
Tuan muda menatap wajahku bingung saat Aku tak berhenti berbicara dengan perhatian-perhatian yang menurutnya berlebihan. Tuan muda pun pusing mendengar suaraku yang berisik dan dia tak mengerti dengan tingkahku itu.
Aku berhenti bersuara saat kusadari mata suamiku itu menatapku tajam, Aku tahu sekali dengan tatapannya itu. Tatapan yang penuh kekesalan dan kekecewaan.
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu? Aku hanya khawatir karena kau sakit," ucapku sedikit ketakutan dan gugup.
"Sakit?" tuan muda mengerutkan keningnya.
"I-iya tadi bi Tias bilang kalau kamu sakit dan menyuruhku untuk bawakan makan siang ke sini. Pas aku cek suhu tubuh kamu rupanya kamu...," jelasku meyakinkan hingga di akhir kalimat Aku menggantungkan ucapanku karena ragu.
"Tapi kamu beneran sakit, kan?" tanyaku memastikan.
Tuan muda memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafasnya.
"Aku nggak...," ucap tuan muda yang langsung dilanjutkan oleh ucapan Luis.
"Tadi dia memang sakit, badannya demam dan wajahnya pucat sekali, tapi saat meminum obat keadaannya membaik. Benar kan, Brother?" Luis mulai beraksi dengan dramanya.
Tiba-tiba Luis mendekati tuan muda kemudian memotong ucapan tuan muda agar rencananya berhasil kali ini untuk menyatukan Aku dan tuan muda.
"Jadi sengaja kak Aras meminta bi Tias membawakan makan siang ke sini oleh kakak ipar, sekaligus kak Aras juga merindukan kakak ipar," ucap Luis menambahkan yang kali ini dengan ucapannya membuat wajah tuan muda menahan malu.
Luis mengedipkan matanya ke arah tuan muda dengan tujuan untuk melakukan peran kemesraan agar terlihat bahagia di hadapan kak Niko.
"Apa aku harus memainkan peranku lagi di depan Naya menjadi suami yang baik? Aghhh, ini gara-gara Luis yang tidak memberitahuku terlebih dulu," batin tuan muda tidak tenang.
Dari itulah suamiku mulai mengingat perkataan Luis yang memberinya masukan baik agar mendapatkan keluarga yang bahagia.
Ternyata Luis dan kak Niko berada di dalam satu ruangan ini, hanya saja tuan muda berada di kursi kebesarannya hingga Aku tak menyadari keberadaan kak Niko.
Kemudian terpaksa tuan muda melakukan perannya di hadapan kak Niko dengan berpura-pura menjadi suami yang baik sambil menahan rasa kesalnya pada Luis.
"Oh itu, iya ... tadi aku sempat pusing dan sedikit demam, tapi aku udah baikan kok, sayang!" tuan muda melakukan perannya dengan sangat lembut padaku hingga dia tersenyum dan menggenggam kedua tanganku dan menciumnya.
"Saat kamu di sini, aku menjadi semangat kembali. Terima kasih kamu sudah datang kemari, sayang!" tuan muda bangkit dan langsung mencium pipiku.
Aku benar-benar terkejut dan diluar dugaan. Aku senang tapi Aku juga bingung. Bukankah seminggu ini hubungan kami tidak membaik? Lalu apakah ini tandanya suamiku mulai menyadari kesalahannya? Aku begitu bahagia dan hanya membalas senyuman kecil dengan malu-malu.
__ADS_1
Sedangkan kak Niko dari seberang sofa dia berada, hanya menatap kemesraan kami yang membuat dia tersenyum walau ada sedikit rasa perih di hatinya. Dia akan tetap memberi dukungan penuh atas kebahagianku bersama tuan mudanya.
"Oh ya, waktunya jam makan siang. Kalau begitu, bisakah kalian berdua ke luar dari ruanganku dulu? Aku akan makan siang bersama istriku," pinta tuan muda dengan sopan sembari menatap Luis dan kak Niko bergantian.
Aku baru menyadari pandangan mata suamiku ke arah sofa dan menyinggung dua orang, berarti ada satu orang lagi selain Luis. Aku juga tidak menyadari bahwa sedari tadi seseorang sedang duduk di sofa yang tak lain adalah kak Niko. Orang yang sangat Aku kenal.
Aku menoleh ke arahnya dan kaget saat melihat wajahnya yang beberapa bulan ini Aku tak melihatnya, beberapa bulan lalu yang Aku tangisi kepergiannya. Sungguh menyedihkan. Tapi kali ini keadaan sudah berubah, seiringnya waktu Aku telah mengikhlaskan dan melupakan kak Niko.
Aku terpaku melihat kak Niko, ingin sekali Aku mendekatinya tapi Aku sadar bahwa ada suamiku bersamaku.
"Kak Niko, kapan kau datang ke Jakarta?" tanyaku spontan.
"Satu jam lalu," ucap kak Niko singkat dan tersenyum datar.
Kak Niko bangkit dan membungkuk hormat ke arahku dan suamiku.
"Saya permisi, Tuan muda!" ucap kak Niko ramah dan melirikku sekilas.
Setelah mendapatkan anggukan dari tuan muda, Kak Niko pun berjalan ke luar ruangan.
"Ekhem!" tuan muda memecahkan arah pandanganku.
Lalu Aku beralih menatap suamiku dan tersenyum padanya.
Luis yang masih berdiri di depan kami akhirnya dia pamit.
"Kalau begitu, Aku permisi. Aku tidak akan mengganggu kemesraan kalian berdua. Selamat menikmati makan siang yang romantis, ya!" ucap Luis tersenyum lebar dan melangkahkan kakinya hendak ke luar dari ruangan.
"Luis, urusan kita belum selesai," kata tuan muda mengingatkan Luis.
"Ya ya, baiklah!" teriak Luis saat dia hendak membuka pintu untuk keluar.
Tinggallah Aku dan tuan muda berdua, suasana berubah menjadi hening dan canggung. Apalagi suamiku yang terlihat begitu salah tingkah.
Sementara Aku yang bingung harus melakukan apa, akhirnya Aku mulai membuka suaraku lebih dulu agar kecanggungan di antara kami hilang. Padahal Aku masih kesal pada suamiku ini, huh.
"Ayo kita makan, aku siapin di meja sana, ya!" Aku berjalan sembari membawa rantang makanan ke meja lalu aku duduk di sofa kemudian disusul oleh suamiku pula.
__ADS_1
Kami makan bersama tanpa adanya pembahasan atau bercerita satu sama lain. Aku mulai bosan dengan kecanggungan ini.
"Mau tambah lagi? Kenapa sedikit sekali kamu makan?" tanyaku begitu perhatian pada tuan muda.
"Sudah cukup, aku kenyang. Sekarang kau bereskan ini, setelah itu aku antar kau ke parkiran mobil untuk pulang," kata tuan muda sembari memberi perintah.
"Pulang? Aku ingin pulang bersamamu."
"Satu jam lagi aku ada rapat, lagi pula aku pulang sore."
"Kalau gitu aku ikut kamu, ya. Aku juga ingin lihat-lihat suasana kantor di sini. Aku kangen banget sama kantor ini."
"Nggak bisa. Kamu harus pulang, Naya!"
"Please, aku bosan di rumah setiap hari. Tolong izinkan aku bernafas bebas di sini, ya. Aku janji nggak bakalan kabur. Bukankah ada pengawal yang menemaniku? Boleh ya, sayang!" Aku terpaksa meminta dengan manja pada suamiku hingga memeluknya berharap dia mengabulkan permohonanku.
"Kau menggodaku, Nay?"
"Iya, supaya kau memperbolehkanku berada di sini," Aku memeluknya dengan erat kali ini.
Tuan muda mulai memikirkan hal yang buruk karena takut jika Aku akan menemui kak Niko, padahal yang sebenarnya Aku inginkan hanyalah memanfaatkan kebebasan saat ini. Soal kak Niko, entah kenapa Aku tidak begitu mempedulikan kedatangannya, karena Aku sudah mulai menerima masa depan bersama tuan muda Aras.
"Sayang, boleh ya?" tanyaku dengan sangat manja hingga Aku malu dengan kelakuanku sendiri.
"Aghhh, sial kelakuannya seperti anak kecil ... aku terpaksa mengabulkan permintaan Naya," batin tuan muda bimbang.
"Sayang, boleh kan?" desakku kali ini.
"Ya baiklah, tapi ingat ... setelah aku selesai dari rapat, kau harus sudah di ruangan ini. Kira-kira rapat akan dilakukan selama satu jam," perintah suamiku yang harus dipatuhi.
"Ya, aku janji, terima kasih sayang!" Aku mencium bibir suamiku sekilas saking bahagianya.
Aku menatap suamiku dengan lekat begitu juga dengan suamiku yang mulai masuk dalam tatapan mataku dan bibirku yang membuatnya tergoda hingga dia mencium kembali bibirku penuh penghayatan.
"Akhirnya usahaku tidak sia-sia. Ini juga berkat bi Tias yang membantuku," gumam Luis yang ternyata masih belum beranjak dari depan pintu ruangan tuan muda sambil tersenyum puas di balik celah pintu itu yang dibukanya secara diam-diam.
Bersambung....
__ADS_1