
Satu bulan berlalu, kehidupan Luis di Italia sekarang lebih baik. Dia mematuhi apa yang telah diperintahkan oleh tuan muda Aras. Luis sekarang menjadi seorang pekerja kantoran yang tekun dan rajin di keluarga Vettori.
Walau ada saja keluarganya yang masih tidak menganggap Luis di sana, tapi Luis tetap menjadi lelaki yang sabar dan tenang menjaga sikapnya agar bisa membuktikan bahwa dia layak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kakaknya, tuan muda Aras.
Di Italia, perusahaan Phoebus Company. Luis bekerja sebagai karyawan biasa di sana tapi Luis tetap menerima dengan lapang dada. Karena dia sadar diri dengan statusnya sebagai anak yang dilahirkan di luar pernikahan kedua orang tuanya yang tidak direstui oleh semua keluarga besar Vettori.
"Hei, jangan belagu kamu. Kamu sekarang berada di kantor ini hanya karena tuan Aras. Kalau bukan karena dia, maka hak waris kamu sudah kami coret dari daftar keluarga Vettori," ucap Marcel, kakak sepupunya yang menjadi CEO di keluarga Vettori.
Marcel marah ketika Luis tidak memberi hormat padanya saat mereka sedang berpapasan di area kantor.
"Kami sekeluarga belum bisa menerima anak haram seperti kamu. Kamu hanya berlindung di bawah kekuasaan kakak tirimu itu, si tuan muda Aras. Jadi jangan bangga kamu, Luis!" ucap Marcel sambil menatap Luis dengan sinis dan jijik.
Marcel hanya mendecih dan mencoba santai untuk menghadapi kakak sepupunya itu.
Selama ini memang Luis tidak akur dengan Marcel karena Marcel selalu kasar dan tidak pernah menghargai Luis sebagai bagian dari keluarganya.
"Bukankah keluarga Ahmet yang paling banyak membantu perusahaan Phoebus Company saat dilanda kebangkrutan? Aku bisa saja meminta pada kak Aras untuk melenyapkan perusahaan ini dalam sekejab. Jadi kamu jangan menghinaku jika kamu saja masih meminta bantuan pada orang lain," ujar Luis yang mempermalukan Marcel hingga ke akar-akarnya.
"Kau berani melawanku!" kesal Marcel sedikit berteriak.
Marcel menatap tajam mata Luis, dia mengepalkan kedua tangannya yang siap hendak memukul Luis. Tapi niatnya diurungkan karena mengingat ucapan Luis yang menyinggung soal tuan muda Aras.
Marcel tidak ingin kerjasama yang sudah terjalin lama dengan tuan muda Aras hilang begitu saja, keluarga Vettori pun tidak bisa mengembalikan apa yang sudah Haras Company berikan pada perusahaan keluarga Vettori.
Mau tidak mau Marcel harus berbaik hati menempatkan Luis di Phoebus Company, itu pun sengaja Marcel tempatkan Luis sebagai karyawan biasa.
"Coba saja hina aku di depan kak Aras, maka dia pasti akan membelaku. Mau bertaruh denganku?" tantang Luis menyeringai sinis.
"Dasar kau...," Marcel hendak mengumpat dengan menggantungkan ucapannya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Terus saja menghinaku, aku tidak peduli karena aku tidak akan menghormatimu selama kau tidak menghargaiku, mengerti?" ancam Luis tak ambil pusing.
Luis kembali berjalan meninggalkan Marcel dengan santai menuju ruang kerjanya.
"Arghhh, sialan kau Luis!" umpat Marcel mengeram.
Luis merasa tenang selama dia berada di bawah lindungan tuan muda Aras karena Luis yakin bahwa Marcel tidak akan berani mengusirnya kembali dari Phoebus Company seperti dulu.
"Kakak, apa kabarnya? Aku merindukannya, lebih baik aku menghubunginya saja nanti," gumam Luis mengingat tuan muda Aras.
Sementara, di kediaman keluarga Ahmet. Malam hari, setelah Aku keluar dari kamar mandi, sengaja mencari moment yang sangat tepat untuk menunjukkan sesuatu yang dinanti-nanti oleh semua pasangan suami istri.
Aku perlahan berjalan mendekat ke arah tuan muda saat dia sedang duduk di ranjang menyandarkan kepalanya di atas bantal sambil memejamkan matanya. Saat itu Aku memegang satu benda kecil yang Aku sembunyikan di belakang tubuhku dengan satu tangan.
Aku berdiri tepat di samping ranjang tuan muda Aras dengan wajahku yang tersenyum semanis mungkin. Aku menghalangi matanya pada cahaya lampu dengan tangan kananku. Tuan muda pun menyadari kemudian membuka matanya.
"Nay, apa yang kau lakukan? Ayo, tidurlah jangan menggangguku," ucap tuan muda sambil menepuk ranjang tempat tidurku di sampingnya.
"Kenapa senyum-senyum gitu sih, Nay?" tanya suamiku heran.
Aku mengambil tempat di sisi ranjang lalu duduk di samping tuan muda.
"Aku punya satu kejutan untukmu, sayang!"
"Kejutan, maksudnya?" tuan muda mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Aku bingung harus mengatakan dari mana, Aku masih saja diam dengan senyumanku.
"Nay, kejutan apa sih? Ayo katakan, jangan buat aku penasaran!" ujar tuan muda sangat ingin tahu.
__ADS_1
Aku langsung memperlihatkan test pack ke hadapan tuan muda.
"Ini kejutannya," ucapku malu-malu.
Tuan muda menatap test pack itu seolah tak percaya, dia membulatkan matanya dan meraih test pack itu cukup lama.
"Kamu ... kamu hamil, sayang?" tanya tuan muda memastikan.
Aku mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan suamiku.
"Alhamdulillah, usaha kita berhasil. Papa, aku sudah mewujudkan keinginan papa untuk mendapatkan keturunan keluarga Ahmet," tuan muda bahagia dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nay. Kamu memang istri pilihan papa yang sempurna untukku. Aku sangat bersyukur memilikimu, sayang!" ujar tuan muda yang kali ini memelukku seakan tak terlepaskan.
Tuan muda menatap wajahku cukup lama. Pancaran matanya yang terlihat bahagia begitu teduh saat kupandang. Aku sangat menyukai moment ini, dia yang begitu tulus dan penuh kasih sayang.
"Semua yang kita alami adalah kehendak NYA, kita ditakdirkan bersama walau ujian diawal membuat kita kecewa tapi pada akhirnya kita mendapatkan hikmah dan kado terindah dari Allah."
"Ini juga berkat tuan Halim yang begitu baik padaku. Dia mengubah hidupku dan statusku menjadi ratu di keluarga Ahmet. Aku merindukan ibu, ayah dan papa mertua. Aku ingin mereka juga merasakan bahagia bersama kita di sini," ucapku dengan nada bergetar penuh kerinduan, air mataku pun jatuh.
Tuan muda meraih wajahku dan menghapus lembut air mataku. Hatinya rapuh saat melihatku menangis.
"Hei, sudah ... jangan menangis. Nanti anak kita dalam perutmu juga sedih loh mendengar tangisanmu. Kita nggak berdua. Bukankah ada Luis yang menunggu kabar bahagia dari kita ini?" tuan muda mengelus perutku lalu mengingatkan Aku pada Luis yang sangat menginginkan keponakan untuknya.
Aku kembali tersenyum bahagia mendengar tuan muda mengungkit nama Luis.
"Iya, Luis ... pasti dia juga mendo'akan kita hingga aku hamil. Kita harus memberitahu Luis, sayang!" ucapku dengan girang.
"Iya, aku akan memberitahu Luis. Jadi kamu jangan menangis lagi, mengerti?" tuan muda mengelus puncak kepalaku lembut dan mencium keningku menenangkan.
__ADS_1
Aku mengangguk dengan perasaan tenang dan lega. Tuan muda pun meraih ponselnya di atas nakas dan siap untuk menghubungi Luis.
Bersambung....