
Selagi tuan muda dan Luis sedang membicarakan hal penting berdua secara privasi, maka Aku dengan bebas akan melihat-lihat sekeliling kantor ini sambil berandai-andai untuk bekerja kembali di sini. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi, Aku pasti tidak diizinkan oleh suamiku.
Aku berjalan ke koridor di lantai bawah menuju depan lobi, tempat yang paling Aku ingat dulu saat Aku pertama kali datang ke kantor ini atas panggilan dari almarhum tuan Halim. Kenangan yang tak akan pernah Aku lupakan sejak itu. Dan sekarang Aku malah menjadi istri dari pemilik kantor besar ini.
Aku berbalik dan melangkah menuju lift hendak memasukinya, tiba-tiba saja Aku dikejutkan dengan sosok lelaki yang sangat Aku kenal. Lelaki itu adalah kak Niko. Sontak Aku terdiam dan bingung harus memasuki lift itu atau mundur ke belakang menghindarinya.
"Masuklah, pintunya akan tertutup!" ujar kak Niko mengingatkan dan menyadarkan aku dari diamku.
"Ah, i-iyaaa!" jawabku gugup dan langsung memasuki lift itu tanpa berpikir kembali.
Pintu lift pun tertutup. Kami hanya berdua di lift, berdiam diri dengan keadaan canggung. Melirik pun seakan tak sanggup.
"Ekhem," kak Niko menetralisir suasana kecanggungannya.
"Mau ke ruangan tuan muda Aras?" tanya kak Niko memberanikan diri.
"Emm ... iya, eh nggak. Ada Luis sedang membicarakan hal penting dengan tuan muda, makanya aku memberikan privasi untuk mereka berdua," jawabku sedikit bingung.
"Oh begitu, berarti aku harus turun ke bawah lagi," ujar kak Niko yang tujuannya menuju ruangan tuan muda.
"Apa ada hal penting?" tanyaku ingin tahu.
"Ya, biasa hanya masalah pekerjaan."
Lift pun telah terbuka, tetapi Aku masih berdiam diri. Padahal Aku tidak ingin ke ruangan suamiku, Aku masih ingin berkeliling kantor, tapi saat kak Niko bertanya tadi, Aku seperti tidak tahu apa yang akan Aku jawab, hingga tanpa sadar Aku mengikutinya.
"Pintunya sudah terbuka, loh!" lagi-lagi kak Niko membuatku sadar akibat diamku.
Kak Niko mengingatkan Aku untuk ke luar dari lift atau masih tetap di lift itu menuju ke tempat yang lain.
"Ah, iya ... emm aku ikut kamu aja deh."
"Maksudnya?" tanya kak Niko heran.
"Emm ... bisa kita ngobrol sebentar di kantin?" tanyaku balik yang tiba-tiba saja keluar dari mulutku.
__ADS_1
Kak Niko diam sejenak, dia berpikir jika berdua di kantin maka akan ada banyak orang yang melihatnya apalagi semua karyawan di kantor sudah tahu hubungan di antara kami berdua di masa lalu, belum lagi jika tuan muda tahu pasti akan marah, pikir kak Niko.
"Tapi, nanti tuan muda akan...," ujar kak Niko yang langsung Aku potong perkataannya.
"Tenang saja, tuan muda nggak akan marah," ucapku meyakinkannya.
Kak Niko pun akhirnya mengangguk setuju walau hatinya masih was-was. Kami memesan minuman di kantin hanya sekedar untuk mengobrol sebentar.
"Kakak apa kabar selama di Istanbul?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Emm ... baik. Kamu sendiri?" tanya kak Niko balik.
"Ya, beginilah ... aku baik juga."
"Aku senang sekarang kau bahagia bersama tuan muda Aras. Almarhum tuan Halim pasti bahagia di sana melihatmu bahagia bersama anaknya," ujar kak Niko tersenyum sembari menyesap minumannya.
"Aku harap kau mampu membuat tuan muda melupakan masa lalunya. Kau harus selalu ada di sampingnya dan jangan sampai mengecewakannya. Berilah dia perhatian dan kasih sayang," ujar kak Niko dengan tegar sembari memberi pesan padaku.
Aku tersenyum mendengar perkataan kak Niko. Sifatnya yang selalu peduli pada orang lain terkadang membuat Aku tersentuh. Itu lah salah satu sifatnya yang sangat Aku kagumi.
"Tenang saja, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk tuan muda Aras, Kak!" ucapku yakin tanpa ragu, sedangkan kak Niko tersenyum getir.
"Emm ... kita cukup lama di sini, pergilah ke ruangan tuan muda, nanti dia mencarimu!" kak Niko melihat jam di tangannya dengan rasa was-was.
Kak Niko terlihat tidak tenang selama di kantin bersamaku, dia terlihat risih dengan karyawan-karyawan kantor yang seakan membicarakan dirinya bersamaku.
"Sepertinya pembicaraan mereka belum selesai. Kalau selesai pasti tuan muda telepon aku, kok. Kakak udah nggak mau ngobrol lagi sama aku, ya?" Aku sedikit kecewa.
"Bukan gitu, Nay. Aku cuma nggak mau kalau tuan muda mikir yang macam-macam. Aku nggak mau dipindahin ke Istanbul lagi gara-gara masalah ini."
"Maksud kamu apa, Kak?" tanyaku bingung.
"Tuan muda kira jika kita berdua masih mempunyai hubungan, dia itu cemburu. makanya dia pindahin aku ke Istanbul," ucap kak Niko menjelaskan.
"Di sana nggak ada kerjaan, malah aku banyak duduk di sana. Hanya mengawasi para pekerja. Itu menyebalkan, Nay. Aku hanya makan gaji buta," ujar kak Niko dengan ekspresi kesalnya.
__ADS_1
Aku bukannya kasihan pada kak Niko, tapi Aku malah tertawa melihat tingkah kak Niko dengan ekspresi wajahnya ditekuk masam.
"Hahahaaaa."
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang Lucu?" tanya kak Niko mendengus kesal.
"Tidak, bukannya malah enak kerjaan sedikit tapi menghasilkan gaji besar, lalu kenapa Kakak tidak suka?" ucapku yang kali ini hanya tersenyum kecil.
"Memang enak, tapi orang-orang pekerja di sana pada protes dan membicarakan kakak dengan tuduhan yang buruk. Makanya Kakak balik ke Indonesia," jelas kak Niko.
"Lalu tanggapan tuan muda gimana?"
"Biasa saja, awalnya dia masih menyuruhku ke Istanbul, tapi aku menolak. Aku mengancamnya dengan surat pengunduran diri hingga akhinya dia mengalah dan masih menahanku di sini," kata kak Niko dengan bangganya karena dia yakin bahwa tuan muda tidak akan berani memecatnya.
"Oh ya, berani juga Kakak mengancam tuan muda kejam itu," ujarku seakan tak percaya.
"Hei, dia itu suami kamu loh, Nay!"
"Hehe, aku heran saja kenapa sifatnya kekanak-kanakan seperti itu, masih saja cemburuan."
"Entahlah," kak Niko mengedik bahunya.
Sekilas kak Niko melihat seorang pria yang sangat dia kenal berpakaian hitam di pojok kantin sedang mengamati kami berdua. Kak Niko hanya menaikan sudut bibirnya sambil menggelengkan kepalanya tak menyangka.
"Nay, aku cabut ya. Sepertinya ada anak buah tuan muda yang mengawasi kita. Aku tidak ingin kau terkena masalah," Kak Niko bangkit berdiri hendak melangkah pergi.
"Kak Niko!" Aku memanggilnya.
Kak Niko berhenti sejenak lalu berbalik ke arahku.
"Terima kasih untuk waktunya," ucapku menatapnya dan tersenyum.
Kak Niko mengangguk dan tersenyum pula.
"Kau jangan lama-lama di sini, Nay. Naiklah ke atas ruangan tuan muda!" pesan kak Niko dengan perhatiannya dan kali ini dia melangkah pergi.
__ADS_1
Aku tersenyum lirih menatap kepergiannya, sungguh dia lelaki yang masih saja peduli padaku. Mungkin karena dia masih setia dengan perintah yang diberikan oleh almarhum tuan Halim untuk menjagaku.
Bersambung....