari wajahnya.
Tuan muda merasa sedih melihat Luis yang seakan matanya berkaca-kaca.
"Hei, dasar anak nakal. Kau janji akan membanggakan kakakmu ini, mana buktinya. Kau malah membuat ulah dan lari dari tanggung jawabmu. Aku marah padamu," ujar tuan muda dengan santai seolah meminta penjelasan.
"Aku terpaksa melakukannya karena sikap Marcel semakin hari semakin membuatku terluka. Dia menghinaku bahkan memarahiku habis-habisan di depan semua karyawan dengan alasan yang tidak jelas," ucap Luis berkata dengan sejujurnya.
"Tapi tetap kau salah telah memukul Marcel hingga dia mengalami cidera yang cukup parah," protes tuan muda keras.
"Dia yang mulai duluan, Kak. Aku tidak mau harga diriku diinjak-iijak olehnya. Jadi aku harus kasih dia pelajaran," bantah Luis tak mau kalah.
Tuan muda memijit keningnya yang tidak sakit. Dia benar-benar pusing menghadapi Luis yang masih berjiwa muda itu.
"Kau harus minta maaf pada Marcel," tegas tuan muda.
"What? No no no never. Aku nggak sudi minta maaf padanya. Dia yang salah!" Luis ngotot membantah.
__ADS_1
Luis merasa kesal dan tidak tenang, dia mengacak-acak rambutnya kasar.
"Jika kau masih mau aku anggap sebagai adikku, maka turuti perintahku!" pinta tuan muda tak bisa dibantah.
Luis menatap lekat wajah kakaknya itu. Ada rasa takut menyelimuti dirinya dan tunduk pada tuan muda Aras.
"Kau jahat, Kak. Lebih peduli pada Marcel dibanding aku!" ujar Luis dengan amarahnya.
Luis menjatuhkan dirinya di kursi dengan kasar lalu melihat pemandangan dari jendela pesawat dengan wajah kusut.
Tuan muda hanya bisa menghela nafasnya dan membiarkan Luis menyendiri dengan kemarahannya.
Keesokan harinya, tuan muda dan Luis beserta dua bodyguard kepercayaan tuan muda telah berada di rumah sakit tempat Marcel dirawat. Semua keluarga Vettori menatap Luis dengan pandangan kebencian. Sedangkan Luis yang berada di samping tuan muda dengan menggengam tangannya kuat menahan amarah sejak menatap wajah Marcel tiada henti.
"Sudah puas kau membuatku cidera seperti ini? Gara-gara kamu, pekerjaanku jadi terhambat. Kau senang kan melihatku hanya terbaring di ranjang, hah!" ucap Marcel yang ingin rasanya dia membalas perbuatan Luis padanya.
Luis hanya diam tapi sorot matanya mengarah ke Marcel dengan dendam yang masih membara.
"Beruntung kau masih hidup. Aku bahkan ingin membunuhmu!" Luis menekan ucapannya, membuat semua orang di dalam ruangan itu kaget.
Seketika ayah dari Marcel yang merupakan paman Luis mendekati Luis dan menamparnya.
Luis geram dan ingin rasanya dia membalas tamparan dari pamannya itu tapi dia menahannya.
"Anak kurang ajar! Bukannya minta maaf tapi kamu malah ingin membunuh anakku. Kelakuanmu sudah menunjukkan bahwa kau memang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Vettori," ucap tuan Marco Vettori yang menyinggung Luis.
Mata Luis memerah dan berkaca-kaca, hatinya sakit mendengar ucapan pamannya itu.
Tuan muda Aras begitu sedih melihat Luis dihina di depan matanya.
"Luis, pergilah keluar. Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya!" pinta tuan muda agar suasana tidak semakin memanas.
Luis pun keluar meninggalkan ruangan itu, lalu Luis memukul-mukul dinding sebagai pelampiasan.
Tuan muda Aras berbicara empat mata dengan keluarga Vettori sebagaimana dia membahas soal Luis sebagai wali dengan jaminannya.
Setelah selesai urusan dengan keluarga Vettori, tuan muda dan Luis beserta bodyguard menuju hotel kembali untuk bermalam di sana.
"Besok siang kita pulang ke Indonesia," ujar tuan muda pada Luis ketika mereka baru saja memasuki kamar hotel.
__ADS_1
"Benarkah? Apa urusan di sini sudah selesai?" tanya Luis memastikan.
"Semuanya sudah beres, tapi kau tidak bisa kembali bekerja di Phoebus Company lagi."
"Tidak masalah, bahkan aku senang tidak bertemu lagi dengan keluarga parasit itu."
Luis memeluk tuan muda senang, setidaknya dia sedikit tenang karena tidak akan mendapat hinaan dan cacian dari keluarga ayahnya lagi.
"Ada satu lagi, ini masalah saham kamu di Phoebus Company. Kamu harus menjual saham kamu padaku," ujar tuan muda menatap Luis serius. Luis pun merenggangkan pelukannya.
Sejenak Luis berpikir.
"Oh ya? Baiklah, dengan senang hati. Terima kasih ya, Kak. Tapi kau harus membelinya dengan harga yang tinggi, ya?" ucap Luis dengan candanya.
Tuan muda kaget dan mengernyit menggelengkan kepalanya.
"Hei, kau seperti kacang lupa kulitnya, ya. Aku sudah membantu meloloskan kamu dari penjara, sekarang kau ingin aku membeli sahammu dengan harga tinggi? No way, kalau begitu aku akan batalkan jaminanku sebagai wali untuk kamu, biarkan saja kamu di penjara," Tuan muda meraih ponselnya hendak mendial nomor seseorang.
Niat Luis hanya bercanda pada kakaknya, tapi nyatanya tuan muda membalas candaan Luis yang membuat adiknya itu ketakutan hebat.
"Eh, eh jangan dong, Kak! I am just kidding. Mana mungkin aku melakukan itu pada Kak Aras yang baik hati," Luis tersenyum hendak merampas ponsel tuan muda, tapi nyatanya Luis gagal mendapatkannya.
Tuan muda berjalan menjauhi Luis.
"Hallo, Tuan Marco Vettori...," ucap tuan muda mengelabui Luis. Tuan muda menyeringai puas menjahili Luis.
Akhirnya Luis dengan cepat merampas ponsel milik tuan muda.
"Kakak hentikan!" teriak Luis.
Luis melihat layar ponsel tuan muda yang ternyata layarnya mati dan tidak ada riwayat panggilan keluar untuk Marco Vettori. Luis tahu jika tuan muda sedang menjahilinya.
"Wahhh kau membohongiku, Kak!" ujar Luis dengan lega tapi begitu kesal pada tuan muda.
"Hahaha ... kau tertipu, Luis!" tawa tuan muda terpingkal-pingkal.
Tuan muda berlari ke ranjang, kemudian di susul oleh Luis yang membalas kejahilan kakaknya itu. Mereka saling memukul dengan bantal yang dipenuhi keceriaan dan tawa bahagia.
Persaudaraan tidak memandang dari status yang dia punya atau jabatan tinggi yang membuatnya dipuja-puja orang. Persaudaraan harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain agar terjalin hidup rukun, damai dan tentram.
__ADS_1
Bersambung....