Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Diabaikan


__ADS_3

Aku memejamkan mataku sembari berdo'a untuk keselamatanku atas kesalahpahaman yang mungkin akan tuan muda Aras tuduhkan padaku. Entah harus menghindar bagaimana lagi jika Luis tak ingin melepaskanku saat ini.


Luis benar-benar pria berbahaya yang mungkin akan menghancurkan kehidupanku bersama tuan muda, itulah yang ada di benakku sekarang. Lalu apa yang harus Aku katakan pada suamiku nanti?


Tidak ada sahutan dariku ataupun Luis, sehingga terdengar suara orang membukakan pintu kamar.


Ceklekkk


Pintu pun telah terbuka, Aku sungguh takut setengah mati.


"Habislah aku!" ucapku pelan sambil menangis.


Luis masih saja menahan tubuhku di atas tubuhnya. Dia begitu sangat tenang. Sungguh dia pria sialan yang mengambil kesempatan dariku.


Luis malah menahan tawanya saat melihatku menangis ketakutan.


"Tuan Luis, sebentar lagi tuan muda Aras menuju kamar ini. Cepatlah bersembunyi, jangan sampai ketahuan!" ujar salah satu pengawal memberi informasi kepada Luis.


Ternyata pengawal yang membuka pintu kamar adalah orang suruhannya Luis. Dan benar, jika Luis memasukkan mata-matanya di rumah keluarga Ahmet. Sungguh tidak disangka.


"Hei cantik, tenanglah. Aras belum mengetahui hubungan kita. Jadi berhentilah menangis," senyum seringai puas terbit diwajah Luis.


Luis melepaskan genggaman tanganku darinya. Aku pun bangkit berdiri menghapus air mataku.


"Kau sudah lancang Luis!" ucapku penuh penekanan.


Luis hanya tersenyum penuh kepuasan. Luis pun akhirnya bangkit berdiri dan menatapku.


"Sana, sambutlah suamimu yang kejam itu. Jangan sampai dia melihat kamu menangis," ucap Luis dengan santainya.


Aku hanya diam tak peduli dengan ucapannya, tetapi kali ini Luis mendekatiku dan menatapku kembali.


"Sampai jumpa lagi, cantik!" ujar Luis dengan harapan ada jawaban dariku.


Cup

__ADS_1


Karena masih tidak ada jawaban dariku, dengan berani Luis mencium pipiku begitu saja seperti tanpa dosa.


"Kau...," ucapku kaget.


"Kau membuatku kesal. Baiklah, kita akan bertemu di waktu berikutnya, cantik!" Luis mengedipkan matanya dengan genit ke arahku.


Luis pun akhirnya melangkah pergi secara diam-diam melewati pintu jendela kamar. Untung saja hari masih gelap, kalau tidak mungkin saja Luis akan tertangkap.


"Dasar keterlaluan, berani-beraninya dia menciumku lagi. Sebenarnya apa yang terjadi antara Luis dengan suamiku? Kenapa Luis seenaknya saja keluar masuk rumah ini tanpa sepengetahuan pengawal? Ini tidak bisa dibiarkan," gumamku bertanya-tanya dengan cemas.


Saat ini sepertinya Aku tidak mungkin ke luar kamar dengan keadaanku yang sedikit berantakan, apalagi ranjang tempat tidurku pun lebih berantakan karena ulah Luis. Lalu terpaksa Aku merapikan ranjang tempat tidurĀ agar suamiku itu tidak curiga.


Tak lama kemudian tuan muda pun membuka pintu dan masuk ke kamar saat Aku masih merapikan tempat tidur. Ternyata lebih cepat dari prediksiku. Untungnya Luis sudah pergi beberapa menit lalu.


"Sayang, maaf aku tidak menyambutmu karena aku tadi ketiduran," ucapku yang langsung meraih tas yang dibawa tuan muda.


"Hemm...," jawab tuan muda hanya dengungan.


Aku hanya berpikir mungkin tuan muda sangat lelah dalam perjalanan panjangnya menuju Jakarta. Jadi Aku masih menganggapnya hal wajar bila tuan muda hanya menjawab dengan dengungan singkat.


Tuan muda pun berjalan dan langsung duduk di sofa sambil memijat-mijat keningnya.


"Langsung mandi saja," tuan muda langsung bangkit dan berjalan masuk ke kamar mandi tanpa menatap ke arahku.


Ini sungguh aneh, apa mungkin inilah sifat asli tuan muda jika dia lelah, hingga dia mengabaikanku. Aku tidak pernah mendapatkan tingkah tuan muda yang seperti ini. Apa mungkin dia marah karena Aku tidak menyambutnya di depan saat pulang tadi?


Sembari Aku sibuk dengan kecemasanku, Aku pun menyiapkan pakaian tuan muda untuk dia pakai nanti.


Tak lama kemudian tuan muda pun selesai dengan mandinya dan langsung mengambil baju yang telah Aku siapkan di ranjang, lalu berjalan menuju ruang ganti.


Beberapa menit kemudian, tuan muda mengambil tempat pembaringan di sampingku, dan lagi-lagi tuan muda tidak mempedulikanku. Tapi Aku masih saja berpikir positif. Aku tak bisa diam saja, Aku harus membuka pembicaraan ini sekarang juga.


"Apa kau begitu lelah sehingga mengabaikanku?" tanyaku sambil memeluk tuan muda.


"Saya lelah," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lebih padamu. Tidurlah, besok aku bangunkan seperti biasa," ucapku sedikit kecewa dan pada akhirnya tak ada jawaban darinya hanya matanya yang terpejam seolah tak ingin menatapku.


Keesokan pagi, setelah sarapan selesai, saatnya kini tuan muda berangkat ke kantor. Acara sarapan pagi ini begitu hening, tidak ada pembicaraan yang keluar. Tuan muda hanya sibuk dengan ponselnya dan sesekali memakan makanannya.


Tapi Kali ini Aku ingin lihat bagaimana reaksi tuan muda padaku saat Aku mengantarnya sampai ke depan halaman. Seperti biasa, Aku selalu mengikuti tuan muda saat dia berangkat ke kantor.


"Hati-hati, ya sayang!" ucapku tersenyum menatap suamiku setelah Aku mencium tangannya.


"Hemm."


Lagi-lagi dengungan itu sebagai jawaban dari suamiku.


Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan sikap tuan muda kepadaku. Aku tak akan tinggal diam kali ini. Aku harus bertanya langsung padanya saat ini juga. Dan Aku tak peduli jika suamiku itu marah padaku.


"Tunggu!" Aku menghentikan langkah tuan muda saat dia hendak memasuki mobilnya.


Tuan muda pun beralih menatapku penuh tanya tapi tak bersuara.


"Kau lupa? Kenapa tidak menciumku?" tanyaku yang membuat mata tuan muda melirik kesana kemari seolah dia mencari-cari alasan.


Akhirnya tuan muda mendekatiku dan langsung mencium keningku setelah berdiam beberapa detik.


"Kenapa tingkahmu aneh dari semalam? Apa kau sakit? Kau mengabaikanku dan mendiamiku? Ada apa sebenarnya?" tanyaku cukup banyak.


"Saya banyak masalah di kantor, Nay. Saya harap kamu mengerti," jawabnya dengan wajah dingin kemudian berbalik hendak memasuki mobil.


"Aku harap juga kamu tidak melupakan janjimu yang akan mengatakan hal penting setelah kepulanganmu dari Italia? Dan nyatanya kau mengingkari janjimu," ucapku mengingatkannya.


Tuan muda menghentikan langkahnya kembali dan berbalik ke arahku. Hatinya tersentak mendengar perkataanku barusan.


"Kita bahas lain waktu saja," ujarnya yang membuatku kecewa.


Aku sedih dan mataku berkaca-kaca saat suamiku itu mengatakan hal yang hampir sama seperti saat di awal Aku bertemu dengannya. Hatiku sakit menatap kepergiannya begitu saja tanpa senyuman.


Lain halnya dengan tuan muda yang menatap diriku lewat kaca spion saat mobilnya melaju. Dia menatapku dengan perasaan kesal dan marah.

__ADS_1


"Kau sungguh pintar memainkan peranmu, Naya. Seolah-olah saya tidak tahu apa yang kau mainkan di belakang saya bersama pria lain. Tunggu saja, akan saya cari tahu sendiri nanti," gumam tuan muda menahan amarah.


Bersambung....


__ADS_2