
Aku harus kuat agar bisa membalas semua perbuatan orang-orang yang sudah berani bermain denganku. Menipuku dan berpura-pura baik padaku seolah-olah Aku adalah orang bodoh yang mempercayai mereka dengan perkataan manisnya. Pada akhirnya membuat hatiku hancur dan terluka.
Aku memasuki kamarku dengan penuh rasa emosi hingga Aku meraih gelas yang ada di nakas lalu aku lemparkan ke lantai.
Pranggg
Ya, beginilah nasib hatiku bagai serpihan-serpihan gelas yang telah kulempar menjadi beribu-ribu pecahannya.
Aku mengamuk dan menjerit sejadi-jadinya hingga terdengar sampai di telinga semua penghuni rumah karena memang sengaja pintu kamarku tidak kututup rapat agar mereka mengetahui jeritanku.
Tuan muda Aras, kak Niko dan bi Tias langsung bergegas ke kamarku. Sebelum mereka masuk ke kamarku, Aku meraih pecahan gelas di tangan kananku lalu Aku berpura-pura untuk menyayat pergelangan tangan kiriku sembari menangis histeris.
"Nayaaa!" teriak tuan muda dan kak Niko bersamaan dengan panik.
"Ya Allah, Non Naya!" cemas bi Tias dengan lirih.
"Naya, apa yang kamu lakukan? Itu akan melukai dirimu, Naya. Sini, berikan pecahan gelas itu pada saya!" bentak tuan muda meminta.
Tuan muda mendekatiku perlahan sambil mengulurkan tangannya hendak meraih pecahan gelas di tanganku.
"Jangan mendekat atau Aku akan melukai tanganku sekarang!" Aku hendak melukai tanganku dan Aku berharap siapapun bisa menghentikan kelakuan konyolku ini.
Tak disangka, dengan berani tuan muda Aras menahan kedua tanganku dengan kedua tangannya.
"Niko tolong bantu saya. Pegang tangan Naya, saya akan mengambil pecahan gelasnya," perintah tuan muda pada kak Niko.
"Baik Tuan."
Kak Niko memegang tanganku, lalu tuan muda beralih mengambil pecahan gelas di tanganku tapi Aku menahannya dengan kuat sehingga tanpa sengaja Aku melukai telapak tangan tuan muda.
"Aghhh!" tuan muda mengadu kesakitan.
Aku pun langsung melepaskan pecahan gelas itu ke lantai dengan penyesalan.
"Tuan berdarah," panik bi Tias.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bi. Ini luka kecil," ujar tuan muda dengan tenang.
Tuan muda memegang tanganku kembali lalu menatapku dan mengatakan sesuatu.
"Nay, dengarkan saya. Ini berbahaya. Kamu tidak boleh menyakiti diri kamu sendiri. Jika kamu melakukan ini lagi, saya akan mengikat tangan kamu, mengerti?"
Tuan muda mengancamku dengan tegas tetapi suaranya bernada sedikit lembut dan tidak kasar.
"Aku merindukan ibu dan ayah. Aku ingin pulang. Tolong biarkan aku bertemu dengan ibu dan ayah, hiks... hiks...," Aku terpaksa berbohong dan menangis meminta sesuatu dengan alasan yang membuat mereka terdiam.
Perlahan kak Niko melepaskan tanganku. Dia bingung dengan sikap dan permintaanku yang menurutnya aneh dan tak masuk akal. Kak Niko melirik tuan muda Aras seakan bertanya-tanya.
Sedangkan tuan muda Aras meraih wajahku dan berbicara padaku sedangkan kak Niko hanya melihat dengan perasaan serba salah.
"Nay, dengarkan saya. Kita akan bertemu ibu dan ayah, tapi nanti ya. Kamu harus sabar karena nggak mungkin kamu bertemu ibu dan ayah dalam kondisi kamu seperti ini, paham kan?" bujuk tuan muda Aras padaku dengan sangat lembut. Aku hanya tertawa dalam hati. Andai mereka tahu bahwa Aku saat ini sedang membuat drama pada mereka, hahaha.
"Kamu nggak bohong, kan?" tanyaku pada tuan muda.
"Saya janji," jawab tuan muda meyakinkanku.
Aku tersenyum dan memeluknya di depan kak Niko tanpa peduli perasaan mantan kekasihku itu. Biarkan saja, lagi pula dia selama ini hanya berpura-pura mencintaiku.
Tuan muda bangkit hendak keluar kamar tapi sebelumnya menitipkan Aku pada bi Tias.
"Bi, tolong jaga Naya sebentar. Tenangkan dia!" pinta tuan muda pada bi Tias.
"Baik Tuan."
Tuan muda Aras berjalan keluar kamarku disusul oleh kak Niko yang sesekali melihat ke arahku dengan raut muka kesedihannya. Aku tahu jika kak Niko tidak tega melihatku menderita.
"Tuan, ada apa dengan nona Naya? Kenapa dia menanyakan ibu dan ayahnya? Seolah-olah dia lupa akan...," tanya kak Niko yang belum sempat diselesaikanya malah dipotong oleh tuan muda Aras begitu saja, sembari mengobati luka di tangan tuan muda.
"Dia hanya rindu pada kedua orang tuanya, makanya dia sehisteris seperti itu. Jangan dipikirkan, Naya tidak apa-apa," sangkal tuan muda beralasan.
"Apa kau mencemaskan Naya?" tanya tuan muda menambahkan.
__ADS_1
"Emm, saya hanya ... bingung saja, karena setahu saya bahwa Naya sudah ikhlas dengan kepergian kedua orang tuanya," ujar kak Niko heran dan bertanya-tanya.
"Sama saja kau mencemaskannya!" tegas tuan muda melirik kak Niko tajam.
Satu jam kemudian, setelah Aku berpura-pura tidur di ranjang, bi Tias mengendap-endap berjalan keluar kamarku hendak memanggil tuan muda Aras.
"Huh, melelahkan sekali rasanya. Aku harus menangis histeris mencoba bunuh diri. Peranku hebat, bukan? hahaha!" gumamku penuh kemenangan.
Lalu kira-kira drama apa lagi yang akan Aku mainkan setelah ini? Aku bosan bila tidak melakukan apa-apa untuk tuan muda kejam itu beserta sekretarisnya si penipu itu, siapa lagi kalau bukan kak Niko, mantan pacarku. Tapi kak Niko masih punya hati dibanding tuannya yang tak lain suamiku sendiri.
Emm ... sepertinya Aku sudah menemukan ide lagi. Aku akan bermain-main dengan mereka dan membuat mereka kebingungan.
Dan untuk kak Niko, Aku akan membuat hatimu terluka sama seperti apa yang aku rasakan saat ini. Aku pun tidak tahu akan bagaimana setelah ini jika Aku berhadapan dengan kak Niko.
Tak lama kemudian, Tuan muda dan bi Tias perlahan kembali memasuki kamarku dan mendekatiku. Aku pun kembali berpura-pura tidur.
"Tuan, apa sebaiknya kita hentikan saja menggunakan obat depresi itu pada non Naya?" keluh bi Tias.
"Kasihan non Naya menderita. Bibi nggak tega melihatnya melukai dirinya sendiri," lanjut bi Tias menyampaikan pada tuan muda.
Bi Tias menatap tuan muda Aras yang sedang meliriknya sekilas setelah mendengar nasihat dari wanita yang telah mengabdi berpuluh-puluh tahun di keluarga Ahmet.
"Ya sudah, Bibi hentikan saja tugas Bibi. Biar Naya menjadi urusan Aras nanti," kata tuan muda lalu beranjak pergi dari kamarku.
Bi Tias mencoba menghentikan langkah tuan muda Aras.
"Jangan bertindak macam-macam lagi pada non Naya, Tuan. Kasihanilah non Naya!" pinta bi Tias sedikit keras ke arah tuan muda.
Tuan muda tampak acuh dan tak peduli perkataan bi Tias hingga dia keluar dari kamarku begitu saja.
"Semoga tuan muda sadar setelah melihat kejadian nona Naya hari ini," bi Tias berharap dengan lirih.
Ternyata, diluar kamarku ada seseorang yang menguping pembicaraan tuan muda dan bi Tias secara diam-diam di balik pintu. Siapa lagi kalau bukan kak Niko. Dia cepat-cepat berjalan menuruni tangga saat tuan muda berbalik dan hendak keluar dari kamarku, agar dia tak ketahuan oleh tuan mudanya.
"Jadi kelakuan Naya berubah itu karena obat yang membuatnya lupa ingatan dan depresi. Kenapa tuan muda dengan kejam melakukan itu semua pada Naya? Apa tujuannya?" gumam kak Niko dengan kesal sembari memukul-mukul setir mobilnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nay. Kamu sangat menderita setelah menikah dengan tuan muda Aras. Baru kusadari bahwa wanita sebaik dirimu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Ahmet. Maafkan aku, Naya!" ucap kak Niko merasa bersalah, kemudian dia melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah keluarga Ahmet dengan membawa penyesalan.
Bersambung....