
Aku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada tuan muda. Entah apa salahku, sejauh ini Aku belum mengetahuinya. Tapi satu hal yang membuatku was-was yaitu kedatangan Luis. Hanya Luis yang paling Aku takutkan kehadirannya di tengah-tengah kebahagianku bersama suamiku.
Aku berbaring di atas ranjang sembari melihat ke arah balkon, niat hati ingin menguping pembicaraan tuan muda yang sedang berteleponan dengan seseorang Aku urungkan. Aku takut bila ketahuan. Aku hanya sekedar ingin tahu saja sedang berbicara dengan siapa suamiku itu? Lalu apa yang mereka bicarakan?
Tapi apa daya, tubuhku juga sakit karena ulah tuan muda. Jadi Aku berdiam dan menuruti apa yang suamiku perintahkan di awal yang menyuruhku untuk tidur terlebih dulu. Dan Aku hanya bisa melihat tubuh suamiku itu samar-samar di celah-celah pintu balkon yang tak terkunci rapat. Tak lama kemudian, akhirnya Aku pun terlelap.
Tuan muda yang masih dengan pembicaraannya melalui telepon dengan seseorang, sesekali melihat diriku yang sedang terlelap dari kejauhan untuk memastikan bahwa diriku tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Pokoknya saya nggak mau tahu, mulai besok perketat penjagaan di rumah saya. Bawa si pengkhianat itu menghadap saya besok pagi dan ikat dia di gudang belakang. Saya harap kamu kali ini tidak mengecewakan saya lagi, Dion."
Tuttttt
Setelah tuan muda mengakhiri panggilan teleponnya, dia menghampiri diriku di ranjang. Tuan muda menatapku lirih, dia merasa iba dan menyesal melihat kondisiku yang terluka atas ulahnya.
Tuan muda Aras berjalan mencari obat salep untuk mengobati luka di bibir dan punggungku. Setelah itu dia kembali mendekatiku dan mulai mengolesi salep itu pertama kali di bibirku dengan sangat hati-hati.
"Maafkan aku, Nay. Karena kemarahanku, kau mendapatkan pelampiasannya. Inilah aku, sifatku, perilaku kejamku jika aku disakiti," ucap tuan muda pelan sambil menatap wajahku yang lelah.
"Aku takut jika ini akan berlangsung lama, maka aku pasti akan selalu membuatmu menderita. Jadi aku mohon jangan pernah kecewakan aku, jangan pernah mengkhianatiku, Nay."
"Kamu wanita satu-satunya yang hadir mengisi hari-hari setelah orang-orang yang aku cintai pergi meninggalkanku dan kamu juga wanita satu-satunya yang mengisi kekosongan hatiku, yang mengajarkan aku bagaimana caranya tersenyum dan peduli pada orang lain."
"Aku sayang kamu, Nay. Aku ingin kamu selamanya menjadi milikku, Nay. Jadi aku mohon jangan beri aku luka yang sama seperti yang pernah aku alami dulu," tuan muda meraih tanganku dan menciuminya bertubi-tubi dengan matanya berkaca-kaca memerah.
"Aku harap kau tidak ikut bersalah dalam masalah yang sedang kita hadapi saat ini, Nay!" kali ini tuan muda mencium keningku lembut.
Tak lama kemudian tuan muda mulai memiringkan badanku pelan untuk mengolesi salep di punggungku yang terkena cakarannya cukup dalam. Dia mengolesinya dengan sangat pelan agar Aku tidak terbangun dari tidurku.
Azan subuh berkumandang, Aku terbangun dari tidur lelapku. Aku mendapati tubuhku didekap erat oleh tuan muda Aras. Aku begitu bahagia. Ternyata suamiku ini masih peduli dan sayang padaku.
Pukul 07.00 pagi, tuan muda yang telah bersiap-siap ke kantornya, kini dia bergegas pergi hendak ke luar rumah tanpa sarapan terlebih dulu. Aku yang melihatnya pun langsung memanggil suamiku dan berjalan cepat mendekatinya.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak sarapan dulu?" tanyaku yang menghentikan langkah tuan muda.
"Aku buru-buru, ada sesuatu yang penting harus aku selesaikan. Kau kembalilah ke kamarmu, Nay. Jangan ke luar dari kamarmu sebelum aku pulang," ujar tuan muda dengan pintanya pula.
"Loh, kenapa?" tanyaku heran.
"Turuti saja perintahku, Nay!" pintanya dengan nada sedikit meninggi.
"Kau mengurungku lagi di kamar?" tanyaku masih membantah.
"Astagfirullah, Nay ... jangan buat aku semakin marah sama kamu," kali ini tuan muda menampakkan muka seramnya dengan mata tajam.
Aku jadi tidak berani menatap lama-lama mata suamiku itu. Aku pun beralih ke pandangan lain di sekeliling rumah.
"Bi Tiassss!!" teriak tuan muda dengan lantang.
"Iya, Tuan muda ... ada apa?" tanya bi Tias yang segera menghadap tuannya dengan panik.
"Hah? Emm ... baiklah, Tuan!" ucap Bi Tias patuh.
Tuan muda pun akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari rumah begitu saja, sedangkan Aku hanya melihat kepergiannya hingga tubuhnya tidak terlihat lagi olehku. Sungguh Aku sangat kesal padanya. Lagi-lagi dia bersikap dingin padaku.
Sebelum menaiki mobilnya, tuan muda berjalan ke gudang belakang rumahnya. Sesuai dengan janji Dion yang akan membawa pengkhianat yang berada di rumah tuan muda, Dion telah mendapatkan siapa pengkhianat itu, jadi Dion telah menyekap pengkhianat itu di gudang belakang sesuai apa yang diperintahkan tuan muda Aras.
"Ternyata kamu pengkhianat di rumah saya? Kamu sudah lancang membantu istri saya ke luar dari kamarnya?" suara tuan muda terdengar jelas dan menjadikan suasana berubah menjadi mencekam.
Semua anak buah dari tuan muda termasuk Dion tertunduk melihat kedatangan tuan muda Aras. Mereka tahu betul bagaimana sifat tuan mudanya itu. Bahkan pengkhianat yang disebut oleh tuan muda pun gemetar ketakutan saat langkah tuan muda mulai mendekat ke arahnya.
Bukkk
Tuan muda Aras melayangkan tinjunya kepada pengkhianat itu.
__ADS_1
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa melakukan semua itu karena saya juga diancam, Tuan!" ujar si pengkhianat dengan cepat membuka suaranya sebelum tuan muda menghajarnya untuk kedua kalinya.
"Mau kamu diancam atau dibunuh oleh orang itu ... SAYA TIDAK PEDULI," teriak tuan muda dengan menekan kata-kata diakhir kalimatnya.
"Kamu itu bawahan saya, orang suruhan saya dan kamu terima uang dari saya berarti kamu itu BEKERJA HANYA UNTUK SAYA," jelas tuan muda yang lagi-lagi menekan kalimatnya di akhir.
"Kamu bekerja untuk siapa selain saya? Jawab Tomiiii?" tanya tuan muda menyebutkan nama Tomi dengan teriakannya.
Ternyata si pengkhianat itu bernama Tomi, pengawal yang dipercaya tuan muda untuk menjaga keamanan di dalam rumah.
"Ma-maaf, Tuan saya tidak bisa mengatakannya. Tapi dia berpesan bahwa dia sendiri yang akan datang menemui Tuan muda nanti," jawab Tomi dengan gugup.
"Apa? Hahaha ... kapan? Kapan dia akan datang, hah? Beri tahu dia bahwa saya ingin bertemu secepatnya. Kalau tidak maka saya akan mencari dia dan saya akan buat perhitungan padanya karena sudah lancang membawa pergi istri saya tanpa izin," tuan muda marah dan mengepalkan kedua tangannya seakan dia ingin menghajar seseorang.
"Dia itu pria licik, Tuan. Dia bukan orang sembarangan. Dia juga terkenal kejam dan suka merampas milik orang lain. Tuan muda harus hati-hati jika berhadapan dengannya," ucap Tomi memberi informasi.
Plakkk
Tuan muda menampar Tomi dengan kasar saat Tomi seolah memandang rendah tuan muda Aras.
"Cih, kau meremehkanku, Tomi?"
"Bu-bukan seperti itu, Tuan. Maafkan saya, Tuan!"
Tuan muda menatap kedua mata Tomi yang penuh dengan ketakutan dan tubuhnya masih bergetar hebat, padahal Tomi berbadan kekar dan tak sepadan bila dia begitu takut dengan sosok Luis yang tak ingin dia sebutkan namanya pada tuan muda Aras.
"Saya tidak peduli sehebat apa dia punya kekuatan, saya akan tetap hadapi dia apapun resikonya, karena saya bukan orang pengecut seperti kamu yang akhirnya menjadi pengkhianat, Tomi."
Tuan muda menepuk-nepuk pipi Tomi cukup kasar.
"Dion, kau urus Tomi, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan pada pengkhianat ini," ujar tuan muda pada Dion memberi perintah lalu berbalik dan melangkah ke luar dari gudang menuju mobilnya.
__ADS_1
Bersambung....