Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Pernikahan


__ADS_3

Mobil membawaku dan tuan muda Aras tepat di kediaman Ahmet. Rumah yang begitu besar, bernuansa klasik tapi terkesan mewah. Dibandingkan dengan rumahku, rumah ini 10 kali lipat lebih besar. Wow, Aku seketika melongo mengaguminya.


Bagian depannya saja membuatku takjub apalagi setelah Aku memasuki rumahnya. Dan benar saja, sungguh luar biasa seperti istana. Jika Aku berada di sini, Aku seperti putri di negeri dongeng. Siapa yang tidak mau tinggal di rumah seperti istana raja ini. Seolah Aku tidak ingin pergi dari sini. Oh, astaga ... bukankah Aku akan tinggal di rumah ini bersama lelaki tampan dari Turki itu? Oh no, come on lelaki itu adalah pembunuh.


"Woi, baru lihat rumah semegah ini? Tenang saja, kau akan menikmati segalanya di sini, tuan putri Kanaya Aurora!" tuan muda Aras seolah menghinaku di hadapan para pelayannya.


Aku tak berani menjawabnya, karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar dengan tuan muda kejam itu.


"Karena kamu anak adopsi papa saya, maka mulai sekarang tanggung jawab sepenuhnya ada pada saya. Kamu sekarang di bawah kendali dan perintah saya, mengerti?" tuan muda Aras berbicara seolah dia adalah waliku saat ini.


Ah sial, seenaknya saja lelaki ini berkehendak. Lagian kenapa Aku bisa tertipu oleh kebaikan tuan Halim yang awalnya memberiku pekerjaan yang layak sehingga dia secara diam-diam menjadikanku anak adopsinya tanpa sepengetahuanku. Hebat sekali dunia ini, bukan? Dengan kekayaan dan uang, segala cara seseorang bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan.


Sebenarnya apa maksud tuan Halim mengadopsiku? Aku hanya gadis biasa-biasa saja dan sederhana. Sungguh malang nasibku. Kenapa harus Aku yang menjadi korban keegoisan keluarga Ahmet dengan dalih menjadikan Aku menantu konglomerat di keluarga ini.


"Dan satu lagi, kamu tidak diizinkan keluar dari rumah, tidak boleh bekerja dan dilarang memakai ponsel selama di sini. Kamu hanya menetap di rumah ini saja dengan pengawasan para pelayan dan pengawal yang saya bayar. Awas kalau berani macam-macam," tuan muda Aras menatapku tajam lalu merampas paksa ponsel dari tanganku.


"Hei, kauuuu...," ucapku menggantung.


Sungguh kejam, Aku benar-benar seperti putri yang terkurung di istana karena aturan yang dia buat.


Saat Aku hendak menaiki tangga menuju kamar atas, tiba-tiba tuan muda menarik tanganku dan membisikkan sesuatu di telingaku.


"Selamat bersenang-senang di istana ini, tunggu saja kejutan-kejutan dari saya nanti, tuan putri Kanaya," ucapnya dengan seringai ejekan, ada aura kebencian yang tersembunyi dari raut wajahnya.


Aku telah memasuki kamar yang sekarang Aku tempati, begitu sangat besar 3 kali lipat dari kamarku dulu. Kamar yang indah dan nyaman, itulah yang ada di dalam benakku.


"Perkenalkan, saya Ningtias. Panggil saja Bi Tias. Kalau Nona butuh sesuatu, panggil Bibi saja. Bibi akan melayani Nona dengan baik," ucap wanita paruh baya yang masih terlihat masih bugar dan kuat. Dia tersenyum ramah kepadaku.


"Saya Naya, Bi. Terima kasih atas tawarannya," balasku dengan senyuman pula.


"Oh ya, tentang perkataan tuan muda Aras tadi, jangan diambil hati ya, Non. Tuan muda memang begitu orangnya. Kalau begitu saya permisi dulu, Non!" ujar Bi Tias yang mengingatkanku dengan suaranya yang lembut.


"Iya Bi," Aku mengangguk dan tersenyum padanya.


Bibi Tias rupanya perhatian padaku. Aku sedikit lega dan menjadi tenang selama ada dia di rumah ini.

__ADS_1


Satu minggu telah berlalu, sejak Aku pindah di rumah besar ini, Aku sangat bosan dan jenuh. Tidak bisa keluar rumah, tidak bekerja di kantor dan semua akses untuk menghubungi teman-temanku pun sudah tidak ada celah sama sekali.


Terbesit di pikiranku betapa Aku sangat merindukan kak Niko, jadi Aku berinisiatif untuk menelepon dia lewat telepon rumah di sini. Tapi sayangnya tidak ada jawaban dari kak Niko. Aku pikir, mungkin kak Niko sedang sibuk.


Aku semakin kesal dan kecewa. Aku menyesal telah menghubungi kak Niko waktu Aku kabur ke hotel, tapi bodohnya Aku malah menuruti perkataan kak Niko yang jelas-jelas dia adalah orang kepercayaan tuan muda.


"Ughhh Aku benci padamu, Kak Niko!" gumamku kesal lalu membanting gagang telepon sedikit kasar ke tempatnya.


Di kantor Haras Company, kak Niko sedang membicarakan sesuatu dengan tuan muda Aras. Ada rasa kecanggungan yang tampak di antara mereka sejak surat wasiat itu dibacakan. Bagaimana tidak, tuan muda Aras akan menikahi gadis yang merupakan kekasih sektetarisnya sendiri. Bayangkan saja bagaimana rasanya?


Jika ada pilihan mungkin tuan muda Aras secara sepihak akan membatalkan pernikahan ini, tapi karena menyangkut harta warisan, tuan muda itu tidak akan tinggal diam. Dia harus tega merebut apa yang seharusnya dia miliki termasuk merebut kekasih dari bawahannya sendiri.


"Apa kau sudah memutuskan hubunganmu dengan Naya?" tanya tuan muda Aras dingin pada kak Niko.


"Iya, saya sudah memutuskan Naya, emm maksud saya, Nona Naya!" ujar kak Niko mulai tampak bingung dan gugup.


"Bagus, dan kau atur saja urusan pernikahanku dengan Naya sesuka hatimu. Saya tidak ingin menghabiskan waktu saya memikirkan hal ini," pinta tuan muda Aras memberi perintah.


"Baik Tuan," sahut kak Niko patuh dengan hati yang begitu perih.


Kak Niko langsung melihat panggilan di layar ponselnya dengan bingung lalu beralih menatap tuan mudanya hendak berbicara.


"Ada apa?" tanya tuan muda heran.


"Ini ada panggilan telepon dari rumah anda, Tuan!" ujar kak Niko.


"Oh ... eh tunggu. Jangan dijawab panggilannya," cegah tuan muda.


Tuan muda Aras seolah tahu bahwa yang menelepon itu adalah Aku. Pria itu tidak mengizinkan Aku untuk menelepon kak Niko apalagi bertemu dengannya. Hemm, dasar jahat.


"Mulai sekarang, jika ada panggilan telepon dari rumah saya, jangan kamu angkat, mengerti?" pinta tuan muda Aras mengingatkan.


"Memangnya kenapa, Tuan?"


"Pokoknya turuti saja perintahku!" tegas tuan muda.

__ADS_1


Kak Niko pun mengerutkan keningnya heran dan bingung tapi dia tetap patuh pada tuannya.


"Berani-beraninya si Naya menghubungi Niko. Apa dia tidak takut dengan ancamanku?" batin tuan muda kesal.


Dua hari setelah empat puluh hari kepergian tuan besar Halim, hari pernikahan akan dilaksanakan tepat hari Jum'at. Pak Agus sang pengacara datang sebagai saksi yang diminta oleh almarhum tuan Halim dalam surat wasiatnya.


Akad nikah pun berlangsung. Tuan muda Aras begitu tenang dalam satu tarikan nafasnya saat pengucapan ijab kabul, dan akhirnya 'sah'. Kami berdua menjadi pasangan suami istri yang halal.


Tuan muda Aras nampak tersenyum walau hatinya tak rela menerima pernikahan ini. Sedangkan Aku terlihat dengan kepala yang menunduk ke bawah penuh dengan kecewa dan sedih.


Lalu kak Niko, dia terus saja memandang diriku dalam kesedihan dan penyesalan. Sebenarnya dia tidak rela dan khawatir bila Aku menjadi istri tuannya yang mempunyai watak yang buruk.


"Selamat atas pernikahan anda, Tuan. Semoga kalian bahagia," kak Niko memberikan ucapan selamat pada tuan muda Aras dengan membuat senyuman sebagus mungkin.


"Kak Niko, aku merindukanmu!" Aku langsung memeluk kak Niko begitu saja hingga tuan muda Aras tidak bisa menerima jabatan tangan dari kak Niko.


Aku tak peduli sebesar apa marahnya tuan muda padaku. Karena Aku hanya ingin menenangkan diri dipelukan pria yang Aku cintai. Aku menangis dalam pelukan kak Niko. Setelah itu tuan muda langsung menarik lenganku kasar.


"Kau jangan membuat saya malu di depan orang banyak, Naya!" ujar tuan muda menjelitkan matanya tajam kepadaku.


"Biarkan Aku berbicara sebentar dengan kak Niko, please!" pintaku memohon.


Tuan muda langsung menatap kak Niko untuk pergi dari hadapan kami. Berat hati kak Niko menatapku lirih hingga berlalu pergi.


"Maafkan Kakak, Naya!" batin kak Niko lirih sembari berjalan menjauh.


"Kak Niko, tunggu!" Aku hendak menyusulnya tapi tanganku ditahan oleh tuan muda.


Lenganku ditarik tuan muda menuju kamarku lalu dia menjatuhkanku di lantai cukup kasar.


"Awww, sakit!" Aku mengaduh kesakitan, tapi tuan muda tak peduli.


"Kau tunggu saja di sini sampai acara selesai dan ganti pakaianmu. Jangan buat ulah dan jangan coba-coba kabur, ada dua bodyguard menjaga di depan pintu kamar ini, mengerti?" titahnya dengan emosi yang sudah memuncak. Lalu dia pergi meninggalkanku sendiri.


Aku tahu dia tidak terima dan marah dengan pernikahan ini, Aku pun juga merasakan hal yang sama dan menurutku ini adalah konyol. Tapi bagaimana pun semua sudah tertulis dan takdir dari Yang Maha Kuasa. Ini akan menjadi sebuah kisah baru antara Aku dan tuan muda Aras.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2