Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Kakak dan Adik


__ADS_3

Aku sedikit menjauh dari suamiku, sedangkan suamiku terlihat begitu tenang tetapi matanya tertuju pada Luis tak bersahabat. Luis menanggapi dengan santai dan masih mentertawakan Aku dan suamiku.


"Apakah aku mengganggu kalian? Kalian sekarang bertambah mesra. Aku juga bahagia melihatnya. Apalagi kakak ipar sekarang diperbolehkan ke luar dari istana raja yang begitu membosankan," Luis terkikik sendiri dengan bicaranya yang tidak dipikir terlebih dulu.


"Berapa kali aku katakan, jaga sikap kamu jika di kantor, terapkan sopan santun kamu, jika ke ruangan ini harus ketuk pintu dulu!"


"Ya, ya lain kali akan aku ingat, kalau tidak lupa, hehe."


Luis masih saja bercanda di depan kami berdua yang salah tingkah, apalagi Aku merasa malu atas apa yang aku lakukan pada suamiku.


"Ada apa?" tanya suamiku dingin pada Luis.


"Aku ingin bicara sesuatu padamu, penting!" Luis mengambil kursi lalu duduk di hadapan tuan muda dengan serius.


Tuan muda menghela nafasnya perlahan mencoba tenang menghadapi Luis.


"Cepat katakan, aku masih banyak kerjaan," ujar tuan muda dingin.


Luis menatapku cukup lama seolah pembicaraan dia hanya untuk dibahasa antara dia dan suamiku saja. Dari tatapan Luis lah aku paham, kemudian aku menjauh untuk memberi mereka berdua privasi.


"Ok, aku akan keluar. Kalian berbicaralah sepuasnya," Aku hendak melangkah menjauh.


"Naya!" tuan muda meraih tanganku.


Aku tahu jika tuan muda ketakutan bila aku tidak dalam pengawasannya, apalagi masih ada kak Niko yang bekerja di kantor ini.


"Tenang, aku masih ingat kok. Jaga mata dan hati, kan?" Aku tersenyum menatap suamiku kemudian berjalan ke luar dari ruangannya.


Tuan muda tidak rela bila aku pergi darinya. Tapi dia tidak boleh egois karena dia sudah membuat janji pada Luis yang harus ditepati.


"Kau keterlaluan, Brother ... masih saja cemburuan. Kakak ipar tipe orang yang setia, percayalah!" ujar Luis meyakinkan.


"Katakan, hal penting apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya tuan muda sembari mengalihkan perkataan Luis barusan.

__ADS_1


Luis mencoba menarik nafasnya perlahan, menetralisir keraguan dan ketakutannya pada tuan muda.


"Cepat katakan!" pinta tuan muda tak sabaran.


"Baiklah, aku langsung saja ... kau tahu bukan, bahwa keluarga papaku tidak menginginkan aku menduduki perusahaan keluarga Vettori. Jadi, lusa aku akan pulang ke Italia untuk mengurus semuanya di sana," Luis begitu kecewa dengan sikap tuan muda yang tak memperhatikannya dan cuek, tuan muda hanya memainkan pena yang diputar-putarnya dengan tangan.


"Kak, aku minta maaf selama di Jakarta aku membuatmu kesal dan marah. Sungguh aku tidak ada niat buruk, hanya saja aku tidak tahu caranya untuk membuatmu menyukaiku," ucap Luis yang lagi-lagi tidak dipedulikan oleh tuan muda.


"Kak, apa kau membenciku?" tanya Luis ingin tahu.


Tuan muda Aras diam tak menjawab pertanyaan Luis. Dia malah mengalihkan matanya pada jam di tangannya.


"Emm ... aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Bisa kau keluar sekarang?" pinta tuan muda dengan sopan beralasan.


Tuan muda Aras memang memiliki sifat yang dingin dan angkuh. Tapi saat Luis mempertanyakan mengenai kebencian padanya, sebenarnya tuan muda sama sekali tidak mampu untuk mengatakannya. Sungguh tuan muda gengsi untuk jujur kepada Luis.


Tuan muda sebenarnya tidak pernah membenci Luis, bahkan sejak kecil kehadiran Luis yang tidak diinginkan oleh tuan muda Aras karena mengingatkan dia pada mamanya yang telah meninggalkannya. Dia marah pada mamanya karena memiliki anak selain dia, bukan berarti tuan muda membenci Luis.


Tuan muda Aras sudah memikirkan bagaimana sikap Luis selama ini padanya. Walau Luis terlihat tidak punya tata krama yang baik, tapi Luis banyak membantunya dalam hubungan percintaan.


"Kak, tolong jangan membenciku. Aku tidak bersalah dalam hal ini. Sudah cukup aku menderita sejak kecil. Tolong jangan buang aku lagi seperti belasan tahun lalu. Itu membuatku sakit, Kak!" ucap Luis dengan suara yang bergetar, ada rasa kesedihan yang ditahan oleh Luis.


"Semua keluarga di Italia merendahkan aku bahkan tidak pernah mempedulikan aku, mereka membenciku, Kak. Hanya kau lah satu-satunya keluarga yang aku punya. Dalam darah kita berdua, memiliki darah mama Laura, Kak."


Luis bangkit dan berjalan mendekati tuan muda lalu melipat kedua kakinya di lantai di hadapan tuan muda sembari menggenggam kedua tangan tuan muda Aras yang duduk di kursinya.


"Kak, tolong terima aku sebagai adikmu. Aku tidak mau hidup sendiri lagi. Hanya kau lah panutanku dan tempat aku berlindung, kak. Aku hanya ingin kau menganggapku sebagai adikmu, tidak lebih!" Mata Luis berkaca-kaca dan akhirnya menangis di hadapan tuan muda.


Sontak tuan muda menjadi tidak tega dan merasa bersalah atas sikap acuhnya pada Luis. Tuan muda pun bangkit dari kursi kebesarannya karena tidak tahan melihat Luis yang mengingatkan dia sewaktu Luis kecil menangis ketika tuan muda meminta papanya untuk membawa Luis pulang kembali ke Italia. Dari situ dia sangat merasa bersalah.


"Kenapa kau menangis? Kau itu laki-laki, kenapa kau menjadi cengeng seperti perempuan? Berhentilah menangis, aku benci dengan tangisanmu itu," pinta tuan muda dengan sangat cemas karena dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan tangisan Luis.


Luis bangkit dan langsung memeluk tuan muda begitu saja.

__ADS_1


"Kak, jangan marah padaku. Jangan benci padaku. Jika kau menerimaku sebagai adikmu, maka aku akan tenang selama berada di Italia," ujar Luis sangat berharap pintanya diterima oleh sang kakak.


"Hei, lepaskan ... kau memelukku begitu erat. Aku sulit bernafas, Luis!" tuan muda mencoba melepaskan pelukan dari Luis tapi nyatanya tenaga Luis cukup kuat karena tubuhnya besar walau umurnya masih muda.


"Aku tidak akan lepaskan sebelum kau menerimaku sebagai adikmu."


"Hei, kau...," tuan muda menahan kesalnya.


Karena merasa risih dan sangat gerah, akhirnya tuan muda mengalah dan menurunkan egonya pada Luis.


"Baiklah, aku ... aku terima kamu menjadi adikku. Tapi tolong lepaskan pelukanmu ini, dadaku sesak."


"Kau bohong."


"Tidak, sungguh."


"Jika kau menerimaku menjadi adikmu, berarti aku boleh kapan saja main ke rumahmu, kantormu bahkan meneleponmu sesuka hatiku?" Luis mempertanyakan kesungguhan tuan muda dengan ucapannya barusan.


"I-iya, kapanpun itu terserah mau kamu," ujar tuan muda sedikit ragu.


"Benarkah?" Luis melepaskan pelukannya dari tuan muda.


Tuan muda pun mengangguk dan merasa lega.


"Tapi satu hal yang harus kamu turuti, kamu harus meninggalkan pekerjaan gangster kamu itu, karena aku tidak ingin keluargaku menjadi seorang preman," pinta tuan muda dengan syaratnya sembari merapikan pakaiannya.


"Baiklah, aku janji akan menjadi adik yang berbakti padamu, sekarang kau adalah kakak sekaligus orang tua bagiku," ujar Luis kegirangan.


Tuan muda pun tersenyum tipis melihat tingkah Luis yang seperti anak kecil.


Luis memeluk kembali tuan muda Aras dengan erat saking bahagianya.


"Owh shitttt, jangan terlalu erat. Kau bukan Naya yang seenaknya saja memelukku, Luis!" tuan muda merasa risih.

__ADS_1


"Biarkan saja, jarang-jarang aku memelukmu seperti ini, bukan!" Luis menambah pelukan eratnya pada tuan muda untuk menjahili kakaknya itu.


Bersambung....


__ADS_2