
Cemburu itu wajar terjadi, bahkan sering dialami atau dirasakan oleh setiap manusia dan tidak mengenal usia. Seperti sepasang kekasih yang dilanda kecurigaan, ketakutan apabila muncul orang ketiga di antara mereka.
Malam hari, setelah tuan muda memasuki kamar lalu duduk di sisi ranjang hendak berbaring, sebelumnya dia memandangku yang sedang duduk di depan cermin sambil memoleskan krim wajah.
"Apa yang kalian berdua bicarakan selama di kantin?" tanya tuan muda yang tiba-tiba membuka pembicaraan.
Aku mengerutkan keningku berpura-pura berpikir tentang apa yang sedang ditanyakan oleh tuan muda barusan, Aku tahu apa yang tuan muda maksud.
"Di kantin? Oh, maksud kamu Aku dan kak Niko?" tanyaku memastikan.
"Hemm," sahut tuan muda datar.
"Kami berdua membicarakan sesuatu yang penting, seperti ... mengenang masa lalu saat kami pacaran dulu," jawabku berbohong untuk membuatnya cemburu.
Aku ingin lihat bagaimana sikap tuan muda dengan apa yang telah Aku ucapkan padanya. Apakah dia marah atau menganggapnya biasa?
Nyatanya, tuan muda terlihat begitu tidak suka, dia hanya diam setelah itu membaringkan tubuhnya ke ranjang dengan posisi miring.
Aku tahu jika tuan muda sangat kesal, marah dan kecewa tapi tidak dia tunjukkan. Aku hanya menghela nafas perlahan kemudian bangkit lalu berjalan naik ke atas ranjang dan mendekatkan tubuhku pada tuan muda untuk memperjelas ucapan yang sengaja Aku buat tadi agar dia cemburu.
"Sayang, apa kau percaya dengan ucapanku tadi, hah?" tanyaku memeluk tuan muda dari arah belakang.
"Sayang, jawab dong. Aku tahu kamu belum tidur," Aku menggoyang-goyangkan tubuh tuan muda.
"Aku tahu kamu mengawasiku dan kak Niko di kantin. Jadi mana berani kami mengenang tentang kehidupan yang sudah berlalu."
"Kau mau tahu bagaimana tadi saat aku berhadapan dengan kak Niko?"
"Saat di dekat kak Niko hatiku tidak merasakan apa-apa lagi, perasaanku dulu hilang begitu saja padanya."
"Berbeda saat aku di dekatmu, aku merasakan kerinduan, kehangatan dan kenyamanan. Aku tidak ingin jauh dan kehilanganmu, sayang!"
Panjang lebar Aku berkata dan mengakui dengan sejujurnya pada suamiku, tapi tak ada respon apa-apa darinya. Aku semakin takut dan khawatir dengan diamnya.
"Sayang, apa kau cemburu?" tanyaku berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Tidak," akhirnya tuan muda menjawab pertanyaanku.
Aku senang mendengarnya walaupun bernada datar dan dingin, yang penting ada jawaban darinya.
"Kalau tidak cemburu kenapa kau langsung membaringkan tubuhmu begitu saja? Lalu wajahmu dan suaramu begitu dingin padaku? Apa itu bukan pertanda marah atau...," tanyaku tak henti hingga tuan muda memotong perkataanku.
"Itu karena aku ngantuk!" ujarnya menyambar.
Kali ini Aku membalikkan tubuh tuan muda ke hadapanku. Kami berpandangan saling menatap, Aku pun mulai menggodanya.
"Oh ya, yakin tidak cemburu?" tanyaku sembari mengelus wajah tuan muda sangat lembut.
Tuan muda menghentikan pergerakan tanganku yang mulai nakal saat Aku menyentuh bibirnya.
"Ngapain juga aku cemburu dengan Niko, lagian kamu milikku, kamu itu istriku dan tahananku di rumah ini. Jadi kamu nggak bisa pergi dariku."
"Jika kau pergi dariku, maka kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal hingga aku akan membuatkan menara tinggi untukmu seperti Rapunzel di negeri dongeng agar kau terkurung selamanya di sana," ancaman tuan muda seakan menakutiku, tapi dia menatapku dan menelisik tajam wajahku penuh rindu.
Aku sedikit tertawa karena nyatanya ancamannya itu hanya bualan dan tidak akan pernah terjadi.
"Jika seperti itu, lakukanlah. Maka aku akan menunggu pangeran tampan yang akan mengeluarkan aku dari menara terkutuk yang kau buat itu," ucapku menantangnya.
Merasa tidak suka dengan ucapanku, tuan muda membalikkan badanku tepat di bawah tubuhnya. Dia tersenyum nakal menatapku.
"Oh, kau rupanya mengundang kemarahanku, Naya!" ujar tuan muda kemudian langsung mencium bibirku begitu saja.
Sejenak menjeda ciuman itu, tuan muda beralih mendekatkan wajahnya ke arah telingaku.
"Lupakan tentang menara Rapunzel, karena malam ini aku akan menghukum kamu sekarang juga!" bisik tuan muda yang kali ini dengan suara lembut menggoda.
Tuan muda mulai mengunci tanganku di atas kepalaku dengan tangan kanannya.
"Berarti benar kau cemburu, sayang!" ujarku menjahilinya.
"Tidak, aku hanya benci jika kau mengingat pria lain," sangkal tuan muda.
__ADS_1
"Sama saja, itu cemburu," ujarku lagi.
"Tidak Naya!" sangkalnya kembali membantah.
"Tapi...," ucapku tiba-tiba terpotong.
Tuan muda langsung membungkam mulutku dengan bibirnya agar aku diam.
"Hempt," aku diam dan mengikuti gerakan mulutnya.
Dua hari kemudian, di bandara. Aku dan tuan muda mengantar keberangkatan Luis yang akan pulang ke Italia. Detik-detik perpisahan antara tuan muda dan Luis begitu mengharukan.
"Kak, aku pasti akan merindukanmu. Jangan lupakan aku ya, Kak. Selamanya kita akan tetap saudara. Kau sudah berjanji padaku, bukan?" Luis menggenggam tangan tuan muda erat dan ada rasa ketakutan yang terlihat.
"Kita bersaudara, sampai kapanpun kau tetap adikku. Aku berharap kau di sana menjaga dirimu baik-baik. Jangan kembali pada pekerjaanmu sebagai preman. Jangan membuatku kecewa. Jadilah adik yang membanggakan untukku," pesan tuan muda dengan bijak.
Luis mengangguk dan kini pandangannya mengarah padaku.
"Kakak ipar, tolong jaga Kak Aras untukku, ya. Kalian harus akur dan aku harap mendapat kabar baik dari kalian berdua secepatnya," pinta Luis tersenyum menatapku.
"Kabar baik apa?" tanyaku heran.
"Keponakan untukku," sahut Luis santai.
Aku terdian dan menundukkan pandanganku ke bawah dengan cukup malu.
"Kau tenang saja, kami sedang berusaha membuatnya. Kau akan mendapatkan keponakan sebentar lagi. Jadi do'akan saja kami. Benar kan, sayang!" ujar tuan muda sembari merangkul pundakku mesra.
Aku masih menundukkan pandanganku untuk menutupi mukaku yang memerah. Tuan muda dan Luis pun tertawa melihat tingkahku.
"Baiklah, aku berangkat sekarang. Sampai jumpa semuanya, aku tunggu calon keponakanku dari kalian berdua," kata Luis mengingatkan.
Luis memelukku dan memeluk tuan muda bergantian setelah itu berjalan menjauh dan sesekali berbalik melambaikan tangannya ke arah kami berdua sambil tersenyum lebar.
Bersambung....
__ADS_1