
Di kantor, tuan muda Aras sengaja membawa pengawal kepercayaannya yang bertugas di kediaman Ahmet. Dan saat ini mereka berbicara secara rahasia dan tidak ada orang lain yang tahu.
"Bagaimana mungkin istri saya ke luar dari rumah, jelas-jelas foto itu asli," tuan muda Aras melempar satu lembar foto yang telah di cetak ke hadapan pengawalnya, Dion.
Dion pun mengambil foto tersebut dan melihatnya dengan seksama.
"Tapi saya yakin, Tuan. Saat itu non Naya ada di kamarnya. Saya tidak bohong, Tuan!" bantah Dion dengan pendiriannya.
"Kalau memang istri saya ada di kamarnya, lalu di dalam foto itu siapa? Apalagi saya sudah chek ke sahabat saya pada pakar teknologi, dan dia bilang foto itu asli tanpa editan," tuan muda sangat marah.
"Bagaimana bisa? Lalu yang di kamar waktu itu siapa? Dan bagaimana non Naya keluar? Untuk ke luar dari kamarnya saja selalu diawasi apalagi ke luar dari kediaman Ahmet," tanya Dion panjang lebar tanpa henti.
Bukkk
Tuan muda tiba-tiba saja melempar miniatur kecil yang mengenai tubuh kekar Dion.
"Hei bodoh, mana saya tahu lah. Yang jelas istri saya tidak mungkin berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kenapa kau balik bertanya?" ujar tuan muda kasar.
"Maafkan saya, Tuan!" Dion tertunduk takut dan patuh.
"Kau yang bertanggung jawab untuk masalah ini. Cari tahu secara diam-diam, mungkin di rumah saya ada pengkhianat. Kamu cari tahu pria yang ada di foto bersama Naya dan juga pengkhianat itu secepatnya!"
"Baiklah, Tuan muda segera saya laksanakan!" ucap Dion patuh dan berbalik melangkah ke luar ruangan tuan muda.
Tuan muda mengepalkan kedua tangannya, pikirannya kacau dan sekilas mengingat kenangan masa lalunya.
"Arghhh ... kenapa ini bisa terjadi? Saya pikir Naya wanita yang tepat buat saya, tapi malah berbalik seperti ini."
"Eh tunggu dulu, bagaimana bisa Naya kenal dengan pria itu? Apa jangan-jangan ingatan Naya sudah pulih kembali? Ah, siallll ... saya harus cari tahu dengan cara saya sendiri."
Tuan muda mulai memikirkan sesuatu rencana yang akan dia jalankan untuk mencari tahu semua yang berhubungan dalam rumah tangganya.
Malam hari pukul 21.00, tuan muda pulang ke rumah. Sengaja dia pulang malam karena ingin menetralkan suasana hatinya yang sedang buruk. Dia takut karena amarahnya saat ini sedang menguasai dirinya.
Aku yang hanya mondar-mandir di depan pintu rumah menunggu tuan muda begitu sangat senang suamiku telah kembali ke rumah. Aku menerbitkan senyumanku semanis mungkin.
"Kok malam banget pulangnya? Banyak kerjaan di kantor?" tanyaku lembut.
"Iya, satu minggu meninggalkan kantor jadi kerjaan numpuk. Kamu belum tidur, Naya?" tanya tuan muda yang kali ini dia tersenyum ramah padaku dan dia juga mencium keningku.
"Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu," ujarku memeluknya.
"Oh ya, baiklah sekarang kita ke kamar. Mau saya gendong kamu?"
__ADS_1
"Nggak, malu ah."
"Ok, ok," tuan muda menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju kamar.
Aku bersyukur karena perubahan tuan muda yang mulai kembali baik lagi padaku. Apa mungkin karena tadi pagi Aku menanyakan perubahannya yang aneh saat pulang dari Italia? Ya, mungkin tuan muda lelah jadi bisa saja dia berubah. Aku masih berpikir positif.
Setelah selesai dari mandinya, tuan muda Aras langsung mendekatiku yang sedang duduk di ranjang. Niat hati untuk memberikan pijatan kecil ke tuan muda, ternyata suamiku itu malah memelukku begitu erat, mencium kepalaku dan rambutku. Aku bahagia sekali melihat suamiku kembali memberi kenyamanan dan kehangatan padaku, tidak seperti malam kemarin.
"Hei, kenapa kau memelukku seperti itu?" tanyaku penasaran karena pelukan tuan muda bertambah erat dan Aku sedikit sulit bernafas.
"Saya kangen sama kamu, sudah lama saya tidak memelukmu, mencium kamu."
"Hei, ayolah sayang ... kamu masih saja menyebut dirimu dengan kata SAYA, aku ini bukan teman kerja kamu loh," ujarku protes.
"Saya sudah terbiasa."
"Ayolah, hanya ada aku dan kamu."
"Ok, aku ... dan kamu!" jawab tuan muda canggung.
Seringai tuan muda Aras tampak indah tapi entah kenapa dia begitu cepat menuruti apa yang Aku mau. Jujur memang dari dulu Aku ingin sekali meminta pada suamiku itu tidak begitu formal saat berbicara padaku.
Dan ternyata memintanya sungguh tidak sulit. Tapi Aku merasa ada sesuatu yang aneh dari suamiku ini. Perubahan yang begitu membuatku bingung. Dalam sehari ini ada dua perilaku yang cepat sekali berubah dari dia.
"Jika itu yang kau inginkan, Naya. Aku akan mengabulkannya untukmu, tapi harus ada bayarannya, sayang!" batin tuan muda Aras yang menyeringai jahat.
"Aku kangen kamu, Nay!" bisik tuan muda dan langsung beralih menyentuh bibirku.
"Aku juga kangen kamu, Tuan muda ku."
Aku tersenyum bahagia saat itu apalagi tuan muda yang begitu hangat.
Kami saling berpandangan, masuk dalam buaian suasana romantis.
Tak lama kemudian tuan muda menarik leherku cukup kasar dan dia mulai menciumku dengan perlahan, tapi lama-kelamaan ciuman itu menjadi liar dan kasar.
"Akhhh...," Aku memekik kesakitan.
Bibirku berdarah karena ulah tuan muda yang mengigit bibirku dengan nakal.
"Maaf sayang. Apa sakit?" tanya tuan muda.
"Ya jelas sakit, sayang."
__ADS_1
"Maaf, habisnya saya ... eh ... aku kangen banget sama kamu. Sudah lama kita tidak seperti ini," ujar tuan muda dengan wajahnya yang datar tapi suaranya yang terdengar tenang.
Ini aneh, aku merasa ada sesuatu yang berbeda sekali malam ini. Tidak biasanya tuan muda memperlakukan aku seperti ini apalagi menyakitiku saat kami melakukan keromantisan. Dia yang selalu melakukan dengan kelembutan tapi kali ini dia melakukan dengan sedikit kasar.
Entah benar atau tidak dengan ucapannya yang memang mengatakan bahwa dia sangat merindukanku. Yang jelas, Aku hanya mempercayai ucapannya itu.
"Bagaimana? Mau kita lanjutkan?" tanya tuan muda sembari menghapus darah di bibirku.
Aku pun hanya mengangguk mengiyakan.
Tuan muda tersenyum dan kembali mencium bibirku dengan penuh kelembutan, dan sesekali kami menjeda untuk mengatur nafas.
Kembali lagi tuan muda menciumku dengan sangat lembut, tapi lama-kelamaan ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu dan kasar, dia menjambak rambutku dan Aku kesakitan.
Aku merasa pusing, sehingga tanpa sengaja Aku mendorong tubuh suamiku begitu saja saking rasa kesakitan yang kudapat.
"Hentikannnn!!" teriakku sedikit lantang.
"Bagus, teriaklah sekencang mungkin Naya. Saya suka mendengarkan kesakitanmu itu. Ini belum seberapa dibanding dengan pengkhianatanmu," batin tuan muda kesal dengan seringai jahatnya.
Pengap, sesak dan rasa sakit berkumpul menjadi satu.
"Kenapa? Ada apa?" tanya suamiku sedikit kesal yang terlihat dari sorot matanya.
"Ma-maaf ... aku nggak sengaja," ucapku ketakutan.
Tuan muda mendekatiku kembali lalu meraih wajahku dan menatapku tajam, tersirat penuh amarah dan dendam.
"Hei, ayolah sayang. Kita sudah lama tidak bermesraan," ujar tuan muda membujuk.
Aku hanya diam, tapi tuan muda tidak henti melakukan aksinya lagi padaku. Aura dingin memenuhi suasana saat ini. Dia meraba punggungku dengan memasukkan tangannya ke dalam baju belakangku. Di saat itulah tuan muda mencakar tubuhku yang meninggalkan perih dan luka sayatan.
Ini sangat menyakitkan. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku harus berontak.
"Tolong hentikannnn!!" teriakku yang kali ini mengeluarkan air mata.
Tuan muda menghentikan aksinya dan menatap kembali wajahku yang menangis.
"Kau menyakitiku. Apa yang kau lakukan sebenarnya?" tanyaku pada tuan muda yang masih lekat menatapku.
Aku tertunduk takut dan menangis tak berani menatap wajahnya.
"Tidurlah, ini sudah malam!" ujar tuan muda dengan nada kesalnya.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaanku, tuan muda malah menyuruhku tidur kemudian dia melangkah pergi menuju balkon setelah meraih ponselnya untuk dia menelepon seseorang.
Bersambung....