Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Sekilas tuan muda mengingat pada kejadian belasan tahun yang lalu. Kemarahannya kali ini lebih menjadi-jadi hingga rasanya tuan muda ingin sekali membunuh Luis yang ada di hadapannya itu dengan mencekiknya atau dengan pukulan ke wajahnya beberapa kali.


Aku melihat Luis yang sedikit meringis kesakitan, aku pun mencoba untuk melepaskan cengkraman tuan muda sebelum suamiku bertindak diluar batasnya.


"Lepaskan, kau menyakitinya. Tenangkan dirimu. Masalah ini bisa dibicarakan baik-baik. Please, lepaskan Luis. Aku tidak ingin kau menjadi seorang pembunuh," Aku mencoba sekuat tenaga melepaskan tangan suamiku dari Luis.


Perlahan tuan muda melepaskan tangannya dari Luis saat Aku mengatakan 'seorang pembunuh' karena perkataan itu pernah Aku layangkan dulu padanya. Jadi tuan muda sadar bila saat ini kemarahannya telah menguasai dirinya.


Aku pun lega akhirnya tuan muda bisa mengontrol diri. Tapi tatapan mata tuan muda saat ini sungguh tiada henti memandang Luis dengan sorot mata kebencian.


"Saya tidak ingin melihatmu, jadi angkat kakimu dari sini sekarang juga," paksa tuan muda menekan pada Luis.


"Kenapa? Kau sudah ingat padaku, bukan? Lalu kenapa kau mengusirku? Aku belum ingin pergi dari sini karena Aku ingin bernostalgia denganmu," kata Luis sambil merapikan bajunya yang sedikit lusuh.


"Saya bilang pergi dari sini sebelum kesabaran saya habis," pinta tuan muda dengan tenang tetapi tatapan matanya tajam ke arah Luis.


"Tidak mau, aku ingin di sini bersama saudaraku. Aku juga ingin menikmati hidup mewah sepertimu, Kak Aras!" Luis hanya tersenyum melihat Aras apalagi saat dia memanggilnya 'Kak' dengan mengedipkan matanya sebelah.


Aku kaget saat mendengar ucapan dari Luis yang menyebut suamiku 'kak Aras', rasa ingin tahuku sangat kuat, tapi Aku belum berani untuk bertanya lebih pada tuan muda maupun Luis.


"Jangan menyebut saya dengan panggilan itu. Kau hanya orang asing," Tuan muda menarik tangan Luis hendak menyuruhnya pergi tapi Luis malah menepis dengan kasar.


"Kau tidak bisa mengelaknya karena kita berdua dilahirkan dari rahim seorang wanita yang sama," protes Luis mengingatkan.


Tuan muda tidak mempedulikan ucapan Luis. Dipikirannya hanya ada kemarahan dan kebencian serta kekecewaan.


"Pergilah, aku tidak ingin ada orang luar yang mengotori rumahku," ujar tuan muda menyingung.

__ADS_1


Luis menaikan sebelah sudut bibirnya mendecih. Dia tidak akan keluar dari kediaman Ahmet sebelum apa yang dia rasakan bertahun-tahun selama ini dia ungkapkan kepada tuan muda Aras.


"Aku tidak mau. Aku akan tetap di sini. Lagian, kenapa kau begitu benci padaku? Apa salahku? Justru aku yang seharusnya benci padamu dan marah padamu. Kau tahu, hidupku hancur gara-gara kau, Aras. Aku kecewa padamu, kau seorang manusia yang tidak punya hati."


"Padahal surat itu dijelaskan bahwa mama menitipkan aku di rumah ini sebelum kematiannya, tapi kau mengusirku hingga aku dipulangkan kembali ke Italia tempat keluarga mama dan papaku tinggal, tapi apa ... nyatanya aku dibawa oleh mereka ke panti asuhan, mereka tidak menginginkan aku dan mereka membuangku sama seperti dirimu."


"Aku sendirian dan tidak punya siapa-siapa. Saat aku remaja, aku kabur dari panti asuhan dan tinggal dijalanan. Dan saat itu aku masuk ke dunia hitam menjadi budak sehingga aku menjadi ketua gangster sekarang. Hidupku menyedihkan sedangkan kau tinggal dirumah mewah dan bahagia," suara Luis terdengar berat dan matanya berkaca-kaca mengingat kejadian masa lalunya.


Sungguh begitu pilu mendengar cerita masa lalu dari Luis yang baru saja dia ungkapkan. Ada rasa sedih juga simpati. Itu baru saja cerita darinya, bagaimana Luis menjalani kehidupannya selama ini sungguh tidak bisa dibayangkan jika melihatnya secara langsung.


Betapa menderitanya hidup Luis yang sejak kecil tidak ada satu pun keluarga yang menampung dan menganggap dirinya. Bisa Aku rasakan betapa sakitnya hati Luis. Tapi dia hebat karena bisa melewati dan menjalani hidupnya sampai saat ini.


Tuan muda terdiam, ada rasa bersalah dalam dirinya mendengar pengakuan Luis. Tapi pikiran untuk berbaik hati padanya ditepiskan karena memang pada kenyataannya Luis adalah anak dari selingkuhan mamanya, itulah yang selama ini diyakini oleh tuan muda Aras.


"Saya tidak peduli dan itu juga bukan urusan saya. Saya tidak akan bersimpati sama sekali. Jadi sekarang pergilah dari sini," tuan muda mengusir Luis kesekian kalinya tapi Luis menganggapnya santai.


Luis berjalan keluar dari ruangan gelap itu menuju ruang depan dan duduk di sofa sambil kakinya dinaikan ke atas meja seperti tuan rumah. Dia berlagak seperti boss dan menyilangkan tangannya di dada.


"Aku tidak mau pergi. Aku ingin tinggal di sini, di rumah ini, di rumah saudaraku sendiri. Menikmati kemewahan di istana ini," ucap Luis santai sambil melihat sekeliling ruangan bak istana di sana.


"Ini rumahku," ujar tuan muda penuh penekanan sambil mendekati Luis.


"Ya, makanya aku ingin menginap di rumahmu," bantah Luis.


Tuan muda Aras sudah tidak tahan melihat tingkah Luis yang begitu buruk. Maka tuan muda menarik tangan Luis lalu menjatuhkannya ke lantai.


"Aku bilang pergiiiii," teriak tuan muda menjerit.

__ADS_1


Tuan muda meraih vas bunga di meja lalu hendak dia lemparkan ke arah Luis. Sontak semua anak buah Luis mulai beraksi, mereka menodongkan pistol ke arah tuan muda. Sedangkan Dion dan pengawal tuan muda melindungi suamiku dari belakang tubuhnya, karena kenyataannya para pengawal suamiku tidak memegang pistol seperti anak buahnya Luis. Aku yang melihat kejadian itu pun menjadi ketakutan.


"Berhenti, tolong jangan lakukan itu. Dia akan terluka," Aku menahan tangan tuan muda dengan cepat.


Aku beralih menatap Luis yang masih duduk di lantai sembari melihat ke arahku juga.


"Luis, tolong pergilah dari sini. Keadaan saat ini sedang kacau. Aku tidak ingin kalian bertengkar. Please, pergilah Luis!" pintaku pada Luis memohon.


"Ajaklah juga anak buahmu itu pergi dari rumah ini," pintaku menambahkan.


Luis sejenak berpikir sambil memandang ke arahku. Apa yang telah diucapkan olehku membuat hati Luis luluh.


"Baiklah cantik, karena kau yang memintanya, aku akan pergi dari sini," Luis bangkit berdiri dan menatapku.


"Tapi ingat, urusan kita belum selesai, Brother. Jadi besok aku akan datang kemari lagi," Luis beralih menatap tuan muda menyeringai.


Kemudian, Luis mendekatiku dan tersenyum kepadaku lalu mencuri ciuman ke pipiku di saat dia hendak melangkah pergi.


Cup


"Sampai jumpa besok, cantik!" Luis menciumku seolah membuat suamiku marah.


Aku kaget sedangkan suamiku pun bertambah marah yang rasanya dia ingin membunuh Luis sekarang juga.


"Beraninya kau mencium istriku. Dasar kau sialannnn!" teriak tuan muda Aras sambil melempar vas bunga yang masih dipegangnya ke arah Luis. 


Untungnya Luis bisa mengalihkan  tubuhnya dari lemparan suamiku ketika Luis melangkah untuk keluar dari kediaman Ahmet. Luis pun tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2