Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Sore itu, tuan muda Aras pulang dari kantor pukul 16.00, lebih cepat satu jam dari biasanya. Dia langsung berjalan menghampiriku di taman belakang rumah.


"Sedang apa sih, sampai-sampai suaminya pulang nggak ada sambutan?" terdengar suara tuan muda yang telah berada tepat di belakangku sambil memelukku.


"Ah, maaf aku nggak tahu kalau kamu sudah pulang. Tumben pulang cepat," Aku langsung berbalik menatap tuan muda.


"Ya, karena saya kangen sama kamu," tuan muda tersenyum manis ke arahku.


"Segitunya hingga kamu pulang dan langsung mencariku?" tanyaku membalas senyumannya.


Tuan muda mengangguk dan langsung mencium pipiku.


Sungguh begitu bahagia kami berdua saat ini. Perlakuan yang lembut dan hangat tuan muda telah mengubah hatiku menjadi luluh padanya. Tapi ada satu yang menjanggal di benakku. Aku belum mengetahui apakah perlakuan tuan muda ini tulus padaku atau hanya sekedar pura-pura.


Karena sampai saat ini aku masih was-was jika bi Tias membawakan makanan untukku. Jadi Aku berinisiatif untuk selalu menyiapkan makanan dan minumanku sendiri, apalagi tuan muda sudah membiarkan Aku untuk makan satu meja dengannya. Jadi Aku yakin tuan muda telah berubah lebih baik sekarang.


Dan satu hal lagi, sampai saat ini Aku masih menjalankan peranku yang berpura-pura kehilangan ingatan. Hingga saat ini Aku takut jika mereka mengetahui kebohonganku karena jujur Aku tak ingin kehilangan sosok tuan muda yang lembut dan hangat padaku.


Malam hari pukul 21.00, Aku berbaring di ranjang terlebih dahulu, karena tuan muda yang saat ini sedang mengobrol dengan seseorang di telepon. Sepertinya ada sesuatu hal yang serius karena hampir satu jam tuan muda baru mengakhiri pembicaraan mereka.


"Belum tidur?" tanya tuan muda yang menaiki ranjang di sampingku.


"Belum bisa tidur. Kamu sudah selesai ngobrolnya?"


Sejenak tuan muda terdiam, dan beberapa detik kemudian tuan muda langsung memegang kedua tanganku dengan erat.


"Ada apa sih?" tanyaku heran.


"Emm, begini Nay ... selama ini mungkin saya bukanlah suami yang baik buat kamu, tapi bolehkah saya meminta sesuatu dari kamu?" tuan muda menatap sendu ke arahku. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku.


Deg


Jujur Aku mulai takut saat dia menampakkan wajah kekhawatirannya yang belum pernah Aku lihat sebelumnya.


"A-apa yang kamu inginkan?" tanyaku sedikit terbata.


"Saya minta sama kamu, tolong jangan pernah mengkhianati saya, meninggalkan saya. Saya nggak minta kamu mencintai saya, tapi saya meminta tetaplah bersama saya selamanya hingga tutup usia."

__ADS_1


"Sulit untuk menjelaskan dari awal, Nay. Tapi saya janji akan memberi tahu semuanya tentang masa lalu saya setelah saya kembali dari Italia," ucap tuan muda menjelaskan dan berakhir dengan pertanyaan besar di benakku soal 'Italia'.


 


Aku cukup kaget saat itu lalu Aku mencoba bertanya dengan pelan.


"Italia? Maksudnya apa?" Aku begitu bingung.


"Jelasin dong, aku nggak ngerti," pintaku dengan rasa ingin tahu.


Tuan muda mengangguk perlahan.


"Ok, ok, dengerin saya. Besok saya harus berangkat ke Italia untuk urusan bisnis, karena sebelum papa meninggal, papa sempat menjalin kerja sama dengan perusahaan di Italia. Jadi mau nggak mau saya harus mengambil alih pekerjaan itu selama seminggu."


"Saya mau kamu tetap di rumah dan jangan pernah meninggalkan rumah ini kapanpun, paham?"


Tuan muda meraih wajahku menghadapnya dengan pandangan mata penuh ketakutan yang akan jauh dariku.


"Seminggu itu waktu yang lama. Bagaimana bisa aku di rumah ini tanpa kamu. Kalau aku bosan bagaimana? Sedangkan kamu nggak pernah bebasin aku sekedar jalan-jalan apalagi ponsel aku disita sama kamu, gimana aku mau hubungi kamu nanti," ucapku tanpa memikirkan perkataan yang keluar begitu saja.


"Ponsel? Dari mana kamu tahu ponselmu ada di saya?" tanya tuan muda heran.


"Emm, itu karena ... bi Tias pernah bilang kalau ponselku ada sama kamu, begitu!" jawabku ragu tapi sebisa mungkin Aku menjawabnya dengan tenang.


Aku harap tuan muda mempercayai ucapanku ini.


"Oh, kalau urusan telepon, biar saya yang menghubungi kamu lewat bi Tias nanti. Kamu jangan khawatirkan itu," tuan muda memelukku begitu saja dan mengelus rambutku dengan lembut.


Sungguh perlakuan ini yang aku rindukan. Seketika aku mengingat kejadian ini pada ayahku dulu yang memperlakukan aku dengan lembut penuh kasih sayang.


"Boleh aku bertanya?" perlahan aku melepaskan pelukan tuan muda lalu beralih menggenggam kedua tangannya.


"Ya tentu," tuan muda mengangguk.


"Kenapa kau tidak mengizinkan aku keluar dari rumah ini dan berinteraksi dengan orang-orang diluar sana?" tanyaku dengan sangat hati-hati, takut jika tuan muda akan marah.


Tuan muda menghela nafasnya perlahan.

__ADS_1


"Di luar sana itu sangat berbahaya untuk wanita sebaik kamu, Naya. Saya nggak mau kamu terpengaruh dengan pergaulan di luar sana. Saya nggak mau kamu meninggalkan aku dan rumah ini. Kamu hanya tetap milikku," ucapnya yang membuat aku semakin bingung.


"Maaf, ini maksud kamu apa sih? Aku nggak ngerti," tanyaku penasaran.


Tuan muda berbalik menggenggam tanganku dengan erat dan menarik tanganku ke dadanya.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa saya akan memberi tahu alasannya dan juga tentang masa lalu saya setelah pulang dari Italia. Please, beri saya waktu untuk menjelaskannya nanti, Nay!" Tuan muda mencium kedua tanganku cukup lama hingga memasukkan tubuhku dalam pelukannya.


Dari sini Aku mengerti bahwa betapa lembut dan hangatnya tuan muda ini. Sisi baiknya telah Aku dapatkan setelah sekian lama Aku yang dulu menganggapnya dingin dan kejam.


Tapi bagaimana pun juga Aku masih penasaran dengan masa lalu yang ada pada tuan muda Aras yang selama ini dia tutupi dariku.


Esok pagi pukul 09.00, tuan muda telah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Tapi sayangnya Aku tidak diperbolehkan untuk mengantarnya ke sana. Jadi Aku hanya mengantarnya sampai depan halaman parkiran mobil saja.


"Nay, ingat pesan saya dan tunggu sampai saya kembali dari Italia, ya?" Tuan muda mengusap pipiku beberapa kali dengan tersenyum.


Aku mengangguk dan mengulum senyumku menahan malu.


Ada beberapa pelayan dan bodyguard yang berdiri tepat di depan memperhatikan kami berdua terutama bi Tias.


"Ekhemmm," Kode suara serta tatapan tajam tuan muda Aras seketika membuat para pelayan dan bodyguard membalikkan badan mereka seperti tahu apa yang akan tuan mudanya lakukan.


Tuan muda perlahan mendekatiku dan berani mencium bibirku tiba-tiba.


Cup


Jantungku serasa mau copot karena baru kali ini tuan muda mencium diriku dengan inisiatifnya sendiri tanpa paksaan.


"Pasti saya akan merindukanmu, Nay!" ujar tuan muda.


"Aku juga," balasku berucap.


Pandangan mata kami beradu, sungguh Aku tersipu malu. Lantas dengan cepat tuan muda menarik pinggangku lalu mencium bibirku kembali begitu dalam cukup lama hingga kami terbuai dan melupakan kumpulan manusia yang berbaris di hadapan kami.


"Oh my God," ucap salah satu bodyguard dengan kaget yang memang sengaja mengintip aktivitas kami berdua.


Sontak kami pun mengakhiri aktivitas yang kami ciptakan saat mendengar suaranya.

__ADS_1


"Hei, siapa suruh kamu membalikkan badannnn" teriak tuan muda membentak bodyguard itu dengan sangat geram.


Bersambung....


__ADS_2