Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Melarikan Diri


__ADS_3

Tok tok tok


Pukul 19.00 malam, terdengar suara ketukan pintu di depan rumahku, semakin lama ketukan pintu itu semakin kuat.


"Naya, buka pintunya Naya! Saya hitung sampai tiga, kalau kamu nggak buka juga, akan saya dobrak pintu kamu ini, satu ... dua ... tiii...," ternyata itu adalah teriakan tuan muda Aras sembari mengancamku.


Aku kesal hingga belum sempat dia meneruskan kata 'tiga' Aku pun dengan cepat membuka pintu rumahku. Dan terlihatlah wajah tampan nan gagah tapi sungguh keindahan itu pudar saat dia memperlihatkan wajahnya yang merah padam dan sorot matanya tajam seperti singa yang ingin memangsa.


"Ada apa teriak-teriak di rumahku?" ucapku ketus dengan melotot ke arah tuan muda Aras.


"Kamu yang tuli sejak tadi saya mengetuk pintu bukan malah dibuka tapi kamu sengaja membiarkan saya berdiri lama di sini," ujar tuan muda tak terima.


"Aku tidak ada urusan denganmu, sebaiknya kau pergi dari rumahku," ucapku yang hendak menutup kembali pintu rumah.


Tuan muda Aras menahan pintu rumahku dengan tangannya dan sekilas dia masuk ke rumahku tanpa izin.


"Kita punya urusan yang harus diselesaikan secepatnya!" bantah tuan Aras membentak.


"Aku tidak mau, pergi dari siniiii," Aku mendorong tubuh tuan muda sekuat tenaga.


"Berani kamu mengusir saya, mentang-mentang kamu sekarang sudah menjadi anak adopsi papa saya. Beraninya kamu mencuci otak papa saya sehingga kamu mendapatkan setengah dari harta warisan papa. Saya tidak akan membiarkan kamu mendapatkan harta yang seharusnya menjadi milik saya," tuduh tuan muda sembari menggenggam lengan kananku kuat.


"Aghhh ... sakittt!" pekikku kesakitan hingga tuan muda melepaskan lenganku dari genggamannya.


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang telah dimaksudkan oleh tuan muda Aras sampai-sampai dia menghinaku habis-habisan.


"Apa maksud kamu tentang adopsi dan warisan? Aku tidak mengerti," tanyaku sambil memegang lenganku yang sudah memerah.


"Dasar wanita licik, pura-pura tidak tahu," maki tuan muda.


Hatiku sakit sekali saat tuan muda Aras menghinaku dengan perkataan yang tak seharusnya dia ucapkan padaku. Dia memang lelaki yang tak punya hati dan berperilaku buruk.

__ADS_1


"Lihat dan baca semua ini baik-baik!" tuan Aras memberikan dua kertas ke hadapanku lalu Aku perlahan meraihnya.


Aku membaca dengan cermat dan hingga Aku kaget dan tak percaya. Kenapa Aku sampai tidak tahu bahwa tuan Halim telah mengadopsiku menjadi puterinya ditambah dengan surat warisan yang membuatku tercengang hingga Aku tak bisa lagi berbicara apa-apa.


"Sumpah, Aku nggak tahu apa-apa soal ini. Tuan Halim sudah membohongiku," tanganku bergetar dan mataku mulai berkaca-kaca, entah bagaimana lagi Aku menjelaskan padanya.


"Kamu jangan nuduh papa saya sembarangan, jelas-jelas kamu sudah memeras harta papa saya dengan alasan kecelakaan yang saya buat, kan?" lagi-lagi dia menuduhku tanpa bukti, Aku semakin geram mendengarnya hingga Aku menamparnya.


Plakkk


"Jangan pernah menghina dan menuduhku tanpa bukti, kamu sudah keterlaluan. Sekarang silahkan pergi dari sini, pergiiii...," teriakku menyuruhnya pergi dan mendorong tubuhnya kembali agar keluar dari rumahku.


Tuan muda sedikit meringis sambil memegangi pipinya yang kutampar tadi.


"Kamu sudah berani menampar saya dan mengusir saya. Lihat saja nanti, kamu akan saya buat menderita setelah menjadi istri saya, karena saya tidak akan biarkan kamu menyentuh sepeserpun harta ataupun saham dari papa!" ucapnya dengan tegas dan menekan, ada aura dendam yang terpancar dari wajahnya.


Sungguh Aku ketakutan mendengar pernyataan darinya, apalagi saat dia mengatakan tentang pernikahan. Jujur, walaupun dia tipe pria ideal bagiku tapi Aku membenci tuan muda Aras.


"Terserah, apapun alasanmu pernikahan ini tetap terjadi karena aku yang menentukannya, mengerti?" ucapnya seakan dia adalah penguasa segalanya bahkan diriku menjadi tak berdaya karena perintahnya.


Tuan muda Aras langsung berjalan keluar dari rumahku begitu saja.


"Aku tidak sudi menikah denganmu. Kamu itu pembunuh ... pembunuhhh!" tegasku dan berteriak dengan suara lantang padanya.


Aku tak peduli jika dia akan marah padaku, masa bodoh, karena Aku sangat benci padanya. Tapi beruntungnya, tuan muda Aras tidak mempedulikan makianku hingga dia pun hilang dari pandangan mataku.


Esok hari, di kantor Haras Company pukul 10.00 pagi, pak Agus datang kembali memberi perintah untuk tuan muda Aras segera menyelesaikan amanat dari tuan besar Halim Ahmet. Amanat itu tidak bisa ditunda atau dibatalkan karena ada resiko yang akan terjadi kedepannya jika tidak terlaksana.


"Kapan anda akan melangsungkan pernikahan dengan nona Kanaya, Tuan? Sesuai dari surat wasiat ini 40 hari sesudah kematian tuan Halim, pernikahan harus segera dilaksanakan, karena jika tidak maka setengah seluruh harta kepemilikan tuan Halim beserta saham perusahaan akan berpindah tangan dan uangnya akan disumbangkan ke beberapa panti asuhan. Jadi saya sarankan untuk merundingkan ini dengan nona Kanaya secepatnya," kata pak Agus memberi peringatan dan bertindak tegas pada tuan muda.


"Tenang saja, pernikahan ini pasti akan terjadi," jawab tuan muda bernada datar tetapi ada rasa dendam terlihat dari wajahnya.

__ADS_1


Setelah kepergian pak Agus, dengan segera tuan muda Aras meraih ponselnya dan mulai menghubungi salah satu anak buahnya.


"Kau, pergi ke rumah Kanaya dan bawa dia pada saya sekarang juga!" perintah tuan muda Aras yang harus dipatuhi.


Di kediaman rumahku pukul 11.00, seorang pria memintaku untuk menemui tuan muda Aras. Dengan membawa tas yang berisi sejumlah uang dan ATM, Aku berhasil mengelabui pria itu saat dia hendak membawaku naik ke mobil, lalu dengan cepat Aku melarikan diri darinya.


Aku tidak ingin bertemu dengan Aras pembunuh itu, Aku sangat benci padanya dan Aku menolak untuk menikah dengannya. Jadi Aku putuskan untuk kabur dari rumah untuk beberapa hari.


"Tuan, maafkan saya ... nona Kanaya kabur, Tuan!" ucap anak buah tuan muda saat meneleponnya.


Tuan muda Aras mengerang marah saat mendapat kabar dari anak buahnya, dia mengebrak meja kerjanya dengan keras.


"Dasar bodoh, membawa gadis seperti dia saja tidak bisa, arghhh!" teriak tuan muda Aras menggema.


Dengan inisiatifnya, tuan muda Aras mengingat sekretarisnya, ya siapa lagi kalau bukan Niko. Dia meminta kak Niko menghadapnya saat dilanda kebingungan.


"Saya tahu kamu itu kekasihnya Naya, tapi saya tidak peduli itu. Saya hanya menegaskan padamu bahwa secepatnya saya akan menikahi gadis itu atas permintaan papa," ucap tuan muda Aras tanpa basa-basi tanpa memikirkan perasaan kak Niko.


"Iya, saya tahu. Saya akan memberikan Naya untuk anda, Tuan. Dan saya akan memutuskan hubungan dengan Naya secepatnya," ucap kak Niko dengan tenang padahal dia sama sekali tak ingin melepaskanku begitu saja, apalagi memberikanku kepada tuan mudanya itu.


Tuan muda Aras sama sekali tidak memiliki hati nurani pada kak Niko di saat Aku sedang menjalin hubungan dengan sekretarisnya itu, dia malah langsung mengatakan bahwa dia akan menikahiku padahal Aku belum menyetujuinya.


"Sekarang saya minta sama kamu, bawa Naya menghadapku secepatnya. Temukan Naya sekarang juga karena dia telah kabur di tangan anak buah saya," perintah tuan muda Aras pada kak Niko.


"Apa? Naya kabur? Baiklah Tuan, saya akan mencari dia sampai ketemu," ujar kak Niko panik.


"Ingat, jika kamu belum juga menemukan Naya, maka terpaksa saya akan menugaskan beberapa para pengawal untuk mencarinya. Kau tahu sendiri bagaimana jika saya bertindak?" tegas tuan muda Aras kesekian kalinya pada kak Niko.


"Tolong jangan lakukan kekerasan pada Naya, Tuan. Saya janji akan membawakan Naya pada Tuan secepatnya," ujar kak Niko yang cemas, kemudian dia bergegas pergi dari hadapan tuan mudanya.


Betapa baik hatinya kak Niko, bahkan dia mencemaskan Aku di saat ancaman diarahkan padaku oleh tuan mudanya. Jujur Aku tak ingin kehilangan kak Niko yang selalu ada dan membuat hari-hariku bahagia serta mengantikan keberadaan sosok ibu dan ayah untukku.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2