Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Luis Berulah


__ADS_3

Kebahagiaan yang mengisi hari-hari kami membuat Aku dan suamiku selalu merasa damai. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi drama kebohongan yang kami perankan seperti dulu. Semua canda tawa selalu mengisi kebersamaan kami. Apalagi kami sudah mempunyai Arka yang begitu menghibur hati kami menjadi ceria.


"Hai Arka, anak papa sudah pandai berjalan sekarang, ayo kemari tangkap Papa, sayang!" ujar tuan muda yang sedang berjalan mundur supaya Arka menggapainya sekaligus memperlancar jalan si Arka.


Arka hanya tertawa sambil mengejar tuan muda dengan jalannya yang cepat dan menampakkan pinggulnya bergoyang kesana kemari dengan lucu hingga membuatku tertawa.


Arka yang sudah memasuki usia 2 tahun begitu sangat menggemaskan, apalagi bila dia berbicara, membuatku dan tuan muda tertawa terpingkal-pingkal dibuat oleh Arka.


"Arka, sini sama Mama. Kita makan yuk!" Aku bersuara lantang sembari berjalan ke arah suamiku.


"Mama Mama Mama!" seru Arka sambil merentangkan kedua tangannya ke depan, meminta supaya Aku menggendongnya.


"Arka laper ya, sayang?" Aku mengambil Arka dari gendongan tuan muda.


Arka hanya mengangguk dan tersenyum sambil memegang perutnya menandakan bahwa dia lapar.


"Hemm, mulai lupa deh Arka kalau ada Mamanya. Papa dicuekin lagi, kan!" ujar suamiku sedikit kecewa.


"Ya dong, lagian Papanya jarang ajak main Arka, Papanya selalu sibuk di kantor, jadi lupa sama Arka. Iya kan, sayang?" ucapku mempertanyakan ke arah Arka.


Lagi-lagi Arka mengangguk dan tersenyum padaku dengan ocehannya yang masih blepotan.


"Tuh Arka saja ngerti," ledekku pada tuan muda.


"Aku kerja cari uang untuk Arka dan kamu, sayang!"


Tuan muda memelukku begitu saja sambil mencium pipiku bergantian dengan Arka.


"Hihihiiii...," tawa Arka geli sambil mengelap pipinya yang terkena ciuman papanya.


Arka sangat tidak suka dicium oleh papanya karena bulu kumis yang membuat Arka geli. Terkadang Arka marah jika papanya belum mencukur kumis, janggut atau jambang yang bersarang di sekitar wajahnya.


Jadi terpaksa bulu-bulu khas yang membuat tampang keren tuan muda sedikit hilang. Padahal Aku sangat menyukainya. Tapi demi Arka, papanya rela melakukan apa saja yang tidak disukai Arka hanya untuk membuat anaknya nyaman selama tidak menyalahi aturan.


Kring kring kring


Tiba-tiba ponsel tuan muda berbunyi di sela-sela canda tawa kami.

__ADS_1


"Kamu makanlah duluan bersama Arka. Aku angkat telepon dulu," ujar tuan muda yang hendak menjawab panggilan teleponnya.


"Baiklah, kami masuk ke dalam dulu!"


Tuan muda mengangguk dan langsung menjawab telepon dari panggilan yang berasal dari Italia.


Sementara, Aku sedang menyuapi Arka yang sangat lahap makannya sehingga makanan di piringnya begitu cepat habis.


Aku menunggu tuan muda di meja makan, tapi dia tak kunjung datang. Cukup lama suamiku itu berteleponan di luar sana, hingga Arka mengajakku untuk bermain dengannya.


Tak lama kemudian, tuan muda berjalan mendekatiku dan Arka, terlihat raut wajah tuan muda begitu ditekuk seperti orang kesal.


"Ada apa, sayang?" tanyaku dengan perhatian.


Tuan muda menghela nafasnya kemudian berdecak kesal.


"Ada masalah serius di Italia, mengenai Luis."


"Luis kenapa?"


"Luis memukul Marcel hingga babak belur dan sekarang Marcel dilarikan ke rumah sakit. Marcel mengalami pukulan yang serius hingga tangannya patah tulang," ucap tuan muda mengusap wajahnya dengan kasar.


Tuan muda menggelengkan kepalanya seolah tidak tahu.


"Entahlah, Luis melarikan diri setelah membuat Marcel pingsang."


"Luis masih sangat muda tapi bisa mengalahkan Marcel yang gagah dan seumuran denganmu, sayang. Aku salut sama Luis," ujarku begitu saja seolah memuji Luis tanpa berpikir.


Tuan muda kaget dan mengernyit heran menatapku.


"Loh, kok kamu ngomongnya begitu sih, sayang. Luis itu mau dilaporkan ke polisi oleh Marcel dan keluarga Vettori. Mereka semua tidak terima dengan ulah Luis."


"Tapi karena Luis masih keluarga besar mereka, jadi mereka masih mentoleransi dan mereka memintaku untuk menjamin Luis agar dia tidak berulah lagi."


"Aku bingung harus mencari Luis kemana lagi. Nomor ponselnya tidak terhubung. Hah, anak itu membuatku malu saja!" Tuan muda kesal hingga menyandarkan kepalanya di kursi sembari berpikir.


Aku merasa iba pada suamiku itu, pekerjaan di kantornya begitu banyak, ditambah lagi dengan Luis yang membuat masalah di luar jangkauannya.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kau lakukan, sayang?"


"Aku akan mengurus masalah ini sampai Luis ditemukan dan bisa diajak bicara. Luis harus bertanggung jawab atas semua masalah yang dia buat," tuan muda masih mencoba menghubungi Luis tetapi masih saja tidak tersambung.


Tuan muda bingung dan beberapa kali mulutnya berdecak kesal.


"Mungkin saja saat ini Luis ingin menenangkan pikirannya, makanya dia tidak ingin ada yang menghubunginya dulu. Atau bisa jadi dia ketakutan sehingga dia pergi ke Luar Negeri?" ujarku dengan banyak dugaan.


"Entahlah, liat saja nanti. Sampai dimana Luis bisa bertahan dari persembunyiannya," sahut tuan muda menatapku dengan keyakinannya.


Satu minggu berlalu, usaha tuan muda bersama anak buahnya dalam pencarian Luis yang menghilang, kini membuahkan hasil. Beberapa orang suruhan tuan muda beserta para bodyguard yang cukup banyak telah mengepung tempat persembunyian Luis berada.


Luis yang tak bisa berkutik bahkan untuk kembali ke apartemen yang ada di Jakarta pun tidak dia singgahi, was-was jika tuan muda Aras menemukan dia.


Sementara, Luis tinggal sendirian dan sengaja tidak ingin meminta bantuan pada teman-teman gangster nya dulu. Karena dia telah berjanji pada tuan muda Aras untuk menjadi adik yang membanggakan tapi nyatanya dia malah membuat ulah. Luis sangat menyesali perbuatannya.


Brakkk


Pintu di dobrak kasar oleh tuan muda Aras di rumah kosan sederhana yang menjadi tempat persembunyiannya. Ternyata selama beberapa hari ini Luis berada di Jakarta.


"Ka-kak kau di-sini?" tanya Luis gagap dan terkejut.


Luis ketakutan hingga matanya membulat sempurna dan hanya terfokus pada tuan muda Aras.


"Aku kecewa padamu, Luis!" tegas tuan muda.


"Ma-maafkan aku, Kak!" suara Luis bergetar dan memundurkan langkahnya.


Perlahan tuan muda Aras berjalan mendekati Luis kemudian menggenggam tangan adiknya itu dengan kuat.


"Kita pulang, sekarang!" Tuan muda menarik tangan Luis dengan kuat.


"Pulang? Pulang kemana? Tolong jangan bawa aku pulang kembali ke Italia, Kak!" Luis menahan tubuhnya sekuat mungkin.


Tuan muda tak ingin kalah dari Luis, dia masih saja menarik paksa adiknya itu hingga tanggannya memerah.


"Pengawal, bawa Luis ke mobil. Kalau dia berontak beri saja obat bius!" perintah tuan muda tak bisa dibantah.

__ADS_1


"What the hell? Kak, kau tidak berniat buruk padaku, kan?" Luis masih berontak dan diliputi ketakutan hingga tak bisa berbuat apa-apa.


Bersambung....


__ADS_2