
Aku menelisik wajah Luis yang tersirat ada sesuatu di senyumannya. Ada yang aneh dan raut wajahnya pun menggambarkan kepuasan tersendiri yang tidak Aku ketahui.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" tanyaku yang membuat dia mengalihkan pandang ke ponsel miliknya.
"Lihat ini, jika kau beri tahu Aras, maka aku akan mengatakan bahwa di antara kita ada hubungan spesial," Luis memperlihatkan foto kami berdua saat Luis mengelus pipiku seakan kami adalah dua sejoli yang sedang pacaran.
Aku membulatkan mataku tak percaya bahwa Luis orang yang benar-benar licik. Aku menyesal telah mempercayainya.
"Kau, dasar penjahat. Dugaanku benar, bahwa kau menyembunyikan sesuatu dan memanfaatkan aku dengan dalih mengajakku ke luar dari kediaman Ahmet," Aku begitu marah dan bangkit berdiri dari kursi.
Luis pun ikut berdiri dan mengatakan sesuatu.
"Hei tenanglah cantik, aku hanya ingin membuat kejutan saja pada Aras," ucapnya beralasan.
Aku menatap Luis tak percaya.
"Aku ingin pulang sekarang," Aku berjalan melangkah menuju mobil berada.
"Baiklah," Luis mengikuti aku dari belakang setelah membayar tagihan minuman yang kami pesan.
Setelah itu Aku memasuki mobilnya saat Luis membukakan pintunya.
Hening tak ada pembicaraan yang Aku layangkan pada Luis. Aku sangat kesal padanya, tapi Luis selalu melirikku tiada henti.
"Hei cantik, berhentilah memasang muka masam. Sungguh aku tidak berniat macam-macam padamu maupun suamimu," ujar Luis meyakinkanku tapi Aku masih saja berdiam tak mempedulikan perkataannya.
Aku hanya menatap pandanganku ke arah jalanan untuk menikmatinya sebagai kesempatanku sebelum kembali ke istana rapunzel keluarga Ahmet. Huh, menyedihkan sekali diriku.
Setengah jam kemudian, sampailah kami di kediaman Ahmet. Aku langsung ke luar dari mobil dan berjalan menuju depan pintu gerbang belakang sambil mengintip di area dalam taman belakang.
"Ayo masuklah, jangan mengintip seperti itu. Tidak akan ada yang melihat kita," Luis langsung membuka gerbang dengan mudah karena memang dia lah yang telah mengendalikan seluruh pelayan serta pengawal di rumah itu.
Aku berjalan masuk dengan lega tanpa menatap Luis.
"Hei, tidak bisakah kau berterima kasih padaku karena aku telah mengajakmu jalan-jalan?" Luis menarik tanganku hingga langkahku terhenti.
"Untuk apa aku berterima kasih, karena semuanya telah kau rencanakan dengan sengaja. Aku nggak tahu tujuanmu apa, yang pasti jangan pernah datang kembali lagi ke rumah ini," Aku menepis tangan Luis cukup kasar.
"Ternyata kau ini keras kepala. Baiklah, ingat pesan saya. Jaga rahasia pertemuan kita. Biar nanti aku yang akan datang sendiri ke Aras, mengerti?" Luis mendekat ke arahku dan membisikkan ucapanya ke telingaku hingga akhirnya dia mencium pipiku.
__ADS_1
Cup
Aku kaget dengan tingkah Luis yang menciumku begitu saja dengan berani.
"Hei kurang ajar kau, sialan!" Aku sangat marah pada Luis tapi dia hanya tersenyum lebar ke arahku.
"Itu tanda persahabatan kita. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa, cantik!" Luis langsung beralih melangkah dengan cepat menjauh dari kediaman Ahmet lalu bergegas pergi melajukan mobilnya.
Aku pun bergegas memasuki rumah dan melihat sekeliling ruangan di lantai bawah. Tapi Aku melihat semua pelayan melakukan aktivitas mereka seperti biasa, apalagi bi Tias yang asik berada di dapur untuk memasak. Semua keadaan di rumah ini semuanya normal seperti biasa.
"Bi Tias," sapaku padanya.
"Eh, Non Naya sudah bangun. Tumben baru bangun jam segini?"
Aku bingung saat bi Tias berkata seperti itu.
"Emm, i-iya tadi aku sedang pusing saja sedikit," alasanku berbohong.
"Loh, kok nggak bilang Bibi sih, Non. Tadi Bibi ke kamar tapi pengawal yang menunggu di depan kamar Non bilang, jika Non nggak mau diganggu, rupanya Non sakit," ujar bi Tias panik.
"Aku udah nggak apa-apa, kok. Bibi jangan bilang sama suamiku, ya. Aku nggak mau mengkhawatirkan suamiku," Aku meyakinkan bi Tias agar dia tidak mengatakannya pada tuan muda.
"Iya, Bi Tias."
Aku berjalan menuju kamar yang masih berdiri satu pengawal di depan pintu kamarku.
"Nona, ini ponsel pemberian dari tuan Luis untuk Nona. Di ponsel itu sudah tertera nomor tuan Luis yang akan menghubungi Nona nantinya," ujar pengawal yang tiba-tiba memberikan ponsel ke hadapanku dengan sembunyi-sembunyi.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini? Bukankah kau bekerja untuk suamiku?" ucapku menatapnya tak percaya.
"Maafkan saya, Nona. Tolong jangan beri tahu pada tuan muda Aras," pengawal itu tertunduk mengakui kesalahannya.
Aku langsung meraih ponsel dari tangan pengawal itu, kemudian Aku langsung memasuki kamarku.
"Mau apa lagi si Luis itu? Apa yang dia inginkan dariku? Dasar pria gila!" umpatku dengan kesal.
Derttt derttt
Ponsel yang baru diberikan tadi pun bergetar tiba-tiba. Seperti yang dikatakan oleh pengawal, bahwa Luis akan meneleponku.
__ADS_1
"Hallo, kenapa kau berani sekali melakukan hal sekonyol ini, Luis? Kalau suamiku tahu, bisa habis aku."
"Tenang saja, cantik. Aku akan merahasiakan ini pada Aras. Lagian seharusnya kamu bersyukur karena aku memberimu ponsel dengan cuma-cuma. Bukankah selama ini ponselmu disita oleh Aras?"
"Kau mengetahui segalanya di rumah ini. Dasar penjahat!"
"Hahaha, yang penting nikmatilah hidupmu dengan ponsel baru itu. Sampai jumpa, cantik!"
Tut tut tut
Panggilan telepon pun terputus.
"Dasar pria menyebalkannn!" umpatku dengan kesal.
Sembari memandang ponsel baruku, terlintas dibenakku dengan seseorang yang masih saja kurindukan, yang telah lama Aku tak mendengar suaranya. Ya, siapa lagi kalau bukan kak Niko.
Bohong jika Aku tak merindukan kak Niko, mantanku itu. Walau sekarang Aku mungkin bisa melupakannya tapi Aku masih sangat merindukan sosok kak Niko.
Tapi tiba-tiba saja niatku untuk menghubungi kak Niko Aku urungkan karena sekelebat Aku mengingat tuan muda Aras. Sungguh Aku masih takut dengan pria yang berstatus suamiku itu.
Malam pun tiba, Aku yang sedang asik memainkan ponsel baruku. Baru saja Aku ingin membuka internet, tiba-tiba saja bi Tias datang ke kamar mengagetkanku. Sontak Aku langsung menyembunyikan ponsel baruku di bawah bantal.
"Non, ini tuan muda Aras ingin bicara," bi Tias menyerahkan ponsel miliknya padaku.
Aku bergegas meraih ponsel itu dari bi Tias dengan sedikit gugup.
Kemudian tampaklah tuan muda Aras dari layar ponsel dengan senyuman manisnya melalui video call.
"Hai, Nay sedang apa kamu?"
"Ah, a-aku sedang emm ... santai saja," jawabku sedikit bingung dan gugup.
"Ada apa denganmu? Kamu sakit, Nay?"
"Ah, nggak kok. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Aku hanya ... merindukan kamu, suamiku. Sungguh aku tidak ingin sendirian seperti ini tanpa kamu," Aku sengaja berbohong pada tuan muda.
"Tunggu saya, karena saya juga merindukan kamu, Naya."
Aku sangat bahagia mendengar perkataan tuan muda yang juga merindukanku. Kami saling melepas rindu walau masih dalam kecanggungan yang terasa.
__ADS_1
Bersambung....