Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Memberi Ruang


__ADS_3

Telah tampak kak Niko berjalan masuk ke dalam rumah di sambut langsung oleh tuan muda. Tidak biasanya tuan muda begitu ramah dan hangat pada bawahannya. Ya itu semua karena ada alasannya, apalagi kalau bukan pertemuan terakhirnya bersama dengan sang sekretaris yang diutusnya pergi ke Negara Turki dengan dalih masalah pekerjaan.


Aku yang lebih dulu berada di meja makan hanya menatap pandangan ke arah makanan di depanku. Tapi sialnya, kak Niko duduk di hadapanku saat ini. Sedangkan tuan muda duduk di kursi utama. Ah, ini pasti ulah dari tuan muda Aras yang sengaja mempertemukan Aku dengan kak Niko.


"Ayo, makan lah jangan sungkan. Bukankah kita sudah lama tidak makan bersama, Niko? Apalagi sekarang sudah ada Naya di hadapan kita," ucap tuan muda basa-basi sambil melirikku yang berada di samping kanannya.


Aku hanya diam dan tertunduk menatap roti lapis yang sudah Aku beri selai coklat sebelum kedatangan kak Niko.


"Ah, iya Tuan!" Kak Niko menjawab dengan singkat dan tersenyum tipis melirik tuan muda dan melirikku sekilas.


Hanya tuan muda Aras dan kak Niko yang bersuara sambil mengunyah sedikit makanannya dan sesekali membahas pekerjaan sekaligus memberi perintah pada kak Niko saat dia berada di Istanbul nanti.


Aku tak peduli apa yang mereka berdua bicarakan, karena Aku sudah muak dengan sandiwara mereka seolah-olah Aku tidak tahu apa yang telah terjadi selama ini.


Aku hanya mendengar dan memakan roti dengan lahap. Terserah mereka mau berkata apa. Yang jelas Aku tahu sedari tadi mereka berdua mencuri pandang ke arahku secara bergantian. Walaupun Aku sedang fokus makan tapi mataku bisa mengawasi gerak gerik kedua pria menyebalkan itu.


"Ekhm ... saya ke atas dulu sebentar, mau ambil berkas untuk rapat nanti," Tuan muda bangkit dari kursinya dan melangkah pergi ke kamarnya.


Tinggal Aku dan kak Niko di meja makan. Tuan muda Aras sengaja membiarkan Aku dan kak Niko seolah memberikan ruang untuk kami berdua berbicara. Tapi kami hanya berdiam. Suasana menjadi hening dan canggung hingga kami saling melempar pandangan sekilas lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


Rasanya ingin Aku bangkit dan pergi dari hadapan kak Niko mengingat tentang kebohongannya padaku selama ini, tapi Aku tak tega membuat dirinya bingung akan perlakuanku. Cintaku padanya seakan mulai luntur, walaupun begitu masih ada celah kerinduanku padanya.


Tak berapa lama kemudian, kak Niko membuka suaranya menghilangkan kecanggungannya.


"Bagaimana keadaanmu, Naya?" tanya kak Niko menatapku sendu.


"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja!" jawabku ketus dan menatapnya dengan wajah datar.


"Syukurlah," Kak Niko hanya mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya ke bawah.


Lain halnya dengan diriku yang menatapnya dengan penuh kerinduan bercampur dengan kebencian. Bagaimanapun juga Aku tidak akan pernah melupakan sosok pria di hadapanku ini saat dulu dia selalu ada di sampingku, membantuku melewati masa-masa sulit ketika Aku mulai terpuruk dan kehilangan harapan. Hidup sendirian tanpa ada orang tua sehingga kak Niko setia menggenggam tanganku sampai Aku setegar dan sekuat sekarang.


"Kau tidak usah sok mempedulikan aku, pada kenyataannya kau lah yang membuat hatiku hancur," ucapku dengan ketus membuat kak Niko bingung dengan perkataanku.

__ADS_1


"Hancur? Maksudmu apa?" tanya kak Niko sangat heran dan penasaran.


"Kau selama ini membodohiku, membohongiku dan kau juga pria pengkhianatttt!" kataku dengan tegas dan penuh penekanan di akhir kata.


Kak Niko tersentak kaget dengan apa yang Aku ucapkan. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Aku berani menuduhnya yang tidak-tidak, padahal kenyataannya Aku belum tahu sepenuhnya dari kak Niko.


"Apa yang kau katakan, Nay ... emm, maksud saya Nona Naya, saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?" Kak Niko mulai mengganti panggilanku seakan dia telah melupakan bahwa Aku adalah wanita yang pernah memiliki hatinya.


Sungguh hatiku sakit mendengar kak Niko menyebutku dengan 'Nona' kembali, panggilan itu dia ucapkan saat pertama kali kami bertemu dan belum mempunyai hubungan apapun.


"Sudahlah, lupakan saja!" ujarku mengalihkan pandangan ke arah lain.


Kak Niko mulai meletakkan sendok di atas piring dan menatapku seolah meminta penjelasan.


"Saya tidak pernah membodohimu apalagi mengkhia...," bantah kak Niko dengan perkataannya yang belum terselesaikan.


Aku memotong ucapan kak Niko sedikit lantang dengan ekspresi kesal dan mata berkaca-kaca.


Jujur Aku sebenarnya tidak ada niat untuk membentak kak Niko ataupun memarahinya. Aku juga merasa sedih melakukannya agar Aku bisa melupakannya.


"Maafkan saya ... saya mengaku salah dan saya menyesal," ucap kak Niko lirih penuh penyesalan.


Kak Niko tahu jika dirinya salah, maka dari itu dia mencoba untuk mengakui kesalahannya dengan perasaan malu dan menundukkan kepalanya sedih.


"Andai kau tahu, Nay. Kakak begitu tulus mencintaimu. Kakak terpaksa melakukan ini karena sebuah perintah. Kakak kira kamu akan bahagia bersama tuan Aras tapi nyatanya kamu menderita. Maafkan kakak, Nay!" batin kak Niko bersedih.


Suasana kembali canggung sedangkan tuan muda Aras belum juga muncul di antara kecanggungan kami berdua.


"Saya akan pergi dan mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama. Saya berdo'a semoga kamu bahagia bersama tuan muda Aras," kata kak Niko membukan suaranya lagi, kali ini dengan senyuman yang manis menatapku seolah tidak terjadi apa-apa padahal hati kak Niko begitu teriris.


Aku membalas senyum kecil pada kak Niko dengan menahan emosi yang sudah berkecambuk di dadaku.


"Bahagiaku sudah hilang semenjak Aku masuk di keluarga Ahmet dan menikah dengan tuan muda kejam itu!" Aku menekan tiap kata dalam kalimat itu sembari menatap wajah kak Niko yang tak terasa air mataku keluar perlahan.

__ADS_1


Mataku tak berhenti menatap wajah kak Niko dengan tajam. Aku tahu bahwa kak Niko mengerti apa yang Aku rasakan saat ini. Dia pun tak tega melihatku menangis di hadapannya.


"Jangan menangis, Nay. Kakak tidak ingin melihat kamu...," dengan cepat kak Niko bangkit dari kursi dan hendak mengusap air mata di wajahku.


Belum sempat kak Niko menggapai wajahku, tiba-tiba suara tuan muda Aras dari atas berjalan mendekati meja makan dan menghentikan pergerakan tangan kak Niko untuk menghapus air mataku.


"Niko, ayo kita berangkat ke kantor. Menyelesaikan rapat setelah itu kau boleh pergi ke bandara!" perintah tuan muda Aras mengingatkan.


Bergegas Aku menghapus air mataku sendiri sebelum tuan muda Aras melihatnya.


"Ba-baiklah Tuan," ucap kak Niko gugup dan salah tingkah.


Tuan muda mengerti dengan gerak gerik kak Niko dan Aku yang hanya memalingkan pandangan.


"Apa masih ada hal yang ingin kalian bicarakan lagi?" tanya tuan muda ke arahku dan kak Niko bergantian.


Deg


Pertanyaan konyol yang membuat Aku semakin marah pada tuan muda. Karena dia seolah membiarkan Aku mempunyai banyak ruang untuk memberikan salam perpisahan pada kak Niko. Aghhh, itu tidak akan pernah Aku inginkan.


"Aku ke kamar dulu, mau istirahat," Aku bangkit berdiri dari kursi mensejajarkan keberadaan tuan muda dan kak Niko.


Aku menatap kedua pria yang berada di hadapanku bergantian.


"Hati-hati di jalan," ucapku sambil menatap tuan muda Aras.


"Dan semoga selamat sampai tujuan," ucapku dingin menatap kak Niko sebagai ucapan perpisahan.


Aku langsung berjalan menuju kamarku meninggalkan dua pria yang Aku anggap tidak memiliki hati itu.


Tuan muda Aras tersenyum bahagia sembari memandang kepergianku. Sedangkan kak Niko serasa tidak akan pernah rela meninggalkanku bersama tuan mudanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2