
Mata kami saling beradu, sungguh pemandangan yang indah saat menatap wajah tampan tuan muda. Tapi sialnya, tiba-tiba jantungku berdebar lalu bergegas Aku mendorong dada tuan muda agar terlepas dari tindihannya.
"Maaf, ayo tidur!" pintaku yang juga salah tingkah tetapi tetap tenang dan masih menjalankan peranku.
Tuan muda pun terpaksa berbaring di sampingku dengan sangat kaku. Mungkin ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan seorang wanita.
Aku langsung memeluk tuan muda begitu saja saat dia berbaring di sampingku dan tanganku telah berada di dadanya yang mulai kurasakan nafasnya naik turun tak beraturan.
"Ah, sial ... lama-lama saya yang akan gila jika seperti ini," batin tuan muda kesal.
Sejenak Aku langsung mempunyai ide untuk menjahili tuan muda kembali, mumpung tuan muda menuruti semua permintaanku di saat Aku berpura-pura hilang ingatan, jadi Aku ingin memberi pelajaran padanya.
"Sayang, ayo kita mengobrol?" bisikku pelan.
"Saya lelah," jawabnya malas.
"Sayaaa? Kenapa Kakak sekarang bicara formal padaku? Biasanya juga 'Aku dan Kamu' lalu Kakak sering panggil 'Sayang atau Baby' padaku. Tapi kenapa panggilan itu berubah? Apa Kakak tidak mencintaiku lagi? Kamu jahat, Kak. Hiks... hiks...," Aku berpura-pura menangis dengan memintanya untuk memanggilku dengan panggilan romantis. Hahaha rasakan tuh.
"Aghhh ... apalagi sih ini? Saya sungguh tidak tahan dengan kelakuan Naya," batin tuan muda yang hendak berontak marah padaku.
Aku tak henti menangis, semakin tuan muda berdiam semakin kencang tangisanku.
"Huaa... hiks... hiks..., Kakak jahat!" ucapku lantang.
Aku bangkit duduk dan menangis seperti anak kecil yang memainkan kakinya jika tidak dituruti permintaannya.
Tuan muda Aras menggaruk kepalanya beberapa kali dengan kesal, lalu bangkit duduk di sampingku.
"Sssttt, berhenti menangis Naya! Emm ... baiklah SAYANG. Sekarang kita tidur, ya. Besok saya mau kerja. Kamu paham kan, SAYANG?" Tuan muda meletakkan telunjuknya di bibirku dan mulai memanggilku dengan kata 'sayang'.
Wow, tidak disangka tuan muda bisa begitu luluh saat Aku bertingkah konyol seperti itu. Lain kali Aku akan menggunakan kesempatan yang lebih konyol lagi dari ini.
"Nah gitu dong, sayang. Aku kan jadi senang mendengarnya. Pokoknya mulai besok jangan berubah lagi panggilannya, mengerti?" desakku pada tuan muda.
"Emm ... iya sayang," tuan muda mengangguk pelan dan sedikit tersenyum paksa.
Cup
__ADS_1
Aku mencium pipi tuan muda ketika dia hendak membaringkan tubuhnya di kasur.
"Oh shittt, dia mulai lagi mencium saya," batin tuan muda pura-pura tak peduli.
"Selamat malam, Kak Niko sayang!"
"Hemm...," jawabnya singkat.
"Niko, Niko, Niko lagi dia sebut, dasar menyebalkan," batin tuan muda kesal.
Akhirnya Aku dan tuan muda Aras tidur di ranjang yang sama berdua. Ini pertama kalinya bagiku maupun tuan muda Aras. Aku tidak bisa tidur karena merasa canggung begitupun dia. Tapi lama-kelamaan, akhirnya Aku terlelap karena wangi tubuh serta kehangatan pelukan tuan muda Aras membuatku terhipnotis.
Sungguh Aku egois, Aku bisa tidur nyaman bersama tuan muda Aras, lalu bagaimana dengan kak Niko yang sebenarnya. Jujur, Aku masih mencintai kak Niko, tapi kenapa Aku begitu terbuai dalam pelukan tuan muda Aras saat ini? Ah, mungkin hanya perasaanku saja.
Lain halnya dengan tuan muda Aras, dia yang tidak bisa tidur karena pelukanku tak bisa lepas dan karena ketakutannya jika Aku terbangun. Namun saat Aku terlelap, dia tak berhenti menatap wajahku. Ada guratan penyesalan serta kasihan padaku.
"Maafkan saya, Naya. Saya sudah membuat kamu menderita, membunuh kedua orang tua kamu, menuntut kamu untuk menikah dengan saya dan memaksamu untuk meninggalkan Niko, pria yang kamu cintai," gumam tuan muda Aras memandang wajahku penuh rasa iba.
"Saya terpaksa membuatmu lupa ingatan agar harta warisan yang diberi papa untukmu bisa saya kelola dengan tangan saya sendiri karena saya tidak rela kamu mendapatkan harta warisan itu."
"Saya tidak suka ada orang lain yang merebut harta keluarga saya sedikit pun. Apalagi seorang wanita yang menggoda papa untuk mendapatkan warisannya. Saya harap dugaan saya yang menganggap kamu wanita penggoda adalah salah, Nay!" tuan muda melanjutkan kembali ucapannya sampai dia terlelap bersamaku.
Aku tidak tega melihatnya yang dari semalam susah tidur karena ulahku. Setidaknya Aku berterima kasih padanya karena dia telah menemaniku tidur malam ini. Entah kenapa Aku merasa lebih tenang jika berada di dekatnya, seperti pengganti kak Niko yang sesungguhnya.
Pukul 11.00 siang, Aku sengaja membuat ulah kembali ketika bi Tias yang lagi-lagi memasukan obat di minumanku. Dengan akal warasku, saat ini juga Aku akan memainkan dramaku kembali.
"Pelayan ... pelayannn!!" teriakku dari dalam kamar.
Brakkk
Pranggg
Aku mengamuk dan sengaja memecahkan gelas dan piring hingga terdengar keras di lantai bawah.
"Pelayan ... pelayannn!! teriakku kembali.
"Ini Bibi, Non. Nona sabar dulu. Nona perlu apa?" Bi Tias datang ke kamar dengan cemas.
__ADS_1
"Kak Niko mana, Bi? Aku mau kak Niko di sini. Aku rindu dia. Aku kangen kak Niko," Aku menghentak-hentakkan kakiku sambil menangis histeris.
Bi Tias tampak kebingungan menghadapiku saat ini.
"Ya sudah, Non yang tenang ya. Nanti Bibi telepon tuan muda dulu. Nona jangan teriak-teriak, ya!" pinta bi Tias yang bergegas menelepon tuan mudanya itu.
Panggilan pun terhubung dan dijawab oleh tuan muda Aras.
"Hallo Tuan, dari tadi Non Naya mengamuk dan menanyakan tuan Niko lalu meminta untuk datang kemari, Tuan!" ucap bi Tias menjelaskan.
"Baiklah, saya akan pulang sekarang. Bibi tolong tenangkan Naya dulu di rumah," pinta tuan muda Aras.
"Baik Tuan muda."
Panggilan telepon pun terputus.
"Tuan muda Aras, eh maksud Bibi ... tuan Niko akan datang kemari sebentar lagi. Nona duduk di sofa saja. Bibi bereskan pecahan gelas dan piring ini dulu, ya!" ucap Bi Tias lalu menuntunku ke sofa dengan sabarnya.
"Benarkah? Yeahhh," Aku bersorak bertepuk tangan.
Beruntung sekali bi Tias masih peduli padaku walau Aku telah membodohinya dengan dalih berpura-pura depresi.
Satu jam kemudian, tuan muda Aras pulang ke rumah dan bergegas menaiki tangga menuju kamarku. Dia begitu ketakutan mendengarku mengamuk, karena bagaimana pun juga tuan muda harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan padaku dengan kejam seperti ini.
Ceklek
Pintu kamar telah terbuka dan seketika tuan muda melihatku sedang duduk di sofa kamar.
"Naya, are you ok?" tanya tuan muda sedikit panik.
Aku bangkit dan mulai menatap wajah tuan muda dengan senyuman manis lalu berubah menjadi senyuman sinis.
"Kamu, ngapain ke kamarku? Yang aku butuhkan itu kak Niko, bukan kamu!" ucapku lantang pada tuan muda.
Deg
Wajah tuan muda berubah memerah dan dia membulatkan matanya dengan heran.
__ADS_1
Bersambung....