
Malam hari, tuan muda yang sejak tadi berada di ruang kerjanya tidak beranjak keluar dari sana. Entah apa yang dia kerjakan. Tapi satu hal yang aku rasakan, pasti tuan muda sedang memikirkan kejadian tadi siang saat dia tahu bahwa Luis ternyata saudara tirinya yang saat kecil pernah dia buang dulu ketika mamanya meninggal.
Rasa kebencian tuan muda pada Luis lebih besar dari pada rasa bersalahnya pada Luis di masa lalu. Diakuinya, memang Luis tidak bersalah dalam hal ini tapi yang tuan muda sesalkan adalah dia benci bahwa ternyata mamanya mempunyai anak selain dirinya.
Tuan muda berpikir jika mamanya tidak menyayanginya lagi, seketika harapannya hancur begitu juga masa depan yang telah dia lukiskan pada mamanya saat mereka bersama dulu.
"Kenapa dia kembali? Kenapa aku harus melihatnya kembali? Aku benci anak itu, aku tidak ingin melihatnya. Bayang-bayang dia mengingatkan aku pada mama yang meninggalkan aku dulu di rumah ini. Arghhhh!"
Tuan muda begitu marah dan kesal hingga berteriak sekencang-kencangnya.
Aku yang khawatir dengan suamiku itu, sedari tadi mondar-mandir di depan pintu ruang kerjanya. Aku ingin masuk ke dalam tapi aku pikir mungkin dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya.
Mendengarnya berteriak, Aku bertambah khawatir. Takut jika tuan muda menyakiti dirinya. Tanpa berpikir panjang, Aku langsung masuk ke dalam ruang kerja suamiku dan menghampirinya.
"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi? Tenangkan dirimu. Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, tapi tolong tahan emosimu, hemm?" Aku mencoba menenangkan tuan muda sambil mengusap punggungnya pelan.
Tuan muda masih terdiam seperti tak mempedulikan ucapanku dan diriku yang berada di dekatnya. Aku semakin takut dengan diamnya itu. Tapi Aku tak mau menyerah sehingga Aku memberi perhatian padanya.
"Sayang ... kita ke bawah, yuk? Ini sudah jam sepuluh malam, kamu belum makan, loh. Aku khawatir nanti kamu sakit," Aku membujuknya dengan sangat lembut.
Tuan muda melirikku sekilas dan beralih pandangannya ke arah lain.
"Aku tidak lapar," jawabnya ketus dan dingin.
Aku sedikit kesal padanya saat dia menjawab dengan nada suara yang tidak Aku sukai.
"Sayang, aku lapar. Perutku sakit kalau nggak diisi dengan makanan sedangkan kamu tidak mau makan," ucapku sedikit manyun.
"Jangan menungguku, makan lah sendiri," sahutnya dengan bentakkan.
Loh kok dia seperti orang yang sedang kesal, sih? Dia yang punya masalah dengan Luis tetapi kenapa Aku yang menjadi pelampiasan amarahnya? Sungguh sifat tuan muda kembali buruk, sama seperti pertama kali Aku mengenalnya.
"Kamu kok marah sih, sayang? Masih kesal dengan kejadian tadi?" sebisa mungkin Aku harus sabar menghadapinya.
Tuan muda masih saja berdiam. Maka Aku terpaksa melakukan trik yang mungkin agak memalukan bagiku demi membuat suamiku tidak marah-marah lagi.
Aku merangkul tanganku ke leher tuan muda sedikit menggodanya. Berharap suasana hatinya menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Sayang, senyum dong jangan marah-marah lagi. Aku takut lihat kamu marah," bujukku dengan satu ciuman mendarat di pipinya.
Cup
Setidaknya dia menoleh sedikit saja tapi malah dia memalingkan wajahnya kembali ke arah samping.
Aku sudah berusaha untuk membuat suasana hatinya membaik, tapi ternyata cara yang Aku gunakan sepertinya tidak berhasil. Aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Rupanya ini memang membuatku benar-benar malu di hadapannya. Ah, sial.
"Sepertinya kau menyukai ciuman dari Luis tadi," tuduh tuan muda yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya sambil menyingung.
Aku tercengang mendengar perkataan suamiku, ternyata sedari tadi dia menjawab pertanyaanku dengan ketus dan dingin karena dia marah sebab Luis menciumku tadi. Oh my God, apa tuan muda cemburu?
"Menyukainya? Hahaha, come on ... apa aku gila menyukai ciuman dari pria lain? Aku membencinya, aku benci Luis menciumku. Apa kau cemburu?" Aku menatap wajah tuan muda tersenyum tapi suamiku itu masih saja mengalihkan pandangannya dariku.
"Buang jauh pikiran burukmu, tuan mudaku. Aku hanya milikmu. Bukankah sudah jelas bahwa aku tidak mengkhianatimu? Aku tidak berselingkuh dengan pria lain. Kau percaya kan sekarang?"
"Baiklah, jika Luis kembali ke rumah ini lagi, akan aku pukul dia nanti. Aku akan menamparnya, meninjunya atau ... emm aku akan menendangnya sampai dia bergulingan di lantai sejauh 3 meter," ucapku asal-asalan, padahal Aku sama sekali tidak berani melakukan itu.
"Memangnya kau berani dan sekuat itu?" ucap tuan muda meremehkanku.
Tuan muda mendecih, ada sedikit guratan senyuman di wajahnya. Aku senang melihatnya.
"Cih, buktikan!"
"Ya, lihat saja nanti," sahutku ragu.
Aku beralih menggenggam tangan suamiku dan duduk di pangkuannya menatap dirinya.
"Sekarang jangan marah lagi. Aku tahu kamu banyak masalah saat ini tapi apapun masalahnya kamu hadapi dengan tenang dan sabar, jangan terbawa emosi, itu bisa membuatmu dalam bahaya. Aku takut jika kau kenapa-napa nanti," kataku memberi sedikit nasihat lalu mencium pipinya.
"Ayo, sekarang kita makan!"
Aku bangkit berdiri kemudian menarik lengan tuan muda berjalan menuju ruang makan.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya tuan muda disela-sela makannya.
Aku memandang tuan muda tanpa henti. Ternyata dia menyadari jika aku sedari tadi memperhatikannya.
__ADS_1
"Emm, aku bahagia sekali jika kau cemburu seperti itu," Aku tersenyum simpul.
"Sebahagia itu?"
"Iya dong, kamu kan suami aku," tegasku tersenyum ke arahnya.
Tuan muda beralih menatap makanan di depannya dengan salah tingkah.
"Ekhem," tuan muda sedikit malu dengan melirik kesana kemari.
Aku hanya menahan tawa melihat tingkah tuan muda Aras.
"Sudah, berhenti menatapku Naya!" pinta tuan muda sedikit menutupi wajahnya yang masih terlihat di cela-cela tangannya yang tampak terlihat matanya melirik ke arahku.
"Biarkan saja, aku rindu suasana santai dan tidak tegang seperti ini denganmu. Ayo buka tanganmu. Aku ingin melihat wajahmu yang seperti kepiting rebus itu."
Aku menarik tangan suamiku tapi nyatanya dia malah menggenggam tanganku dan menahannya.
"Hentikan, atau aku akan hukum kamu Naya."
"Baiklah, lepaskan tanganku sayang," pintaku sedikit manyun.
Tuan muda perlahan melepaskan tanganku, tapi Aku tak akan diam saja, Aku harus menjahilinya karena dia sudah berani mengancamku.
Seketika Aku melirik ke arah botol kecap di meja makan, lalu Aku meraihnya dan Aku tuangkan sedikit di jari telunjukku kemudian Aku usapkan ke hidung suamiku itu.
"Kau seperti badut, hahaha!"
Aku langsung berdiri dan bergegas berlarian ke kamar setelah tuan muda beralih menatapku dengan tajam.
"Sial, Nayaaaa! Awas kau ya, akan aku balas nanti."
Tuan muda pun menyusulku dengan langkah cepatnya mengikuti di belakangku.
Aku senang bisa kembali tertawa lepas bersama tuan muda. Aku berharap kebahagiaan ini tak akan pernah berhenti. Tapi aku lupa jika di dunia ini tak abadi, roda selalu berputar.
Bersambung....
__ADS_1