Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Pria Asing


__ADS_3

Aku bingung kenapa tidak ada pengawalan untukku yang biasanya bodyguard suamiku selalu mengawasiku setiap saat dan kapan saja jika Aku ke luar dari kamar.


"Hei cantik, berhentiiii."


Pria itu dengan cepat menyusulku berlari lalu menarik lenganku.


Aku berhenti seketika lalu mencoba melepaskan lenganku darinya cukup kasar.


"Maaf," ujar pria itu.


Aku menatapnya sekilas lalu beralih ke arah lain.


"Pergilah, jika pengawalku datang maka kau akan dihajar mereka," ucapku percaya diri.


Pria itu menyeringai seperti tidak takut dengan perkataanku.


"Aku hanya ingin berkenalan saja denganmu, tidak lebih. Dan aku bukan orang jahat, kok. Percayalah!" ucapnya beralasan.


"Aku ke sini karena suamimu tidak ada di rumah, makanya aku berani diam-diam masuk ke rumah mewah ini."


"Aku tidak akan berani dengan suamimu yang menyeramkan itu. Dia itu pria yang tidak sopan, pria dingin dan kejam, apalagi dia selalu membuat istrinya menderita."


"Dia pria yang beruntung memilikimu sedangkan kamu tidak beruntung mendapatkan suami seperti Aras," pria itu mengoceh tanpa henti.


Dan seketika Aku langsung memotong perkataannya begitu saja.


"Berhenti mengejek suamiku. Apa kamu kenal dengan suamiku? Siapa kamu sebenarnya?" tanyaku penasaran.


"Perkenalkan, namaku Luis. Aku kenal baik dengan suamimu," pria yang bernama Luis ini menjabat tangannya kepadaku.


Aku hanya diam tak membalas jabatan tangannya.


"Baiklah, jika kau tak ingin berkenalan denganku. Tapi aku mengenalmu, Kanaya Aurora!" Luis tersenyum ke arahku sembari menurunkan tangannya kembali.


"Hei, hebat sekali kau mengetahui semuanya. Jangan-jangan kau ini seorang mata-mata bayaran, kan? Kau juga sepertinya bukan orang Indonesia," ujarku menduga.


"Ya, aku orang Italia tapi aku mengenal cukup baik Indonesia, karena Aku punya saudara di Jakarta," jelas Luis.


"Pergilah, aku akan memberi tahu suamiku jika kau memang mengenalnya," Aku hendak melangkah pergi menjauh dari Luis.


"Hei cantik, aku ingin beri kejutan menarik untuk Aras. Jadi jangan kau beri tahu dia. Usahaku semua akan sia-sia jika kau beri tahu suamimu itu," Luis menahan langkahku dan melarangku untuk memberi tahu siapa Luis pada tuan muda Aras.


Aku menelisik wajahnya tajam, ada sedikit keraguan pada ucapannya.


"Kau takut? Atau jangan-jangan memang benar kau itu penjahat?" tanyaku kembali dengan tuduhan.


"Ayolah, percaya deh sama aku. Aku orang baik, kok. Please, jangan kasih tahu Aras," ucapnya memohon padaku.


Aku diam tak menjawab perkataannya.

__ADS_1


"Apa kau ingin ke luar jalan-jalan bersamaku? Bukankah semenjak kau menikah dengan Aras, kau tidak diizinkan ke luar dari rumahnya?" tawar Luis yang lagi-lagi mengetahui apa yang sudah terjadi dalam rumah tanggaku.


"Kau bahkan tahu masalahku dengan suamiku?" tanyaku balik tak percaya.


"Apa sih yang nggak tahu oleh seorang Luis sepertiku ini. Ayolah, aku akan mengajakmu keluar sebentar dari sini."


Luis menarik tanganku secara paksa dan langsung berjalan cepat dengan sembunyi-sembunyi dari taman tersebut.


"Nanti ketahuan, pengawal suamiku itu banyak. Bisa mati aku kalau ketahuan dia," ucapku penuh ketakutan.


"Sudah, tenang saja. Serahkan semuanya padaku, lagi pula tidak akan ada yang bisa menangkap kita," ujar Luis dengan keyakinannya yang besar.


"Kau tidak tahu Aras itu seperti apa," ucapku.


"Aku sangat mengenal Aras lebih dari kamu, jadi jangan cemas!" Luis meyakinkan Aku kembali.


Luis dan Aku sudah berada di luar area rumah tuan muda setelah kami ke luar diam-diam dari gerbang belakang yang tiba-tiba saja tidak dikunci dan tidak dijaga oleh bodyguard yang biasa menjaga.


Ini sunguh aneh. Seperti sudah terencana dari awal saat tuan muda berangkat ke Italia.


Aku pun semakin gelisah dan terus memandang Luis penuh tanya.


"Apa kau benar-benar orang baik? Kau itu orang asing bagiku, Aku tidak ingin pergi denganmu," Aku diam terpaku di depan pintu gerbang belakang.


"Hei, ayolah! Apa kau mau terus-terusan terkurung di rumah mewah itu? Sampai-sampai kau berpura-pura depresi dan kehilangan ingatan?" ucap Luis sedikit meninggi tanpa basa-basi.


Deg


"Ka-kau tahu dari mana kalau aku...," tanyaku gugup dan gemetar hingga ucapanku menggantung.


"Apa yang tidak aku ketahui tentang keluarga besar Ahmet, jadi percayalah padaku. Ikutlah denganku maka rahasiamu aman bersamaku," Luis mengedipkan mata kanannya sambil tersenyum ke arahku.


"Kau mengancamku?"


"Bukan seperti itu, tapi hanya memperingatkan saja. Ya sudah, let's go cantik!"


"Hei kau beraninya menyentuhku."


Luis menarik tanganku kembali dan mengajakku masuk ke mobilnya yang dia parkirkan di samping pagar belakang.


"Jangan jauh-jauh dari kediaman Ahmet, dan aku juga nggak bisa berlama-lama di luar. Aku tidak ingin semua pelayan kebingungan mencariku," ujarku dengan cemas.


"Kau tenang saja, semua pelayan sudah aku tangani dengan baik."


"Maksudmu?" tanyaku bingung.


Luis tak menjawab dan langsung mengalihkan pertanyaanku.


"Ok, Tuan Puteri Kanaya ... bagaimana kalau kita terbang ke Italia menyusul suamimu?" tanya Luis dengan candanya.

__ADS_1


"Hei, jangan macam-macam kau!" ucapku ketus.


"Hahahaaaa," tawa Luis.


Setengah jam kemudian, mobil telah terparkir rapi di depan sebuah restoran.


"Gimana, kamu senang kan bisa menikmati suasana luar seperti ini lagi?" tanya Luis setelah aku ke luar dari mobilnya.


Aku tak menjawab, Aku hanya menghirup udara yang telah lama tidak Aku rasakan sejak menikah dengan tuan muda.


"Ayo kita masuk ke dalam," ajak Luis padaku.


"Sebentar saja ya, kita pesan minum saja. Aku nggak mau lama-lama," Aku memperingatinya.


Luis mengangguk pelan dan tersenyum ramah kepadaku.


"Apa kau bahagia dengan Aras?" tanya Luis saat minuman telah disuguhkan pada kami.


Aku diam dan hanya sibuk meminum jus jeruk untuk mengalihkan pertanyaan Luis.


"Mau aku bantu untuk melarikan diri?" tawar Luis kali ini.


"Kau mau cari mati, ya?" tanyaku kesal hingga menghentikan pergerakanku meminum jus.


"Hahaha, kau ini lucu sekali. Kau selalu menderita di sana tapi aneh jika tak ingin kabur dari Aras. Atau jangan-jangan kau memang menginginkan warisan dari almarhum papanya?" tanya Luis dengan tuduhannya.


"Jangan asal bicara kamu. Jangan ikut campur dalam rumah tanggaku. Kamu ini siapa sebenarnya?" protesku dan langsung bertanya balik padanya.


"Aku itu sebenarnya ... emm ... nanti kamu bakal tahu siapa aku," ucap Luis dengan ragu dan masih menyembunyikan sesuatu.


Luis mengambil ponselnya dan menelepon salah satu anak buahnya.


"Lakukan tugas yang aku berikan padamu tadi selagi aku masih berada di sini bersama dengan wanita cantik ini," ucap Luis sambil melirik ke arahku dan langsung mematikan ponselnya.


Sungguh aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Luis di telepon, tapi Aku merasa aneh dengannya.


Tiba-tiba Luis mendekatkan tangannya ke wajahku dan dia mengusap pipiku lembut dengan gerakan pelan.


"Hei, apa-apaan kau?" Aku langsung menepis tangannya.


"Maaf, ada kotoran di pipimu," dia masih tersenyum ramah padaku.


"Dasar pembual," umpatku di hadapannya.


Tringgg


Tiba-tiba ada pesan masuk dari ponsel Luis dan dia pun tersenyum nakal.


"Hei cantik, berjanjilah padaku bahwa kau akan merahasiakan pertemuan kita ini pada siapapun terutama Aras!" ucap Luis padaku dengan tatapan sedikit tajam.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah kau kenal baik dengan suamiku?" tanyaku heran.


Bersambung....


__ADS_2