
Setelah kepergian tuan muda menuju kantornya, Aku berjalan ke taman belakang melihat-lihat bunga-bunga sambil duduk di bangku dan membaca majalah sebagai obat penenangku setelah beberapa hari ini Aku terkurung di kamar. Tapi pergerakanku tidak bebas karena ada satu bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasiku.
"Nona, jangan terlalu lama di sini. Nona harus kembali ke kamar," bodyguard itu memperingatkanku.
"Aku bosan di kamar. Kau awasi saja Aku di sini. Tuan mudamu itu tidak akan memarahi kamu selama aku tidak kabur dari sini," ucapku dingin pada bodyguard itu.
Bodyguard itu tampak berpikir.
"Baiklah, Nona!" jawabnya patuh.
Setelah dua jam berlama-lama di taman belakang, Aku mulai bosan dan akhirnya Aku kembali ke kamar.
Pukul 14.00 siang, terbesit dalam benakku hingga Aku pun mempunyai ide untuk menjahili tuan muda Aras. Pokoknya setiap peluang yang ada di depan mata akan Aku jadikan kesempatan yang paling berharga.
Aku berjalan ke dapur, dan memulai aktifitas di sana. Sebagai isteri yang baik harus memasak, bukan? Ya, Aku akan memasak makanan untuk tuan muda Aras yang kejam itu.
Aku mulai mengambil bahan-bahan yang aku butuhkan di lemari pendingin. Setelah itu Aku siap untuk memotong semua bahan-bahan itu. Walaupun Aku tidak pandai memasak tapi Aku bisa memasak, kok. Untuk soal rasa ... entahlah lihat saja nanti saat tuan muda pulang dari kantor.
"Loh, Non kok masak sih? Sini biar Bibi saja, Non!" ujar bi Tias cemas.
"Biar saya saja, Bi. Saya ingin masakin makanan buat suami saya," ucapku tersenyum.
"Tapi Non...."
Bi Tias bingung dengan apa yang akan Aku lakukan.
"Sudahlah, Bibi jangan khawatir. Oh ya, nama Bibi siapa?" tanyaku yang pura-pura lupa.
"Hah, nama Bibi? Emm ... Tias, Non!" jawab bi Tias yang mengerti bahwa Aku sudah terpengaruh oleh obat itu.
"Non Naya mulai kehilangan ingatannya," batin bi Tias lirih.
Aku hanya tersenyum kepada bi Tias. Aku tahu apa yang sedang dipikirkan oleh bi Tias ini. Tapi Aku tidak peduli.
"Bi, nama suami saya itu siapa sih?" tanyaku menjahili bi Tias.
"Aras Ahmet, Non. Tuan muda Aras."
"Biasanya saya memangil dia dengan sebutan apa ya, Bi? Suamiku, cintaku, sayangku, my honey atau my darling?" tanyaku kembali dengan menahan tawa saat melihat ekspresi bi Tias yang mulai kaget mendengar perkataanku.
"Emm ... anu Non, itu ... apa ya?" bi Tias tampak kebingungan menjawab.
Lalu Aku putuskan untuk menjawabnya asal-asalan saja.
"My darling kah ?" tanyaku menatap bi Tias.
"Hahhh?" Bi Tias kaget bukan main setelah mendengarnya.
"Waduh, gawat ini. Bagaimana reaksi tuan muda nanti jika mendengarnya," batin bi Tias serba salah.
Bi Tias tidak menyangkalnya. Dia hanya sibuk dengan kecemasannya.
__ADS_1
"Oh ya, Bi ... suami saya suka makanan apa, ya? Saya masak makanan nanti malam untuknya," tanyaku yang memecahkan kecemasan bi Tias.
"Emm, tuan muda suka masakan gulai ayam, Non."
"Baiklah, kalau begitu aku akan masak gulai ayam buat suamiku," ucapku tersenyum pada bi Tias.
"Bibi bantu ya, Non."
"No no no, biar aku saja. Bibi kerjakan yang lain saja," perintahku tak mau diganggu.
"Baiklah, Non. Kalau ada perlu yang lain, panggil Bibi saja."
"Siap Bi," lagi-lagi aku tersenyum pada bi Tias.
Bi Tias seakan tak rela membiarkan Aku sendirian berkutat di dapur karena yang dia tahu kondisiku sekarang sangat buruk. Padahal nyatanya Aku baik-baik saja. Hah, lucunya!
Setelah kepergian bi Tias, Aku bisa bebas melakukan apa yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Membuat masakan spesial untuk tuan muda Aras tercinta, eits ... ralat, bukan tercinta tapi terkejam.
Waktunya memasak! Aku tidak begitu baik dalam memasak tapi karena terpaksa, ya ... Aku harus melakukannya demi pembalasan dendamku ke tuan muda. Lihat saja nanti apa yang Aku lakukan padanya. Hemm, jadi tidak sabar nih menunggu tuan muda pulang ke rumah terkutuk ini.
Kebetulan hari ini tuan muda pulang dari kantor pukul 20.00 malam. Aku sudah berdiri tepat di depan pintu rumah untuk menyambut kedatangan tuan muda saat mobilnya telah terparkir di halaman rumah.
Sebenarnya Aku malas sekali melakukan hal sekonyol ini padanya, tapi Aku harus melaksanakannya. Sengaja Aku menunggunya, karena ada sesuatu kejutan yang akan Aku tunjukkan ke dia.
"Loh, Nay kenapa kamu di sini?" tanya tuan muda melirikku.
"Ya, nungguin kamu pulang," ucapku tersenyum kepadanya.
Aku langsung meraih tas tuan muda di tangannya, lalu berjalan mengikutinya ke kamar.
Tuan muda mengangguk ke arahku dengan heran, sedangkan Aku langsung kembali ke dapur meminta bantuan bi Tias menyiapkan makanan untuk tuan muda.
20 menit kemudian, tuan muda berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Aku menyiapkan makanannya setelah dia duduk di kursi.
"Kenapa kau repot-repot menyiapkan semuanya?" tanya tuan muda penasaran.
"Karena aku istri kamu, darling!" ucapku membuat tuan muda dan bi Tias beralih menatapku.
"Darling?" tanya tuan muda bingung.
"Iya, kata Bi Tias aku dulu suka memanggilmu dengan sebutan darling, apa benar begitu?" tanyaku yang membuat tuan mudah salah tingkah.
"Sial, menjijikan sekali saya mendengarnya," batin tuan muda bergidik.
Tuan muda langsung beralih menatap tajam bi Tias yang sedang menyiapkan minuman untuknya.
Bi Tias hanya menggeleng secara halus seolah dia tidak mengakui apa yang Aku ucapkan, hingga dia pergi ke dapur meninggalkan kami berdua.
"Jangan kamu sebut panggilan itu lagi, saya tidak suka mendengarnya!" pinta tuan muda dengan mukanya suram.
"Kenapa? Apa terdengar menjijikan?" tanyaku padanya menahan tawa.
__ADS_1
Tuan muda kaget saat Aku mengatakan hal yang serupa dengan batinnya, seolah Aku tahu suara hatinya.
"Ti-tidak, sebut dengan panggilan yang lain saja," pinta tuan muda gugup.
Aku tampak berpikir.
"Emm ... baiklah suamiku," ucapku tersenyum sambil mengedipkan mataku genit.
"Ekhemmm...," tuan muda menetralkan suasana hatinya yang terlihat sedikit canggung mendengar Aku menyebutnya 'suamiku'.
Dan sekarang saatnya tuan muda menyantap makanan yang telah Aku sajikan kepadanya.
"Nah, ini gulai kesukaan kamu spesial aku buat untuk suamiku," Aku memasukan sepotong gulai ayam ke piringnya sambil tersenyum.
Tuan muda meraih sendok dan garpu siap untuk menyantap tapi sebelumnya dia beralih menatapku.
"Kenapa kamu tidak mengambil makanan ke piringmu?" tanya tuan muda heran.
"Oh, i-itu karena Aku ingin memastikan kamu makan terlebih dahulu biar aku merasa tenang. Aku tahu kamu lelah sedari tadi kerja seharian," ujarku terlihat perhatian sambil memaksakan senyumanku di hadapannya.
Hemm, kalau bukan balas dendam mana mungkin Aku mau tersenyum pada pri kejam ini.
"Baiklah, saya makan duluan," ujar tuan muda.
Tuan muda menyuapkan satu sedok makanan ke mulutnya.
"Umpp," tuan muda sejenak berhenti mengunyah kemudian beralih memandang ke arahku.
"Bagaimana rasanya? Enak?" tanyaku sangat-sangat penasaran.
"Lalu bagaimana pendapatmu tentang masakanmu sendiri?" tanya tuan muda balik meyerangku sambil menahan kunyahan makanan di mulutnya.
"Aku belum mencobanya sih, karena memang ini masakan spesial untuk kamu," ucapku sedikit was-was.
Tuan muda hanya diam lalu melanjutkan makannya dengan begitu tenang dan santai. Tuan muda tidak berani berkomentar karena dia pikir keadaanku yang masih terpengaruh obat berbahaya itu.
"Arghhh, pedas sekali. Mulut saya seperti terbakar. Bagaimana jika makanan ini masuk ke dalam perut saya. Oh no, tahan Aras ... tahan sebentar," batin tuan muda dengan perlahan menelan makanannya.
What? Inikah sifat asli tuan muda yang terkenal kejam dan dingin itu? Entah apa yang dia rasakan pada masakanku.
Padahal Aku telah memasukan banyak cabai di gulai itu hingga terasa sangat pedas, namun tak berpengaruh apa-apa pada tuan muda.
Aku kira dia akan menjerit histeris karena kepedasan hingga meminum air sebanyak-banyaknya. Tapi nyatanya malah dianggap biasa-biasa saja oleh dia.
Tuan muda berhenti di suapan yang kelima. Aku bisa melihat dari matanya yang mulai merah karena menahan rasa pedas dari gulai itu.
"Saya sudah kenyang," Tuan muda bangkit dari kursi.
"Lain kali, jika memasak pastikan dulu rasa masakan yang kamu buat!" ucap tuan muda dingin lalu melangkah menuju kamarnya.
Deg
__ADS_1
Ooppss, seperti petir yang bergemuruh serta tamparan secara tak langsung bagiku.
Bersambung....