Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Surat Wasiat


__ADS_3

Aku terus berjalan tanpa peduli teriakan dari tuan muda Aras walaupun terlihat marah kepadaku. Aku pun tidak peduli jika Aku dipecat dari pekerjaanku olehnya. Malah Aku beruntung jika Aku jauh dari pria pembunuh itu.


Sedangkan kak Niko mengejarku dan berteriak memanggilku mencoba untuk menahan langkahku, tapi Aku juga tak peduli dengan panggilannya.


"Naya, berhenti ... jangan pergi dulu sebelum kamu menyesaikan semuanya, Nay. Please, Naya berhenti sebentar!" teriak kak Niko yang masih memanggilku, dia pun tak peduli dengan situasi saat ini yang dimana para karyawan melihat ke arahku dan kak Niko. Mungkin mereka pikir antara Aku dan kak Niko sedang bertengkar hebat, padahal tidak sama sekali.


"Naya, berhenti Nay!" Kak Niko kini telah menggapai tangganku dan seketika langkahku terhenti.


"Lepasin, Kak. Aku mau pergi dari sini. Aku benci tempat ini. Aku benci semuanya!" Aku menepis kuat tanganku dari kak Niko dengan menahan air mataku yang sebentar lagi ingin keluar.


"Ada apa, Nay? Kenapa kamu main pergi begini, sih? Ayo kita kembali ke atas, mereka menunggumu," ujar kak Niko menggapai tanganku kembali yang lagi-lagi Aku tepis.


"Lelucon macam apa ini? Bahkan Aku sudah muak dengan semua perintah yang tuan Halim berikan padaku," ucapku dan kini air mataku mulai berjatuhan.


"Ada apa, Nay? Katakan padaku biar jelas semuanya," tanya kak Niko yang terlihat cemas saat Aku mulai menangis di hadapannya.


Dengan cepat Aku langsung menyerahkan surat kertas pemberian dari tuan Halim pada kak Niko.


"Nih ... kamu bisa baca sendiri, Kak!" ucapku dan berlalu pergi meninggalkan kak Niko saat dia telah meraih surat kertas itu, tapi belum sempat dia membacanya.


Aku berjalan dengan cepat hingga sampai di depan lobi Aku langsung berlari untuk menghentikan mobil taksi yang akan Aku naiki. Sedangkan kak Niko masih saja setia mengikuti langkah kakiku berada.


"Naya, please jangan pergi. Kita selesaikan secara baik-baik. Naya ... Nayaaa!!" teriak kak Niko mencoba menghentikanku saat Aku sudah berada di dalam taksi yang sudah melaju.

__ADS_1


"Arghhh ... Naya kenapa kamu mencari masalah dengan tuan muda Aras? Apa yang sebenarnya terjadi? Surat ... sebenarnya apa yang tertulis di dalam surat ini?" gumam kak Niko cemas lalu dengan lancang kak Niko membaca surat yang seharusnya tak boleh dia baca karena rasa ingin tahunya.


Kak Niko perlahan membaca isi surat itu dengan cermat dan teliti di setiap kalimatnya. Kak Niko tercengang saat ada kalimat yang membuat dia tahu apa yang sudah membuat diriku berani meninggalkan tuan muda Aras begitu saja.


"Ini tidak mungkin. Kenapa jadi serumit ini. Tuan Halim tidak pernah memberi tahu soal ini sebelumnya" gumam kak Niko yang penuh kecewa.


Kak Niko menemui kembali tuan muda Aras dan pak Agus dengan suasana hatinya yang buruk.


"Mana Naya?" tanya tuan muda Aras celingak-celinguk mencari keberadaan diriku.


"Maaf, Tuan muda ... sa-saya tidak bisa menahan Naya untuk kembali," ujar kak Niko sedikit gugup.


"Halahhh kamu itu sengaja, kan? Apa karena Naya kekasihmu, jadi kamu tidak berani untuk mencegah dia pergi, kan?" tuduh tuan muda Aras kepada kak Niko dengan amarahnya.


Kak Niko tidak bisa menjawab perkataan tuan muda Aras disaat lelaki di hadapannya itu menuduhnya dengan amarah yang cukup besar.


Tuan muda Aras meraih surat kertas itu dari tangan kak Niko dan mulai membaca surat itu dengan seksama. Satu menit kemudian, ekspresi wajah tuan muda Aras berubah dan membelalakan matanya saat dia membaca hampir keseluruhan dan saat di akhir kalimat yang semuanya telah dia baca, tiba-tiba tuan muda Aras meremas surat kertas itu dari genggaman tangannya sehingga wajah serta matanya memerah.


"Surat macam apa ini? Apa mungkin papa menulis surat ini? Ini jelas ada yang salah. Ini tidak benarrr!" pekik tuan muda Aras sembari membuang remasan surat kertas digenggamannya kesembarang arah.


Remasan surat kertas itu telah berada di bawah kaki pak Agus, dengan segera dia meraihnya dan membaca surat itu pula.


"Ini sudah jelas keinginan tuan Halim, lagi pula ini adalah tulisan tangan tuan Halim sendiri," ujar pak Agus meyakinkan bahwa isi surat kertas tersebut benar permintaan tuan Halim.

__ADS_1


"Sekarang cepat baca surat wasiat dari papaku itu tanpa Naya!" pinta tuan muda Aras dengan kesal dan memaksa. Seketika suasana di ruangan itu semakin menegang.


"Baiklah, dengarkan baik-baik!" ujar pak Agus, sang pengacara.


Di sisi lain, di dalam taksi. Tak hentinya Aku menangis tentang apa yang telah terjadi sekarang. Aku merenungi nasibku mengingat isi surat kertas yang telah diberikan oleh tuan Halim padaku.


Isi surat :


"Kanaya Aurora, untuk terakhir kalinya saya meminta maaf padamu, mungkin saat kamu membaca surat ini saya sudah tidak ada di dunia ini lagi. Kamu wanita yang baik, cerdas dan cantik. Saya selalu merasa bersalah saat teringat kamu pada kejadian beberapa bulan lalu akibat kecelakaan yang dibuat oleh anak saya, Aras. Saya selaku orang tuanya meminta maaf padamu sebesar-besarnya. Dan saya meminta maaf padamu karena selalu menekan dan memaksa kehendak saya padamu. Dan untuk terakhir kalinya saya harus memaksakan kehendak saya padamu lagi. Tolong menikahlah dengan Aras, maka kau tidak akan kekurangan apapun, dan maafkan Aras atas apa yang telah dilakukannya di masa lalu. Saya sangat menyayangimu sebagai putriku sendiri. Terimalah permintaan saya yang terakhir ini agar saya tenang jika kamu menjadi istrinya Aras. Anggaplah saya sebagai ayahmu, Nak. Saya, Halim Ahmet meminta padamu, Kanaya putriku.


Membacanya saja sudah membuatku sakit, apalagi jika Aku harus mengabulkan permintaan tuan Halim. Hatiku sangat terluka apalagi bila mengingat tuan muda Aras yang telah membuat kedua orang tuaku meninggal. Cobaan apalagi ini, Tuhan. Aku sudah bahagia bersama kak Niko. Mana mungkin Aku menikah dengan lelaki pembunuh ibu dan ayah seperti tuan muda Aras.


"Ini tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun Aku tidak akan sudi menikah dengan seorang pembunuh seperti dia," gumamku sendiri dengan memaki tuan muda Aras sambil menangis tiada henti di dalam taksi hingga sang sopir memberikan tisu padaku.


Kembali di kantor Haras Company, keadaan semakin kacau seperti kapal pecah saat surat wasiat dari tuan Halim selesai dibacakan oleh pak Agus.


"Bagaimana bisa Naya mewariskan 50% saham perusahaan keluargaku? Pasti Naya yang sudah meracuni pikiran papa. Dasar wanita licik, sial ... arghhh!!" teriak tuan muda Aras tak terima.


Brakkk


Pranggg


Tuan muda Aras menjerit sekuat tenaganya hingga memecahkan barang apapun yang ada disekitar meja kerjanya.

__ADS_1


"Aku akan kasih pelajaran ke Naya, lihat saja nanti," gumam tuan muda Aras seperti ingin membalas dendam padaku.


Bersambung....


__ADS_2