
Sekarang Aku telah berada di kamar tuan muda setelah beberapa menit membereskan makan malam di meja makan, sedangkan tugas lainnya Aku serahkan pasa bi Tias.
Dengan langkah ragu, Aku memberanikan diri masuk ke kamar tuan muda. Tapi nyatanya dia sudah terbaring di ranjang. Aku pun ikut berbaring di sampingnya. Entah sudah tidur atau belum, Aku tak bisa melihat tuan muda karena dia tidur membelakangiku.
Lama-kelamaan Aku terlelap, namun beberapa menit kemudian, ada gerakan-gerakan kecil di ranjang yang membuat Aku terbangun.
Ternyata, sedari tadi tuan muda gelisah hingga membolak-balikan tubuhnya berulang kali, tak lama kemudian tuan muda bangkit dan berjalan masuk ke toilet, hingga berulang kali dan ini yang ketiga kalinya tuan muda keluar masuk toilet.
Entah kenapa Aku menjadi cemas. Lantas Aku bangkit duduk dan langsung bertanya padanya.
"Ada apa? Kenapa kamu dari tadi bolak-balik ke toilet?" tanyaku memberanikan diri.
"Perut saya sakit," jawabnya sedikit meringis dengan memegangi perutnya setelah duduk di sofa.
"What? Sakit perut? Apa gara-gara dia memakan gulai buatanku tadi, sehingga membuat perutnya sakit dan berkali-kali bolak-balik ke toilet?" batinku panik.
Tak lama kemudian, tuan muda bangkit dan kembali berjalan dengan cepat masuk ke toilet lagi.
Melihatnya begitu, Aku pun bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati pintu kamar mandi sembari menunggu tuan muda keluar dari sana.
"Apa masih sakit perutnya?" tanyaku cemas saat melihat tuan muda sedikit lemas.
"Masih sedikit, nggak apa-apa nanti juga sembuh setelah minum obat," jawabnya dengan sangat lembut.
Tuan muda menatapku dan dia memegangi tanganku dan mengajakku kembali ke ranjang.
"Tidurlah, ini sudah malam. Kamu harus istirahat," pinta tuan muda dengan suara lembutnya.
"Tapi kamu...," ujarku yang langsung dipotong oleh tuan muda.
"Sudah, saya nggak apa-apa kok!" perkataan tuan muda tak bisa dibantah.
Aku mulai berbaring kemudian tuan muda langsung menyelimutiku seolah memberi perhatian. Jujur Aku semakin penasaran oleh tingkah tuan muda.
"Apa karena kau memakan gulai buatanku yang pedas sehingga perutmu sakit dan bolak-balik ke toilet?" tanyaku dengan pelan.
__ADS_1
"Sepertinya sih begitu, tapi nggak apa-apa," tuan muda menatapku sendu.
"Maafkan aku, karena aku terlalu banyak memasukan cabai ke dalam masakanku," ujarku merasa bersalah.
"Saya maklumi, kok. Lain kali jangan diulangi, ya. Saya nggak bisa makan yang terlalu pedas."
"Ya sudah, sekarang tidurlah. Kamu harus istirahat, Nay!" ucap tuan muda sembari mengelus kepalaku lembut dengan senyuman manisnya.
Sungguh tak di sangka, perlakuan tuan muda malam ini benar-benar berubah dari biasanya. Sifatnya jauh berbeda saat Aku pertama kali menjadi istrinya. Dia yang dingin dan kasar berubah menjadi sosok yang begitu lembut dan hangat saat ini. Ada apa dengan tuan muda? Kenapa sifatnya bisa berubah drastis seperti itu? Aku benar-benar ingin tahu.
Jujur, Aku sangat menyukai sifat tuan muda yang sekarang ini. Wajahnya sangat bersahabat, matanya tersirat ketulusan dan senyuman manisnya serta perhatiannya dengan kelembutannya membuat orang yang memandangnya terpesona. Sosok pria seperti inilah yang selalu di idam-idamkan oleh kaum wanita.
"Tuhan, bisakah pria itu selalu lembut terhadapku setiap saat? Bisakah dia tidak berlaku kejam lagi padaku? Aku ikhlas menjalani hidupku bersamanya sebagai istrinya asal dia tidak membuatku menderita. Dan Aku akan berusaha melupakan kak Niko yang sudah menjadi masa laluku," batinku berharap.
Waktu subuh, Aku terbangun dari tidur dan seketika melihat tuan muda yang terlelap di sampingku. Aku lega akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak. Aku pikir perutnya mungkin sudah tidak sakit lagi. Aku pun bangkit dari ranjang dan berjalan ke luar menuju kamarku untuk melaksanakan sholat subuh.
Pukul 06.30 pagi, Aku kembali ke kamar tuan muda untuk memastikan keadaannya dan membawakan teh hangat untuknya.
"Kamu belum siap-siap ke kantor?" tanyaku saat melihat tuan muda duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Saya tidak ke kantor, saya meliburkan diri hari ini," jawab tuan muda dengan ramah.
"Udah nggak sakit lagi, kok. Memang sengaja saya ingin di rumah saja hari ini," ujarnya beralasan sambil menahan rasa perih di perutnya.
Entah disengaja atau memang alasannya yang ingin di rumah, tapi Aku yakin saat ini keadaan tuan muda Aras tidak baik-baik saja, karena dari wajahnya terlihat sedikit pucat.
Aku tahu pasti tuan muda berbohong. Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Apakah dia tidak ingin membuatku mengkhawatirkan dia? Tapi justru itulah yang membuat Aku merasa bersalah padanya.
"Ini aku buatkan teh hangat yang tidak terlalu manis untukmu, agar perutmu sedikit membaik," Aku menaruh secangkir teh di hadapannya.
Tuan muda menatap teh di depannya penuh tanya, seolah dia takut jika rasa teh itu tidak seperti yang dia harapkan.
"Tenang saja, aku membuatnya benar-benar menggunakan gula, kok. Jadi tidak ada rasa pedas atau asin di teh itu," ucapku meyakinkan tuan muda.
"Baiklah, saya percaya!" tuan muda tersenyum padaku kemudian meraih teh yang aku buat itu.
__ADS_1
Tuan muda pun meminumnya perlahan dengan santai.
"Enak," puji tuan muda sembari memperlihatkan secangkir teh yang sudah kosong.
"Kenapa semalam kamu masih memakan gulai buatanku, padahal kau tahu rasanya pedas?" tanyaku penasaran.
Tuan muda kali ini menatapku penuh arti, hingga Aku menjadi salah tingkah.
"Karena saya nggak mau mengecewakanmu, apalagi kamu sudah membuatkannya spesial untuk saya," ucapnya pelan dan sangat jelas.
Astaga, begitu mulia hatinya. Bagaimana kalau tuan muda tahu jika itu semua adalah ulahku yang dengan sengaja menaruh cabai yang banyak ke gulai itu. Oh Tuhan, maafkan Aku.
Aku diam sejenak kemudian meraih cangkir dari hadapan tuan muda lalu berjalan hendak keluar dari kamar.
"Nay?" tiba-tiba tuan muda memanggilku.
"Iya," aku menghentikan langkah dan berbalik ke arahnya.
"Terima kasih," tuan muda kembali tersenyum manis.
"Sama-sama," aku tersipu malu di hadapannya, lalu aku kembali melangkah keluar dari kamar tuan muda.
Tuan muda tersenyum bahagia. Dia merasa ada perbedaan yang membuatnya begitu tenang melihat sosok Naya seperti diriku.
"Apa Naya masih terpengaruh dengan obat itu, ya? Saya suka sikap Naya yang begitu perhatian," gumam tuan muda.
"Andai hubungan saya dan Naya setiap hari seperti ini, maka kami pasti menjadi keluarga yang harmonis."
"Tuhan, bagaimana jika saya selamanya membuat Naya melupakan Niko, maka saya rela selalu berada di sampingnya seumur hidup saya dan saya akan melindunginya serta menyayanginya. Saya tidak akan pernah melepaskannya," gumam tuan muda begitu egois dan penuh harap.
Semenjak Aku dan tuan muda melakukan peran dalam kebohongan, entah kenapa membawa kami pada perubahan sifat dan perilaku yang membuat lebih damai dan nyaman.
Apakah tuan muda sudah melupakan semua kebenciannya padaku soal harta warisan? Lantas bagaimana ucapan dia beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa dia ingin membuatku menderita?
__ADS_1
Sedangkan diriku mulai tersentuh dengan sisi baik tuan muda Aras setelah kepergian kak Niko.
Bersambung....