
Lengkap sudah kebahagiaan baru di keluargaku dan tuan muda Aras. Kini kami bukan hanya bertiga dengan Arka, melainkan ada anggota baru yang akan menemani hari-hari kami di rumah. Luis sudah kembali bersama tuan muda setelah kepulangan mereka dari Italia.
Luis memantapkan hatinya untuk tinggal di Indonesia bersama kakaknya tercinta. Luis pun sekarang bekerja di kantor milik suamiku. Walaupun Luis tinggal di apartemen miliknya sendiri di jakarta, dia hampir setiap hari datang ke rumah hanya untuk bermain bersama Arka hingga malam dan terkadang dia menginap di rumah.
Dan tak terasa 2 tahun berlalu, kini Arka sudah berusia 4 tahun, dia sangat menggemaskan dengan badannya yang gembul seakan jika Arka berjalan maka pinggulnya akan bergoyang-goyang ke kanan dan kiri, lucu sekali.
"Dor, dor, dor ... nanti kalau Arka sudah besar, Arka ingin menjadi seorang penembak, Pa!" Arka berlarian dan mengangkat pistol mainannya ke arah tuan muda yang sedang duduk di taman bersama diriku.
"Penembak? Arka ingin menjadi seorang polisi?" tanya tuan muda.
"No Papa!"
"Lalu, apa dong?" tanya tuan muda lagi.
"Itu, seperti di film yang suka membunuh para musuh!" ujar Arka dengan lantang.
"Oh, Arka mau jadi tentara."
"No Papa!" Arka terlihat kesal.
"Loh, jadi apa dong?" tuan muda bingung.
Tuan muda mengalihkan padangan matanya ke arahku. Aku pun hanya mengedik bahu.
"Arka mau jadi apa, sayang? Coba katakan pada Mama!" kali ini Aku yang bertanya pada Arka.
"Itu Ma, orang yang selalu berpakaian hitam seperti pengawalnya Papa. Tapi yang ini lebih keren, nanti Arka bertarung melawan musuh dan menembaki musuh hingga tewas, seperti super hero!" ucap Arka memperagakan pistolnya seperti seorang penembak kesana kemari dengan lincah.
"Ya apa namanya, sayang?" tanya tuan muda penasaran.
Arka yang mungkin lupa, dia mencoba mengingat-ingat dengan gaya jari telunjuknya dia letakan di keningnya sembari berpikir. Kalau dilihat-lihat, lucu sekali si Arka ini. Sungguh menggemaskan.
"Mafia keren, ya nggak Arka?" Luis menjawab apa yang tengah dipikirkan oleh Arka.
Semua pasang mata tertuju pada Luis terutama Arka beralih ke arah Luis yang datang tiba-tiba kemudian Luis langsung menggendong Arka.
"Yeayyy, Om Luis!" Arka tertawa senang.
__ADS_1
"Tos dulu dong!" ujar Luis mengangkat tangannya ke arah Arka yang tak lama membalasnya.
Aku dan suamiku terpaku melihat Luis dan Arka yang menjadi pusat perhatian bagi kami.
"Oh jadi ini ulah kamu Luis? Lagi-lagi kamu mengajari Arka yang tidak benar, kan?" tuan muda menggelengkan kepalanya kesal pada Luis.
"Hahaha, biarkan saja. Lagian Arka juga masih anak kecil, belum mengerti apa-apa. Jika Arka sudah besar nanti, pasti keinginannya akan berubah!" protes Luis dengan santai.
Arka hanya tertawa, masa bodoh dengan papa dan pamannya membicarakan apa, Arka tidak peduli.
Bukannya ketakutan, Arka malah tertawa geli saat papanya melotot ke arah dirinya.
"Ayo sekarang kita main perang-perangan di taman, sayang. Let's go!" Luis membawa Arka berjalan hendak menuju taman.
"Hei, Luis jangan ajari Arka yang buruk-buruk!" teriak tuan muda mengingatkan.
Tuan muda mendengus kesal, aku tahu jika dia mencemaskan Arka. Melarang Luis untuk tidak bermain bersama Arka adalah hal yang tidak wajar.
"Biarkan saja, toh mereka hanya bersenang-senang. Luis tidak akan bisa mempengaruhi Arka dengan buruk selama masih ada aku, ibunya!" Aku meraih kedua tangan suamiku meyakinkannya.
Perlakuan suamiku ini begitu hangat hingga aku selalu dibuat nyaman olehnya. Aku senang jika bujukanku cepat meluluhkan hatinya. Aku menyukai tuan muda yang sekarang ini.
Malam pun tiba, Aku dan tuan muda sedang menunggu kehadiran seorang tamu spesial. Semenjak kami mempunyai Arka, tidak ada lagi kecemburuan yang meliputi suamiku terutama terhadap kak Niko. Bahkan tuan muda pun sudah tidak menaruh kecurigaan lagi padaku ataupun pada kak Niko jika kami mengobrol.
Apalagi sekarang ini, tuan muda sengaja menyambut kedatangan kak Niko untuk makan malam bersama di kediaman Ahmet dalam pengangkatan jabatan untuk pekerja seperti kak Niko. Laki-laki yang setia memegang amanah dari almarhum tuan halim.
Aku tak menyangka jika suamiku ini benar-benar melakukan kejutan yang membuatku dan kak Niko senang. Seharusnya memang dari dulu sejak tuan Halim masih hidup, kak Niko akan mendapatkan tempat yang layak di perusahaan Haras Company.
Tapi berhubung karena tuan muda yang meneruskan kedudukan tuan Halim, maka jabatan untuk kak Niko ditunda setelah kecemburuan tuan muda mereda. Dan baru sekarang barulah kak Niko dinaikan jabatan oleh tuan muda.
Namun ada hal yang lebih mengejutkan yaitu, saat kak Niko mengumumkan dirinya akan segera menikah, betapa bahagianya Aku, itu berarti tuan muda tidak akan berpikiran buruk lagi mengenai diriku dan kak Niko.
"Aku serahkan kedudukan Haras Company di sini padamu, Niko. Karena aku akan melanjutkan tugas papaku di Turki dengan membawa Naya dan Arka. Tolong jangan kecewakan aku, Niko!" tuan muda membicarakan kembali tentang penyerahan kedudukannya pada kak Niko.
Ya, tuan muda akan membawaku dan Arka tinggal di Turki. Salah satu tempat yang ingin sekali Aku kunjungi dari dulu, dan akhirnya kesampaian juga. Sungguh Allah memberikan hadiah terindahnya di waktu yang tak disangka-sangka.
Aku beralih menatap ke arah kak Niko yang akan menjawab ucapan suamiku.
__ADS_1
"Saya akan menjaga apa yang telah Tuan percayakan pada saya. Saya janji akan menjalankan perusahaan disini dengan baik," ujar kak Niko penuh percaya diri dengan tulus.
Kini giliranku memberikan ucapan bahagia untuk kak Niko yang berada tepat di hadapanku.
"Selamat untukmu Kak Niko, atas kenaikan jabatanmu di Haras Company, semoga kau menjalankan amanah dengan baik. Dan selamat melepas masa lajangmu menuju halal, kelak rumah tanggamu sakinah, mawaddah, warahmah," kataku dengan tulus dan penuh harap.
Kak Niko menatapku dengan senyuman manisnya yang paling Aku suka melihatnya dari dulu.
"Terima kasih untuk kalian semua. Aku juga mendo'akan kalian selalu agar rumah tangga kalian dipenuhi dengan kebahagiaan dan kenikmatan dari Allah, dan kelak kalian pasangan dunia akhirat," kak Niko mendo'akan Aku dan tuan muda Aras dengan do'a terbaik darinya.
"Aamiin," sahutku dan tuan muda bersamaan.
Semua keresahan, kebencian, penghinaan dan penderitaan telah Aku dan tuan muda lewati bersama. Hingga pada akhirnya hatiku berlabuh pada suamiku yang merupakan lelaki yang dulu Aku benci begitu pula dengan dia.
Tanpa terasa, tuan muda telah melabuhkan hatinya padaku. Dia tulus mencintaiku begitu pula diriku yang mencintainya.
"Naya, i love you!" Tuan muda memelukku lalu mencium bibirku.
"I love you more," balasku mencium bibirnya pula.
"I love you, Mama Papa!" ujar Arka yang ikut mengucapkan kata cinta untukku dan suamiku. Entah kapan dia terbangun, kami tak menyadarinya.
Aku dan tuan muda Aras menoleh pada Arka yang tengah duduk di ranjang, lalu kami mendekatinya.
"I love you, Arka!" ucapku dengan tuan muda bersamaan kemudian kami mencium pipi Arka di masing-masing kanan dan kiri.
Kami pun tertawa bersama penuh kehangatan dan kebahagiaan.
Nyatanya, membangun sebuah rumah tangga penuh cinta yang sesungguhnya itu sederhana. Rasa kepedulian dan kebersamaan, memaafkan kesalahan orang lain dan tidak mengusik kehidupan orang lain, maka hidup kita akan bahagia, nyaman dan damai.
TAMAT
*Hai readers semua, terima kasih sudah mampir dan membaca novelku sampai tamat. Maaf ya jika ceritanya kurang menghibur, maklum namanya juga manusia tidak ada yang sempurna, hehehe.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak.
Semoga kesehatan dan kenikmatan selalu menyertai kalian semua.
__ADS_1