Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Menaklukan dan Ditaklukan


__ADS_3

Sejak malam bahagia itu tercipta, sekarang tuan muda mulai memberikan kepercayaan penuh padaku. Dia mengembalikan ponselku kembali dan mengizinkan Aku untuk memakai sesuka hatiku dan kapanpun Aku mau.


"Ingat, ponsel ini sudah kupasang alat penyadapnya, jika kau berani macam-macam di belakangku, maka aku tidak akan mengampunimu, Nay!" ancam tuan muda yang sangat mengerikan bagiku.


"Ya, ya baiklah, aku akan melakukan tugasku sesuai dengan perintahmu, Tuan mudaku," Aku tersenyum menatapnya sambil menunduk hormat padanya seakan dia adalah raja.


"Hei, kau masih bisa bercanda!"


"Hahaha, maafkan aku. Aku terlalu bahagia, sayang!"


Bukan hanya ponsel saja yang dia berikan padaku, tetapi janji yang pernah dia ucapkan padaku saat Aku meminta untuk makan malam di luar, akhirnya dia kabulkan juga.


Sungguh begitu baiknya tuan muda, mungkin karena Aku telah menjadi wanita yang telah masuk di hatinya. Aku sudah masuk ke dalam cintanya, masuk ke dalam genggamannya, maka Aku tak akan pernah bisa pergi atau lari darinya.


"Nay, kamu satu-satunya wanita yang aku miliki dan aku kasihi. Tidak akan pernah ada wanita lain di hatiku. Aku mencintaimu. Aku sekarang percaya padamu. Tolong jaga kepercayaanku. Jangan buat Aku kecewa, jangan pernah pergi dariku dan mengkhianatiku."


"Berjanjilah padaku, kau akan selalu mendampingiku dan setia padaku selamanya," pengakuan serta pinta tuan muda penuh penghayatan sembari menggenggam erat kedua tanganku.


Diiringi alunan musik klasik yang telah tersusun dengan sangat rapi dan juga dekorasi yang cantik serta meja dan ruangan khusus yang telah di sewa oleh tuan muda membuat suasana bertambah romatis pada kencan kami malam ini.


Aku sangat senang dengan pengakuan tuan muda yang begitu menyentuh hatiku, mataku berkaca-kaca menatapnya hingga aku sulit untuk membalas ucapannya.


"Aku senang akhirnya bisa mendapatkan cinta darimu. Aku senang kau sekarang menjadi suami yang baik yang selama ini aku impikan. Jangan pernah berubah, tetaplah seperti ini, sebagai Aras yang baik, ceria, selalu tersenyum, penuh kehangatan dan adil seperti almarhum tuan Halim," Aku menatap lekat matanya.


"Terima kasih karena kau sudah menerimaku yang hanya wanita biasa. Aku juga mencintaimu. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu hingga aku akan setia bersamamu sampai maut memisahkan," ucapku dengan membalas genggaman tangannya meyakinkan.


Tuan muda tersenyum lebar lalu mencium tanganku. Dia bangkit dan berjalan ke arah belakangku kemudian dia memasangkan kalung berlian di leherku yang cantik dan mewah yang di design khusus oleh tuan muda untukku.


"I-ini untukku?" tanyaku tak percaya.


"Ya, hadiah untukmu karena selama ini kamu begitu sabar dan masih setia menemaniku hingga sekarang."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Naya. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan mencintaimu. Aku bertanggung jawab atas perbuatanku pada ibu dan ayahmu. Sekali lagi tolong maafkan aku, Nay!"


Ucapan terima kasih dan janji juga permintaan maaf tuan muda begitu tulus terpancar dari raut wajahnya.


Tanpa kusadari, air mataku tiba-tiba menetes kemudian Aku langsung beralih memeluk tubuh suamiku agar aku merasa lebih tenang.


"Aku sudah memaafkan kamu, sayang!" ucapku dengan ikhlas.


Tuan muda meraih wajahku ke hadapannya.


"Terima kasih, sayang!" tuan muda mencium bibirku perlahan.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam, kami pun segera pulang. Setelah sampai di rumah pukul 23.00, saat kami hendak menaiki tangga menuju kamar, tiba-tiba ada suara seseorang yang memecahkan tawa kami yang sedang bersenda gurau.


"Wah, wah, wah, ada yang lagi happy nih," ucap seseorang dari belakang.


Dari suaranya, kami berdua sangat kenal dan tak asing lagi. Kami pun berbalik ke belakang. Dan benar orang itu adalah Luis. Memang sudah lama Luis tidak mengunjungi kediaman Ahmet, tidak dipungkiri bahwa Luis merindukan tuan muda.


"Ya, kau tahu sendiri jika aku kemari berarti aku merindukan saudaraku. Emm ... sepertinya kalian habis berkencan. Wah, aku bakal punya keponakan nih, benar kan kakak ipar?" Luis menatapku seolah menyuruhku untuk menjawab apa yang telah ditanyakannya.


Aku beralih menatap tuan muda sebagai tanda untuk dia menjawab pertanyaan dari Luis.


"Hei, sudah sana pergilah, ini sudah malam. Kami ingin istirahat," ucap tuan muda mengusir.


"Sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan padamu, Brother. Tapi ... ya sudahlah, besok saja."


Luis sedikit kecewa hingga beralih hendak melangkahkan kakinya ke luar dari kediaman Ahmet.


"Apa yang ingin kau katakan pada suamiku, Luis? Apakah begitu penting? Mungkin 15 menit cukup untuk kalian berbicara," tanyaku yang tak tega melihat Luis menjadi murung.


"Emm ... tidak terlalu penting sih. Tapi tidak mengapa, lagian aku tidak ingin mengganggu kesenangan kalian, kok.

__ADS_1


"Biarkan dia pergi, sayang. Aku juga lelah, ini sudah malam. Besok saja bicaranya," ujar tuan muda yang sebenarnya ingin Luis segera pergi dari rumahnya.


"Baiklah ... aku akan pergi, selamat malam semuanya!" ucap Luis mencoba tersenyum sebisanya.


Akhirnya Luis berjalan menjauh dan ke luar dari kediaman Ahmet.


Suasana kembali bahagia saat kami sudah berada di dalam kamar. Tak tanggung-tanggung, tuan muda sekarang sudah mulai berani dan tidak malu-malu untuk melakukan hal yang tak biasa dia lakukan dulu, Aku pun membalas perlakuan manisnya.


"Sayang, kau jangan terlalu kasar pada Luis. Kasihan dia. Bagaimana pun juga Luis itu saudaramu. Tolong terimalah Luis sebagai adikmu," bujukku pada tuan muda mengenai Luis.


"Kau ini kenapa peduli sekali pada Luis, hah. Aku ini suami kamu, loh. Aku tidak suka kau membicarakan Luis saat kita berdua seperti ini, mengerti?" Tuan muda tak hentinya mencium pipiku berkali-kali, dia kesal seolah tak ingin membicarakan orang lain selain kami berdua.


"Sayang, aku serius loh. Berjanjilah padaku jika kau tidak akan kasar lagi pada Luis dan terimalah dia sebagai adikmu. Aku hanya ingin kau menjadi orang yang baik dan adil, sayang!"


"Hemm ... ya baiklah. Aku janji ... tidak akan kasar pada Luis dan menganggap Luis sebagai adikku. Kau puas sekarang, hah?" ucap tuan muda mengalah dan sedikit lantang.


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia benar-benar suami yang sangat mudah Aku taklukan sekarang. Maka dari itu aku mengecup bibirnya sekilas.


Cup


"Hei, kau menggodaku. Baiklah, malam ini aku tidak akan mengampuni kamu, Nay!"


Tuan muda mulai melakukan aksinya kembali dengan nafsu yang membara.


"Akhhh, sayang apa yang kau lakukan? Biarkan aku tidur sejenak, sayang. Aku sangat lelah," pintaku memohon saat tuan muda menjatuhkan Aku ke ranjang hingga menciumku bertubi-tubi.


"Tidak akan kubiarkan kau beristirahat, kita akan bermain malam ini, sayang!" bisiknya dengan nafas yang terdengar seksi di telingaku.


Kali ini Aku tidak bisa menaklukan hati tuan muda untuk menghentikan aksinya, sekarang malah Aku lah yang ditaklukan olehnya. Sungguh Aku tidak berdaya dan tidak bisa menolak, jujur ... kebersamaan ini membuatku meminta lebih, lagi dan lagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2