
Pagi sekali, Aku sudah terbangun yang sebelumnya melaksanakan sholat subuh disusul pergi ke dapur hendak membantu bi Tias membuatkan sarapan. Tapi saat Aku sudah berada di dapur, bi Tias malah tidak mengizinkan Aku membantunya. Jadi terpaksa Aku kembali ke kamarku.
Aku benar-benar putri besar di keluarga Ahmet sekarang. Apapun yang Aku kerjakan pasti bi Tias akan melarangku dengan alasan karena Aku adalah nyonya muda di keluarga ini. Ah, yang benar saja, sungguh bosan apalagi ponselku masih disita oleh tuan muda kejam itu.
Akhirnya Aku memutuskan untuk kembali tiduran di ranjang, hingga pukul 07.00 Aku bangkit dan berjalan hendak ke dapur untuk mengisi perutku yang sudah sangat lapar. Tapi belum sempat Aku masuk ke dapur, tiba-tiba saja Aku melihat tuan muda Aras sedang berbicara pada bi Tias, sontak Aku langsung memundurkan langkahku dan bersembunyi di balik dinding dan diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua.
"Bi, saya minta tolong sama Bibi, larutkan obat ini kedalam minuman Kanaya, dan berikan obat ini tiga hari sekali, terserah mau kasih dia saat makan pagi, siang atau malam," tuan muda Aras memberikan botol berukuran 10 cm yang berisi beberapa butir obat di dalamnya kepada bi Tias.
"Ini obat apa, Tuan?" tanya bi Tias penasaran.
"Nggak usah banyak tanya, Bi. Pokoknya turuti saja perintah saya, mengerti? Awas, jangan sampai Naya tahu soal ini dan simpan obat ini baik-baik," perintah tuan muda mengingatkan lalu dia berjalan meninggalkan dapur.
"Tapi Bibi harus tahu obat apa ini, Tuan?" tanya bi Tias sedikit keras, tapi tuan muda sama sekali tak mempedulikannya, dia malah berjalan begitu santai ke arah depan.
"Waduh, ini obat apa sih? Kok main rahasia begini tuan Aras. Biar saya cari tahu sendiri saja di internet," gumam bi Tias masih penasaran.
Aku pun penasaran dengan obat yang di kasih oleh tuan muda pada bi Tias. Sebenarnya kenapa Aku harus dikasih obat itu? Kenapa musti diam-diam? Hatiku menjadi tidak tenang apalagi sekilas ingatan tentang ucapan tuan muda saat dia mabuk semalam. Bukankah dia akan membuat diriku menderita?
Aku masih berdiri bersembunyi dan sengaja Aku mengintip bi Tias menaruh obat tadi di lemari atas. Saat bi Tias menyiapkan sarapan untuk tuan muda, Aku pun bergegas diam-diam mengambil botol obat yang disimpan oleh bi Tias tadi lalu Aku lihat nama obat itu untuk Aku cari tahu juga di internet.
Setelah itu Aku langsung mengendap-endap berlari kecil menuju kamar tuan muda Aras, dimana dia menaruh ponselku. Beruntungnya dengan cepat Aku mendapatkan ponselku yang berada di laci nakasnya lalu Aku meraih ponselku dan menghidupkan kembali ponselku kemudian mencari tahu nama obat itu di internet kemudian muncul penjelasan dari sana. Aku sangat kaget dan pikiranku mulai tak karuan.
Deg
__ADS_1
"Setega itukah tuan muda ingin membuatku menderita?" tak terasa air mataku mengalir begitu saja.
"Apa salahku padanya? Kenapa dia sangat membenciku?" gumamku yang benar-benar sakit.
Ternyata obat yang diberi oleh tuan muda kepada bi Tias yang akan diberikan padaku adalah obat untuk menghilangkan ingatan seseorang jika meminumnya serta membuat depresi. Oh Tuhan, begitu kejamnya suamiku.
Kembali ke dapur, saat bi Tias akan memberikan sarapan padaku, karena rasa penasarannya, sebelumnya dia mengambil obat dari lemari atas lalu dia meraih ponsel dan dengan cukup lincah dia mengetik nama yang tertera di botol obat melalui internet di ponselnya.
"Astaga, a-apa tidak salah tuan muda Aras memberikan obat ini pada nona Naya? Saya harus menanyakannya kembali pada tuan muda sebelum dia ke kantor," Bi Tias sangat kaget dengan pencarian obat itu di internet, lalu dia berjalan menuju tuan mudanya.
"Tuan, maaf ... mungkin Tuan salah memberikan obat ini pada nona Naya. Kirain Bibi tadi ini obat vitamin," protes bi Tias saat telah berada di depan tuan muda.
"Sssttt ... kenapa bibi sok tahu banget sih itu obat apa? Sekarang lakukan tugas Bibi seperti apa yang saya katakan. Sudah cepat sana!" ucap tuan muda pelan dan memberi perintah .
"Oh, jadi Bibi sudah bosan bekerja di keluarga Ahmet? Baiklah, kalau begitu saya akan membuat Naya menderita seumur hidupnya," ancam tuan muda Aras tanpa basa-basi.
"Jangan lakukan itu, Nak. Kau bisa membunuhnya jika seperti itu, kasihan Naya, dia anak yatim piatu. Kenapa kau begitu jahat padanya. Kau suaminya," ucap bi Tias lirih dan penuh kecewa.
"Saya tidak peduli, Bi. Saya tidak ingin wanita itu menikmati harta yang seharusnya milik saya. Jadi, jika Bibi tidak melakukan perintah saya, maka saya akan membunuhnya dengan cepat," ancam tuan muda.
Tuan muda bangkit dan hendak berjalan menuju kamarku tapi bi Tias menahannya.
"Baiklah, biar Bibi yang melakukannya!" pinta Bi Tias dengan terpaksa.
__ADS_1
"Bagus, ini yang saya mau!" tuan muda melebarkan senyuman bahagianya lalu berbalik dan berjalan keluar menuju mobilnya.
Bi Tias begitu terpukul dengan perlakuan tuan muda Aras yang tidak punya hati nurani.
"Kapan kamu berubah, Nak? Masa lalu kamu membuat hati kamu menjadi beku dan dingin bahkan kau bagai seorang monster sekarang," gumam bi Tias bersedih dan menyesali tentang apa yang telah terjadi di keluarga Ahmet beberapa tahun lalu.
Sejak bayi, tuan muda Aras diasuh oleh bi Tias dengan penuh kasih sayang hingga tuan muda berumur 10 tahun. Sifat tuan muda Aras yang begitu baik, ceria, pandai dan selalu peduli pada teman-temannya, sangat dibanggakan oleh semua anggota kelurga Ahmet.
Tapi, seiring berjalannya waktu, semuanya berubah begitu saja saat keluarga Ahmet mengalami masalah besar yang membuat tuan muda Aras trauma hingga sifat serta kelakuannya 180° berbeda dari baik menjadi sosok pendiam dan dingin. Sampai suatu ketika dia memutuskan untuk tinggal di Turki selamanya bersama tuan Halim.
Dan benar saja, saat kembali ke Indonesia dia merasa kembali seperti dulu yang mempunyai masalah besar dari mulai kecelakaan yang membuat korbannya meninggal hingga dia lumpuh dan butuh beberapa bulan untuk pulih kembali, setelah itu kepergian papanya untuk selamanya dengan membuat surat wasiat yang membuat dirinya menikahi Aku yang tidak dia inginkan apalagi Aku mendapatkan hak waris yang sama seperti dirinya. Itu yang membuat tuan muda Aras menjadi membenci diriku.
Pukul 07.45, bi Tias memasuki kamarku dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas air putih.
"Kenapa Bibi membawa sarapan ke sini? Naya mau makan dibawah saja," tanyaku dengan cemas saat melihat wajah Bi Tias yang berubah pucat.
"Emm ... i-itu Non ... Bibi hanya....," jawab bi Tias dengan gugup dan menggantungkan ucapannya.
Dari wajah bi Tias, Aku sudah bisa menebak pasti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Wanita paruh baya yang menurutku sangat baik dan perhatian itu, apa mungkin akan menuruti keinginan sang tuannya?
Apa mungkin bi Tias benar-benar memasukan obat berbahaya itu ke dalam minumanku? Lantas bagaimana jika Aku meminumnya? Ya Allah, Apa yang harus Aku lakukan sekarang?
"Ayo Naya, berpikirlah ... paling tidak kamu harus bisa melawan tuan muda kejam itu, jika tidak maka kau akan dalam masalah besar," batinku dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....