
Setelah para tamu undangan telah meninggalkan kediaman Ahmet, Aku pun telah mengganti pakaian dengan baju santai biasa, karena Aku pikir tuan muda tidak akan berani melakukan malam pertama kami, karena Aku masih berada di kamarku dan karena kondisi kami yang menikah karena terpaksa tanpa adanya cinta.
"Non Naya, disuruh tuan muda ke bawah sekarang!" tiba-tiba bi Tias masuk ke dalam kamarku dan menyampaikan titah dari tuan mudanya.
Aku menuruni tangga menuju keberadaan tuan muda Aras dan pak Agus, lalu Aku duduk di samping pak Agus yang sedang memegang amplo cokelat besar di tangan kanannya.
"Baiklah, saya akan membacakan surat wasiat yang kedua dari almarhum tuan Halim. Dengarkan baik-baik dan jangan pernah ada yang memotong ataupun protes sebelum saya menyelesaikan membaca surat wasiat ini. Saya harap kalian paham terutama anda, tuan muda Aras!" ucap pak Agus memperingatkan prosedur pembacaan surat wasiat dengan tenang tanpa gangguan.
"Baiklah, cepat bacalah surat wasiat itu. Jangan menundanya lagi," pinta tuan muda tidak sabaran.
Surat wasiat mulai dibacakan oleh pak Agus perlahan dari awal kata dan kalimatnya baris per baris hingga selesai.
Aku mendengarnya membelalak kaget dan tidak paham sama sekali dengan maksud surat wasit itu, apalagi tuan muda Aras sudah mengepalkan kedua tangannya yang siap dia hantamkan ke meja kaca di depannya yang cukup tebal.
Brakkk
Pranggg
"Apa nggak salah papa membuat surat wasiat itu? Ini tidak masuk akal," tangan tuan muda Aras mengeluarkan cukup banyak darah.
"Ini murni tuan Halim sendiri yang membuatnya. Sesuai dengan titahnya, semua saham perusahaan akan diberikan pada cucunya jika Aras Ahmet dan Kanaya Aurora mempunyai anak dalam asuhan ibu kandungnya. Dalam artian kalian tidak boleh bercerai sampai kapanpun. Jika kenyataannya kalian belum juga memiliki anak atau bercerai, maka seluruh harta pada posisi semula, yaitu 50% masing-masing dari kalian berdua," jelas pak Agus berulang kali menegaskan secara detil agar tuan muda Aras paham.
"Ini tidak adil, saya anak tunggalnya, seharusnya saya yang mendapat seluruh warisan papa!" tegas tuan muda lantang.
"Saya harap anda menerima dengan lapang dada dan bijak melaksanakan titah almarhum tuan Halim Ahmet terutama untuk mendapatkan cucu dari Nona Kanaya. Saya rasa sudah cukup jelas, saya permisi undur diri, Tuan dan Nona. Selamat atas pernikahan kalian, semoga bahagia dan dikaruniakan seorang putra penerus Haras Company," pak Agus sedikit membungkukkan badannya kemudian melangkah pergi dari kediaman Ahmet.
Pranggg
__ADS_1
"Arghhh ... keterlaluan!" teriak tuan muda Aras yang kali ini membanting vas bunga ke arah samping kiriku.
Jantungku seakan copot melihat kelakuan sang tuan muda jika dia sedang marah, Aku benar-benar takut apalagi matanya menatapku seakan ingin membunuhku. Dengan cepat, Aku bergegas lari dari sana menuju kamarku.
Aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi. Bagaimana jika dia membunuhku dengan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai karena ulahnya? Ah, ini tidak boleh terjadi. Makanya Aku lebih baik menghindarinya.
Satu jam kemudian, saat Aku hendak tidur, tiba-tiba saja tuan muda Aras memasuki kamarku dan berdiri di hadapanku dengan luka di tangannya yang sudah diperban.
"Kau puas sudah menjadi tuan putri di istana ini dengan cara kotormu merayu papa untuk merebut harta saya, hah?" lagi-lagi tuan muda Aras menuduhku dengan mulut hinanya.
"Jaga mulut kamu, aku bukan wanita rendahan seperti apa yang kamu tuduhkan," bantahku tak terima.
"Cih, masih nggak mau ngaku. Saya ingatkan sama kamu, kunci pintu kamar kamu dengan benar dan jangan sampai saya masuk saat kondisi saya tidak waras, atau kau akan tahu sendiri akibatnya," ucapnya yang kemudian mendekatiku secara perlahan ke arah ranjangku.
"Karena jika saya masuk ke kamar ini, mungkin saja saya akan melakukan sesuatu yang buruk lebih dari yang kau bayangkan," bisik tuan muda Aras ke telingaku lalu tangannya naik ke atas leherku seolah ingin membunuhku.
"Uhuk, uhuk ... keterlaluan kamu!" umpatku kesal padanya sambil memegangi leherku setelah tuan muda melepaskannya.
Setelah tuan muda keluar dari kamarku, Aku bergegas berjalan dan mengunci pintu kamar, karena Aku yakin tuan muda tidak main-main dengan ucapannya. Dan yang Aku tahu pria itu selalu mabuk-mabukan jika pikirannya sedang kacau.
Kali ini tuan muda tidak ingin ambil resiko buruk, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan mabuk-mabukan sehingga dia membawa pengawalan dua orang bodyguard.
Tuan muda mempunyai keburukan yang sangat parah, di samping dia seorang pria kejam, dia juga tidak mengenal kepedulian terhadap seorang wanita, karena tuan muda satu ini paling anti dengan seorang wanita-wanita penggoda.
Oleh karena itu, tuan muda memintaku untuk mengunci kamar agar dia tidak melakukan hal yang tak diinginkannya. Tentunya dia adalah pria normal yang siap kapan saja melakukan hal aneh pada wanita jika terdesak apalagi jika wanita itu adalah Aku yang selalu membuat amarahnya memuncak.
Tepat jam 03.00 dini hari, tuan muda kembali ke rumah dan langsung melesat ke arah kamarku dengan jalan sempoyongan dipapah oleh dua bodyguard. Dia menggedor-gedor pintu kamarku cukup keras sambil berkata yang tidak-tidak. Hem, pantas saja dia selalu mendapatkan masalah jika dirinya sudah mabuk.
Tok tok tok
__ADS_1
"Hei, wanita licik ... kau apakan papa saya, hah? Bisa-bisanya kau merayu pria tua itu untuk memasukan kamu ke daftar pewaris keluarga Ahmet," tuan muda berbicara dengan suara khas mabuknya tanpa sadar.
"Saya pikir kau hanya wanita lugu, baik dan manis. Tapi nyatanya kau itu sama saja seperti wanita-wanita diluaran sana yang menggoda para pria-pria kaya seperti papa," ucapnya lagi dengan menghinaku, dari bicaranya yang mengalir begitu saja tanpa tahu begitu sakitnya diriku.
"Apa kau ingin membalas dendam kepada saya karena saya sudah membuat orang tuamu meninggal, hah? Jadi kau sengaja menginginkan lebih kekayaan keluarga Ahmet. Kau memanfaatkan keadaan ini, Naya. Dasar kau licik, kau wanita rendahannn ... uhuk ... uhuk!" Tuan muda Aras tak henti-hentinya mengoceh sendiri dengan sesekali meneguk wine yang masih berada di tangan kanannya hingga terbatuk.
Tok tok tok
Dia masih saja menggedor-gedor pintu kamarku hingga lama-kelamaan dia terkulai lemas di lantai bersandar di pintu itu.
"Saya tidak rela dan saya tidak sudi punya isteri seperti kamu. Kau lihat saja, Naya. Saya akan buat kamu menderita seumur hidup kamu, hingga saya mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milik saya, hahaha!" ancaman yang tuan muda Aras katakan begitu membuat diriku tersentak dan tiba-tiba rasa takut bermunculan.
Pranggg
Terdengar pecahan botol wine yang tuan muda lemparkan ke sembarang arah saat wine yang tengah dia teguk telah habis.
"Berikan saya wine lagi, cepattt!" teriak tuan muda sambil memberi perintah pada salah satu bodyguard yang setia menemaninya.
"Dasar wanita licik, wanita penggoda, wanita rendahan. Saya akan menghancurkan kamu, saya akan buat kamu tersiksa," umpat tuan muda dengan ocehan-ocehannya yang tak karuan dan seakan ingin membalaskan dendam padaku.
"Penderitaanmu akan dimulai besok, Kanaya, hahaha!" Tak hentinya tuan muda mengoceh hingga kemudian dia pun terlelap di sana. Dua bodyguard setianya hanya bisa memapah tuan muda ke kamarnya.
Aku masih saja mengingat apa yang dikatakan oleh tuan muda Aras. Entah itu hanya gertakan atau memang benar dia akan menyiksaku.
Bukankah orang yang mabuk itu suka berbicara apa adanya walaupun dia tidak sadar, karena pada dasarnya menggunakan emosi hingga pikiran yang tak terkendali tapi akhirnya perkataan itu kenyataannya adalah benar.
Walau demikian, Aku harus bisa melawan dengan siasat apapun resiko yang akan terjadi suatu hari nanti.
Bersambung....
__ADS_1