
Sesuatu yang sudah terjadi tak akan bisa diulang kembali. Cinta yang datang dengan tiba-tiba bisa mengobati rasa kebencian yang dalam. Ada rasa penyesalan yang tak bisa diungkapkan. Rasa ragu, gugup, bingung dan takut entah memulainya dari mana.
"Nay, kau sudah tidur?" tanya tuan muda sedikit ada keraguan.
Aku yang berbaring membelakanginya hanya diam tak menjawab pertanyaan suamiku itu. Aku merasa malu menampakkan wajahku yang sembab akibat menangis. Masa bodoh dengan pertanyaan dari dia, terserah jika dia marah.
"Nay, aku tahu kamu belum tidur. Boleh kita bicara sebentar?" tanya tuan muda lagi.
Aku masih saja berdiam tak peduli dengan ucapannya.
"Naya, aku ingin bicara sesuatu," tuan muda menyentuh lenganku hendak membalikkan tubuhku agar berhadapan dengannya.
Aku langsung menepis tangan suamiku dengan kasar.
"Lain kali saja bicaranya, aku mau tidur!" ucapku dingin.
Jujur aku kesal dan marah padanya. Sebenarnya aku tidak pernah meminta lebih pada suamiku apalagi kewajibannya yang memang Aku akui di antara kami masih ada rasa ketegangan tertentu mengingat pernikahan kami yang dijodohkan.
Sementara, Aku dan tuan muda hanya menjalankan amanah dari papanya. Tapi rasa cinta mulai tumbuh di antara kami sedangkan kami masih malu-malu untuk mengakuinya. Hanya tak ingin kehilangan satu sama lain yang bisa kami buktikan.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu. Lanjutlah kembali tidurmu," kata tuan muda pelan tapi bernada kesal.
Kali ini tuan muda mengalah. Dia tidak akan memperpanjang ucapan yang dia dengar dari Luis. Karena memang yang bersalah dari awal adalah tuan muda sendiri.
Tuan muda pun berbaring di kasur dan membelakangiku begitu juga denganku. Kami saling tidur membelakangi seperti orang yang bermusuhan. Ya, kami memang sedang dalam suasana yang sangat buruk.
Satu minggu berlalu, Aku yang sekarang tak banyak bicara begitu pula dengan suamiku yang ikut-ikutan berdiam, hanya bicara seperlunya saja jika ada sesuatu yang penting dia sampaikan seperti lembur atau pulang malam dari kantor.
__ADS_1
Aku juga sering menjawab pertanyaan Luis dengan dingin jika dia datang ke rumah. Aku kesal pada Luis. Karena mulutnya yang tidak bisa dikontrol dan begitu berani menyinggungku tentang masalah pribadi.
Di kantor Haras Company, Luis tiba-tiba masuk ke ruangan tuan muda yang sedang sibuk dengan beberapa file yang dia baca.
"Brother, kenapa akhir-akhir ini kakak ipar begitu cuek dan dingin padaku? Biasanya dia selalu ramah padaku, ini aneh. Apa ada masalah pada kakak ipar?" ucap Luis mengadu pada tuan muda lalu bertanya kemudian.
Tuan muda merespon ucapan Luis kemudian beralih menatap Luis tajam.
"Semua itu karena ulah kamu. Gara-gara kamu, Naya sekarang tidak banyak bicara padaku dan dia sekarang tidak peduli padaku, itu semua karena kau telah menyinggung soal anak," ujar tuan muda dengan kesal.
"Wah, itu kode seorang wanita. Seharusnya kamu peka dong. Itu tandanya kakak ipar ingin mempunyai anak dari kamu, Brother. Ayolah, jangan diam saja. Hapus gengsimu itu. Kasihan kakak ipar, dia pasti merasa telah gagal menjadi seorang istri karena belum memiliki anak dari suaminya," kata Luis memberi masukan pada kakaknya yang masih saja mementingkan egonya.
Luis sangat bingung menghadapi tuan muda yang begitu sulit untuk dibujuk rayu. Padahal apa yang Luis lakukan semata-mata hanya untuk kebahagiaan kakaknya.
"Kau tahu kan jika hari ini Niko kembali ke Jakarta. Satu jam lagi dia akan datang ke sini," ujar Luis sembari melihat jam di tangannya.
Kali ini tuan muda sangat setuju dengan apa yang diucapkan oleh Luis. Selama beberapa hari ini tuan muda begitu rindu dengan kebersamaan kami, canda tawa serta pelukan hangat yang selalu mengisi tiap malam kami.
"Aku sangat merindukanmu, Nay. Maafkan aku. Kali ini aku janji akan berubah menjadi suami yang baik untuk kamu, aku janji Naya!" gumam tuan muda dengan dirinya sendiri sembari mengingat wajahku, istrinya.
Sementara itu, Luis yang mempunyai segudang ide mulai bergegas melakukan tugasnya. Luis meraih ponsel di saku jasnya kemudian menghubungi satu nomor seseorang yang sangat dia percaya dan dia yakin orang itu pasti mau membantunya untuk menjalankan misinya.
Setelah lama berbincang di telepon, Luis tersenyum senang dan berharap apa yang dia lakukan akan mendapatkan hasil yang sangat baik dan memuaskan.
"Yes, sebentar lagi ... kali ini pasti berhasil," gumam Luis lalu bersiul-siul sambil berjalan sembari menunggu seseorang.
Pukul 10.00 di kediaman tuan muda Aras, bi Tias berjalan cepat menuju kamar atas yang tak lain adalah kamarku bersama tuan muda. Nafas bi Tias yang tak teratur dan raut wajahnya terlihat panik.
__ADS_1
"Non Naya, itu Non, anu ... tuan muda Aras sedang sakit di kantornya. Dia tidak enak badan lalu minta sama Bibi dibuatkan makanan dari rumah. Jadi Non Naya disuruh ke kantor untuk membawa makan siang untuk tuan muda, sekarang!" ucap bi Tias tanpa jeda dan begitu cemas.
Aku terkejut dan terdiam sejenak, entah apa yang Aku pikirkan sekarang. Antara percaya dan tidak percaya. Baru sekarang Aku dengar bahwa suamiku mengizinkan Aku untuk ke luar dari rumah besar ini. Lalu apakah mungkin suamiku itu sudah membolehkan Aku ke kantornya? Aku rasa ini salah besar.
"Non, Non Naya ... Non baik-baik saja kan?" tanya bi Tias berulang kali membangunkan lamunanku.
"Eh, emm ... suamiku sakit, Bi?" tanyaku memastikan kembali.
"Iya, Non sekarang Bibi siapkan makanan tuan muda dulu, ya. Non Naya gantilah pakaian dulu, setelah itu turun ke bawah, sopir pribadi tuan muda sudah menunggu di halaman depan," ujar bi Tias mengingatkan.
"Baiklah, aku akan segera bersiap."
Aku bingung harus panik mendengar suamiku sakit atau bersemangat karena akan pergi ke kantor Haras Company. Tapi Aku yakin dengan perasaanku bahwa suamiku itu baik-baik saja. Sebenarnya ada apa ini? Apa ada sesuatu yang telah terjadi?
Pukul 11.30 tak terasa mobil yang membawaku telah sampai di depan kantor Haras Company. Aku sangat merindukan tempat ini, Aku merindukan untuk bekerja di sini lagi, tapi itu tidak mungkin. Pasti Aku tidak diizinkan oleh suamiku.
Perlahan Aku masuk ke lobi dan mulai berjalan hingga baru Aku sadari semua karyawan di sana hormat padaku entah menganggapku sebagai mantan karyawan di sini atau menganggapku sebagai istri dari tuan muda Aras. Aku hanya tersenyum dan membalas anggukan pada mereka.
Tak lama kemudian, Aku telah berada di depan ruangan tuan muda, suamiku sendiri. Aku bingung dan apa yang harus Aku lakukan di depannya nanti. Apakah Aku harus berperan kembali seolah-olah Aku khawatir dengan keadaanya yang sedang sakit? Aghhh menyebalkan!
Aku memejamkan mataku sembari mengambil nafas perlahan lalu kubuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku masuk dan berjalan cepat ke arah kursi kebesaran suamiku tanpa mempedulikan dua orang selain suamiku sedang duduk di sofa berseberangan.
"Sayang, kau sakit? Apa yang sakit, hah? Bukankah dari rumah tadi kau baik-baik saja? Apa kau salah makan atau minum? Apa kau makan sesuatu yang pedas atau memakan makanan yang basi, mungkin?" Aku tak henti bertanya sambil memeriksa kening dan tangan suamiku memastikan, apakah badannya panas atau tidak.
Tuan muda kaget dan membulatkan matanya tak percaya melihatku yang begitu cemas padanya.
Bersambung....
__ADS_1