
Sebuah hubungan yang telah terjalin dalam keluarga, tidak selamanya hubungan itu dihiasi dengan kebahagiaan. Entah sampai kapan aku menutupi tentang kebohonganku yang jelas-jelas sama sekali Aku tidak melupakan memori masa laluku.
Aku harus mulai dari mana mengatakan ke tuan muda bahwa Aku waras dan Aku tidak depresi. Lalu Aku berpikir sepertinya tuan muda menyukai Aku dengan keadaanku seperti saat ini, karena sifatku yang berubah lembut mungkin dia menyukainya. Wajar saja bila tuan muda pun mulai memperhatikanku.
Aku juga yakin bahwa tuan muda mungkin sudah tidak lagi memakaikan obat berbahaya itu lagi padaku.
Oh Tuhan, apa yang harus Aku lakukan setelah dia pulang dari Italia? Suamiku itu akan menceritakan semua dengan jujur tentang masa lalunya yang sejak dulu Aku ingin tahu, lantas apakah Aku juga harus mengatakan sejujurnya bahwa kebohonganku mengenai peranku sebagai wanita yang kehilangan ingatan?
Di bandara, seorang pria yang merupakan anak buah dari seseorang yang memerintahkannya. Dia menelepon sang bos setelah pesawat dinyatakan lepas landas.
"Bos, pesawat menuju Italia telah berangkat 5 menit yang lalu," ucap sang anak buah setelah mendapatkan jawaban telepon dari sang bos.
Seringai bahagia terbit seketika dari wajah sang bos setelah mendapatkan kabar itu. Dia seperti telah mendapat mainan baru yang telah lama tidak dia dapat.
"Hahaha, Aku sekarang bisa bersenang-senang saat kau pergi, Aras. Aku tahu kelemahanmu saat ini, jadi lihat saja nanti apa yang akan aku tunjukkan padamu."
"Tinggal tunggu saja kapan kita akan bertemu. Aku sudah tidak sabar bagaimana reaksimu saat tahu aku berada sangat dekat denganmu Aras Ahmet, Hahahaaaa."
Tak hentinya dia tertawa sembari memutar-mutar gelas berisi wine yang ada di tangan kanannya. Dia tahu betul kepergian Aras ke Italia yang memakan waktu cukup lama di sana.
Esok hari, Aku yang menunggu telepon dari suamiku tidak hentinya Aku bolak-balik bertanya pada bi Tias. Semenjak sifat tuan muda menjadi lebih baik padaku, rasanya Aku tidak ingin jauh darinya. Apalagi saat dia pergi, Aku merasa ada yang hilang di rumah ini dan jujur Aku merindukannya.
"Mending Non Naya istirahat saja di kamar, nanti kalau tuan muda telepon, Bibi akan menemui Non Naya di kamar," ucap bi Tias meyakinkanku saat diriku terlihat cemas.
"Bibi janji, ya?"
"Iya, Non. Mungkin saat ini tuan muda sedang istirahat di sana," ujar bi Tias berpendapat.
"Baiklah kalau begitu," Aku pun berjalan menuju kamarku.
Ya, begitu sulitnya Aku yang tidak diperbolehkan untuk memakai ponselku sendiri oleh tuan muda. Dia sangat-sangat egois, masih saja berbuat sesuka hatinya walau sekarang sifatnya telah berubah baik kepadaku. Tapi Aku masih terjerat oleh aturan-aturan yang dia buat. Itu tidak adil.
Aku benar-benar sangat penasaran dibuatnya, sebenarnya apa yang sudah membuat tuan muda Aras sekeras ini padaku. Dengan sosoknya yang keras dan dingin, Aku yakin ada rahasia yang tersimpan rapat oleh tuan muda.
Satu jam kemudian, bi Tias tiba-tiba mengetuk pintu dan langsung masuk ke kamarku dengan membawa ponselnya ke hadapanku.
__ADS_1
"Non, ini tuan muda telepon, mau video call sama Non Naya," ucap bi Tias tersenyum sambil menyerahkan ponselnya padaku.
"Oh ya, makasih Bi."
Aku langsung meraih ponsel dari bi Tias dan menunggu kembali panggilan dari tuan muda sembari berkaca merapikan rambut dan bajuku agar terlihat cantik. Idih, genit banget deh Aku.
Panggilan masuk pun datang dari tuan muda.
"Hai, kenapa kamu baru hubungi aku?" tanyaku sedikit canggung.
"Maaf, saya langsung mandi saat sampai sini, gerah soalnya," ucap tuan muda saat dia memperlihatkan dirinya yang baru saja selesai mandi dan menampakkan dirinya bertelanjang dada.
"Astaga, kenapa kau tidak memakai baju?" tanyaku yang langsung menutupi wajahku dengan tangan kiriku.
"Ya, kan saya baru selesai mandi."
"Tapi nggak usah diperlihatkan ke aku gitu dong."
"Ya, biar kamu percaya. Ayolah ... saya ini suami kamu. Ok, sekarang bukalah tanganmu itu," pinta tuan muda yang sekarang beralih memperlihatkan wajahnya di layar ponsel.
Aku pun lega saat diam-diam melihat dari celah tanganku, was-was jika tuan muda menjahiliku.
Suasana pun menjadi hening dan terasa canggung. Kami hanya saling melirik sekilas tak berani untuk memandang satu sama lain. Karena baru pertama kali ini melakukan panggilan video call.
"Kau...," ucapku dan tuan muda bersamaan.
Hening kembali.
"Pakailah bajumu," ucapku kemudian.
"Iya, nanti saya hubungi kamu lagi besok. Saya mau istirahat dulu. Oh ya, langsung berikan ponselnya ke bi Tias, ya!" ujar tuan muda berpesan.
"Baiklah," jawabku sedikit kecewa.
Panggilan pun terputus.
__ADS_1
Huh, menyebalkan. Dia masih saja tidak memperbolehkan Aku untuk memegang ponsel. Padahal Aku ingin sekali memainkannya sebentar walau sembunyi-sembunyi.
Di sini, di kamar tuan muda, Aku berharap bisa menemukan ponsel milikku yang telah disita olehnya. Tapi nyatanya Aku tak menemukannya. Mungkin tuan muda telah memindahkan ponselku di tempat yang tak bisa aku temukan. Dasar menyebalkan.
Keesokan harinya di saat jam makan siang. Tuan muda kembali menghubungiku lewat video call lagi. Dia memastikan bahwa Aku benar-benar memakan makananku. Dia begitu perhatian dan tak lupa memberi pesan berulang kali padaku.
Tapi yang paling Aku tidak suka adalah semakin Aku dekat dengannya semakin besar pula perhatian tuan muda yang begitu sangat over protektif padaku. Itu semakin membuatku sulit bergerak sama sekali. Aghhh lagi-lagi dia menyebalkan.
Aku pun berlalu ke taman belakang untuk menghilangkan rasa penatku. Dan tanpa disadari ada sesuatu yang memperhatikanku.
"Hei cantik," terdengar suara samar-samar olehku tapi Aku tak mempedulikannya.
"Hei cantik," kali ini terdengar jelas suaranya kudengar.
Aku beralih ke sumber suara di samping kanan, tapi tidak kudapati apa-apa dan tidak ada seseorang pun. Aku pun kembali menatap arah depan.
Bukkk
Tiba-tiba ada yang melayangkan batu kecil tepat di bahuku.
"Akhhh," pekikku terkejut sambil memegang bahuku.
"Hei cantik!" ucapnya kembali.
Aku langsung beralih ke arah sumber suara itu lagi dan kali ini tampaklah wajah dari sang yang mempunyai suara tersebut.
Dia ternyata seorang pria yang sedang berdiri masuk di depan gerbang belakang sembari memandangku.
"Hei, kenapa kau menjahiliku? Siapa kau? Dan kenapa kau bisa masuk dari gerbang itu? Kau orang jahat, kan? Apa kau pencuri? Aku akan melaporkanmu pada pengawalku," Aku bangkit dan melihat sekeliling area taman yang tak ada bodyguard suruhan tuan muda.
Aku menjadi takut dan bergegas hendak berlari ke dalam rumah.
"Hei cantik, berhentiiii."
Bersambung....
__ADS_1