
Tiga hari kemudian, selama Luis menjadikan tempat kerjanya di kantor Haras Company yang tak lain adalah perusahaan tuan muda Aras, selama itu juga pekerjaan mereka berdua begitu baik, tapi hubungan mereka masih tidak begitu baik.
Tak bisa dipungkiri, tuan muda Aras masih sama tak menganggap Luis sebagai bagian dari keluarganya. Dia terpaksa menjalani hari-harinya dengan berhubungan baik bersama Luis jika hanya di depan karyawan atau orang luar saja lalu setelahnya suasana akan menjadi tegang diantara mereka berdua.
Tuan muda Aras masih merahasiakan siapa Luis sebenarnya dari teman-temannya maupun di kawasan kantornya. Tapi tidak dengan Luis, dia dengan santainya membeberkan kebenaran tentang siapa dirinya bagi tuan muda Aras.
"Tuan, maafkan saya atas kejadian beberapa hari yang lalu karena kelancangan saya terhadap tuan Luis," ucap Vena hormat penuh sesal.
"Maaf soal apa?" tuan muda mengerutkan keningnya bingung.
"Kalau saya tahu tuan Luis adik anda, pasti saya akan langsung menyuruhnya masuk ke ruang kerja anda. Wajah anda dan tuan Luis sangat berbeda. Tolong maafkan saya, Tuan muda."
Deg
Seketika tuan muda menghentikan pergerakannya saat dia sedang menandatangani laporan yang diberikan oleh Vena.
Memang diakui bahwa Luis memiliki wajah yang tampan begitu juga dengan tuan muda Aras, tapi perbedaan mereka secara fisik begitu banyak. Luis yang berkulit putih dan berwajah asli orang Eropa sedangkan tuan muda Aras berkulit cokelat exotis berwajah Asia dan Eropa.
Umur mereka pun cukup jauh berbeda. Umur Luis lebih muda 10 tahun dari tuan muda Aras. Luis begitu masih sangat muda, jika dia mendapatkan hidup yang layak maka usianya sama seperti anak yang baru lulus SMA. Dan tidak dipungkiri, umurnya yang semuda itu bahkan dia sudah seperti seorang pria dewasa yang berumur cukup matang.
"Adik? Tahu dari mana kamu jika Luis adikku?" tanya tuan muda penasaran dan kesal.
"Tuan Luis yang mengatakannya saat dia meminta bantuan pada saya tadi," jawab Vena.
Tuan muda terlihat sangat kesal dan marah.
"Apa semua karyawan di sini tahu tentang ini?" tanya tuan muda menyelidik.
"Sepertinya mereka tahu, Tuan. Karena tuan Luis juga memerintahkan karyawan di sini dengan mengaku sebagai adik dari Tuan muda Aras," ucap Vena menjelaskan yang kali ini menatap tuan muda di depannya.
Tuan muda mengepalkan tangannya geram mendengar ucapan dari Vena. Luis seolah mempunyai hak atas perusahaan yang tuan muda miliki, pikirnya.
Tuan muda pun mengambil tindakan dan meminta pertanggung jawaban dari Luis atas apa yang Luis katakan tentang jati dirinya yang mengaku sebagai adik dari tuan muda tanpa izin darinya.
"Kenapa kau mengatakan pada karyawan di sini bahwa kau adik saya?" tanya tuan muda dengan kesal saat dia masuk begitu saja di ruangan yang Luis tempati.
"Tidak usah ditutupi, lama kelamaan juga semua orang bakalan tahu status kita," ucap Luis dengan tenang.
"Bahkan saya tidak sudi mempunyai saudara sepertimu. Jaga sikap kamu selama berada di daerah kekuasaan saya. Jangan tunjukkan bahwa kamu itu seorang preman."
__ADS_1
"Ya ya baiklah, Tuan muda Aras!" Luis berdiri dan memberikan hormat layaknya menuruti perintah dari sang atasan.
Luis memberikan senyum ramahnya pada tuan muda.
"Apa aku harus memberi hormat seperti ini padamu, Tuan agar kau tidak marah-marah lagi padaku?" Luis bertanya dengan candaannya.
"Bisakah kau bicara santai padaku sebagai seorang teman, Tuan?" pinta Luis kembali dan bertanya.
"Semua orang akan curiga karena kecanggunganmu padaku yang berbicara formal seperti orang asing," jelas Luis menambahkan.
Tuan muda tidak mempedulikan perkataan Luis hingga tuan muda Aras langsung pergi meninggalkan Luis begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari Luis.
"Huh, dasar beruang kutub!" gumam Luis mengumpat.
Malam hari di kediaman Ahmet pukul 19.00 tuan muda Aras dan Aku sudah berada di ruang makan terlebih dahulu sebelum semua makanan terhidang lengkap oleh bi Tias.
Seperti biasa Aku menyiapkan piring ke hadapan suamiku terlebih dahulu, dan sekilas ada senyuman yang terbit di wajah tuan muda saat dia melirikku. Aku begitu senang melihatnya. Tapi seketika itu juga kebersamaan kami tiba-tiba menjadi buruk ketika Luis datang saat kami hendak menyantap makan malam.
"Hai Brother, hai kakak ipar ... boleh aku bergabung makan malam di sini? Aku bosan makan sendirian" Luis duduk di depan Naya begitu saja tanpa malu.
Aku dan tuan muda tercengang melihat kelakuan Luis yang memang tidak ada sopan santun sama sekali, padahal tuan muda sudah memperingatkan Luis berkali-kali saat di kantor.
"Wah, sepertinya hidangan ini sangat lezat. Boleh ya aku ikut makan di sini?" pinta Luis saat dia melihat makanan favoritnya di hadapannya.
"Emm ... enak banget. Apa kau yang memasaknya kakak ipar?" tanya Luis menatapku. Tapi aku malah beralih memandang mata suamiku.
"Jaga sikap kamu Luis!" ucap tuan muda sedikit membentak.
Aku langsung memberi kode pada tuan muda agar tenang dan sabar menghadapi sikap Luis.
Tiba-tiba bi Tias datang saat Luis bergabung di ruang makan dengan kami berdua.
"Kau sangat menyukai gulai ayam itu kan, Nak?" tanya bi Tias mendekati Luis.
"Iya, aku sangat menyukainya. Dulu mama sering memasak ini untukku, masakannya enak banget, mirip seperti ini. Apa Bibi yang memasak ini?"
"Iya, makan lah yang banyak. Kau sekarang sudah tumbuh besar," bi Tias menatap sendu wajah Luis dan tersenyum getir.
"Bibi mengenalku?" tanya Luis bingung sambil berpikir.
__ADS_1
"Ya, nyonya Laura sering bercerita tentang kamu saat dia menelepon Bibi hanya untuk menanyakan kabar tuan muda Aras. Bahkan makanan kesukaan kalian berdua sama, menyukai gulai ayam," ucap bi Tias menjelaskan dengan lirih.
"Benarkah, Bi? Aku senang mendengarnya. Kau orang pertama yang menyambutku dengan hangat di sini," ujar Luis lalu beralih menatap tuan muda Aras seolah menyingung.
Bi Tias mengangguk pelan.
"Kau dulu masih sangat kecil. Apa kau sudah punya pacar di Italia?" tanya bi Tias tersenyum.
"Hahaha, aku masih sangat muda, mana mungkin aku berpacaran," sahut Luis tertawa.
Muda? Itu lah yang saat ini Aku cerna. Orang sedewasa Luis belum ada pacar di Italia? Sepertinya nggak mungkin deh. Aku pun penasaran oleh pernyataannya.
"Memangnya umur kamu berapa jika kau bilang masih sangat muda, Luis?" tanyaku ingin tahu.
"Kurang lebih 18 tahun."
Jleb
"Ah, wajahmu tak menunjukkan usiamu belasan tahun. Malah aku pikir usiamu hampir sama denganĀ suamiku," ujarku masih tak percaya.
"Hei, aku terbiasa hidup di jalanan dan bekerja keras sejak remaja, jadi wajar bila wajahku terlalu tua untuk dikatakan seperti itu," jelas Luis meyakinkan.
Aku hanya menatap wajahnya tanpa henti sambil membandingkan wajah tuan muda dan Luis. Entahlah aku masih saja tak percaya.
Tuan muda Aras begitu tak berselera untuk menyantap hidangan makan malam bersama di ruang makan, karena suasananya sudah menjadi buruk saat Luis datang.
"Naya, bawakan makananku ke kamar. Aku sudah malas makan di sini," perintah tuan muda padaku kemudian tuan muda bangkit dan berjalan hendak menuju kamarnya.
"Ah, ba-baiklah akan kubawa," ucapku ragu kemudian berjalan mengikutinya sambil membawa sepiring makanan yang sudah terisi nasi dan lauk.
"Hei Brother, aku ingin makan denganmu kenapa kau malah pergi?" teriak Luis sedikit kecewa.
Bi Tias merasa kasihan terhadap Luis yang diacuhkan begitu saja oleh tuan muda.
"Sudah, biarkan saja. Tuan muda memang orangnya seperti itu. Kamu makan lah di sini," ucap bi Tias.
"Apa sebenci itu kak Aras padaku?" tanya Luis lirih.
"Lama kelamaan kebenciannya akan luntur padamu. Makanya kau harus turuti semua perkataan tuan muda."
__ADS_1
Luis mengangguk paham, rasa kecewa dan kesedihan meliputi dirinya saat ini. Tetapi Luis tidak akan tinggal diam, Luis akan tetap berusaha sebaik mungkin agar tuan muda menerimanya menjadi saudara.
Bersambung....