
Malam hari, seperti biasa setelah sholat isya, Aku duduk di sofa kamar sambil termenung mengingat sosok kak Niko. Aku terbayang-bayang wajahnya yang mulai terbesit di benakku setelah kepergiannya. Tadinya Aku marah dan benci padanya tapi saat dia jauh dariku, nyatanya sosok dia begitu berharga untukku.
Tidak ada lagi yang menyayangiku, tidak ada lagi canda tawa menghiasi hari-hariku dan tak ada lagi seseorang yang memberikanku kekuatan dan kenyamanan saat Aku menghadapi masalah.
Aku tak bisa mengandalkan suamiku yang hanya bisa ingin membuatku menderita. Dia dingin dan kejam. Mana mungkin dia bisa membuatku bahagia seperti yang kak Niko lakukan padaku dulu. Tak terasa air mataku telah membasahi pipiku. Aku menangis mengingat itu semua.
"Nay, kau menangis?" tuan muda yang tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa Aku sadari.
Aku segera menghapus air mataku dan mengikat rambutku dengan benar karena semula rambutku yang berantakan.
"Ada apa kemari?" tanyaku ketus.
"Saya hanya ingin melihat keadaanmu saja," ucapnya perhatian.
Seketika tuan muda menatap sepiring nasi yang masih untuh di nakas.
"Kamu belum menyentuh makanan kamu sedari tadi, makanlah nanti kamu sakit," pintanya kali ini.
"Aku nggak nafsu makan, aku nggak mau. Lagian ngapain kamu sok perhatian sama aku, biasanya juga nggak?" tanyaku menatapnya malas.
"Siapa yang perhatian sama kamu. Saya cuma nggak mau kamu sakit. Kalau kamu sakit saya yang bakal repot. Saya punya banyak pekerjaan dan nggak mungkin selalu jagain kamu," jawabnya dingin seolah Aku menjadi beban baginya.
"Di rumah ini ada pelayan, jadi kalau aku sakit mereka yang urusin aku. Kamu nggak perlu sok baik buat urusin aku, paham?"
"Pelayan hanya mengurus rumah dan bukan untuk mengurus manusia seperti kamu."
"Kalau Aku adalah beban buat kamu, mending kita pisah saja," Aku melontarkan kata pisah pada tuan muda. Aku berharap tuan muda menerimanya.
Tuan muda menatapku dengan wajahnya yang terlihat menyeramkan.
"Kamu jangan asal bicara, ya. Saya tidak akan pernah melepaskan kamu sebelum kita menuntaskan wasiat papa," kesal tuan muda mengingatkan.
"Baiklah, saya biarkan kamu tidak makan malam ini karena saya tahu kamu pasti berduka atas kepergian Niko."
"Lupakanlah Niko. Kamu hanya boleh mengingat saya, saya dan saya karena saya adalah suami kamu," tuan muda menunjuk dirinya dengan tegas berkali-kali.
Tuan muda berbalik dan hendak melangkah keluar dari kamarku.
__ADS_1
"Oh, jadi mentang-mentang kamu suamiku jadi aku harus selalu, selalu dan selalu mengingatmu, begitu?" balasku bertanya dengan lantang yang menahan langkah tuan muda.
"I-iya ... harus dong. Kamu harus selalu mengingat saya dan patuh pada saya, mengerti?" jawabnya gugup terlihat dari bola matanya yang kelihatan salah tingkah.
"Bahkan kau tidak pantas untuk diingat karena kau pria yang semena-mena terhadap istri sendiri," umpatku kesal.
"Terserah, saya nggak peduli," ucap tuan muda dengan entengnya.
Bergegas tuan muda langsung melangkah dengan cepat keluar dari kamarku. Dia hanya merutuki dirinya sendiri dengan ucapan bodohnya.
Setelah itu tuan muda langsung memasuki kamar pribadinya.
"Kali ini kau bisa bebas dari perintah saya. Lihat saja, besok kau akan tunduk pada saya dengan obat ini, Kanaya" gumam tuan muda tersenyum licik sambil menatap obat yang sedang dia pegang.
"Beruntung saya hanya memasukkan obat ini setengah dosis, itu pun karena kau adalah istri saya dan saya merasa kasihan padamu, karena kamu juga korban dari keegoisan saya," ucapnya sendiri dengan penuh kemenangan.
Esok paginya pukul 07.00 sengaja Aku tidur di ranjang agar dikira oleh penghuni rumah aku benar-benar tidur. Aku hanya was-was bila nanti tuan muda yang datang jadi Aku tidak perlu memakan makanan yang dia bawa. Tapi entahlah siapa yang akan masuk ke kamarku kali ini. Aku berharap bi Tias yang membawa sarapan pagi ke kamarku.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamarku terbuka dan derap langkah sepatu yang sangat Aku kenal apalagi wangi parfum yang sangat kuat mendominasi sesosok pria yang berada tepat di sampingku di tepi ranjang. Ya, siapa lagi kalau bukan tuan muda.
Aku tidak bisa berkutik jika dia mengawasiku saat Aku makan dan minum. Maka Aku benar-benar akan kehilangan ingatan walau efeknya hanya sementara tapi Aku takut jika dia akan memerintah dalam hal keburukan yang tidak Aku inginkan.
"Nay, bangun. Saya tahu kamu nggak tidur."
Tuan Aras membuka selimut yang telah nyaman melekat ditubuhku.
"Ayo bangun, atau saya akan membangunkan kamu dengan cara lain yang belum pernah kamu alami," Tuan muda menggoyang-goyang tubuhku semakin kencang.
Arghhh sial, dasar tuan muda kejam. Aku sangat kesal karena ulahnya. Kenapa dia tidak bisa membiarkan Aku menikmati kebebasan satu hari saja. Baru kemarin Aku terbebas dari obat itu dan mungkin sekarang pasti pria itu telah memasukan obat ke minumanku lagi, makanya dia kemari membawa sarapan untukku.
"Baiklah jika kau tidak mau bangun. Akan saya buktikan ucapan saya tadi," ujar tuan muda mulai beraksi.
Nyatanya tuan muda menarik kedua kakiku turun dari ranjang dengan gerakan yang membuat kepalaku pusing.
"Akhhhh ... hentikannn!" pekikku dengan kuat.
Saat kakiku sudah berada di bawah, seketika Aku berdiri namun sialnya tuan muda itu yang tadinya berjongkok tiba-tiba dia berdiri sehingga kepalanya membenturkan daguku dan mengenai bibirku sampai tergigit, alhasil bibirku mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Akhhh, bibirku berdarah. Sakit... hiks... hiks...," Aku mengadu kesakitan dan pura-pura menangis sambil memegangi bibirku.
"Eh, ma-maaf ... lagian kamu sih dibangunin susah banget," kesal tuan muda panik.
"Kamu yang keterlaluan, sakit tau nggak. Hiks... hiks...," ucapku ketus dan terus saja menangis.
"Jangan menangis. Kamu sudah besar, malu sama umur. Sini, biar saya lihat lukanya," tuan muda meraih wajahku dan mulai melihat luka di bibirku.
Deg
Jantungku serasa mau copot hingga tangisanku seketika berhenti. Jujur, wajahnya begitu sangat tampan dan begitu seksi dengan ditumbuhi bulu-bulu tipis di wajahnya. Astaga, sampai-sampai mataku ini tiada henti menatapnya. Aku serasa terhipnotis olehnya.
Aku baru menyadari bibirku yang tersentuh oleh tuan muda dengan tangannya dan menghapus darah di bibirku.
"Oh shittt, kenapa saya jadi berlebihan seperti ini. Bibirnya dan wajahnya benar-benar indah. Ah, dasar memalukan diriku," batin tuan muda yang juga mengagumiku.
Aku tersentak kaget saat mata kami saling beradu cukup lama.
"Saya ambilkan obat untuk mengobati lukamu," ucap tuan muda yang hendak pergi mengambil obat.
"Ti-tidak usah, mending kamu pergi saja dari sini. Aku nggak mau lihat muka kamu," Aku mengusirnya pergi dengan kesal.
"Tapi luka kamu...," ucapnya yang langsung Aku potong.
"Nggak usah sok peduli. Sudah, sana pergilahhh!" teriakku lantang ke arahnya.
Tuan muda Aras terlihat kesal dengan permintaanku yang mengusirnya.
"Baiklah, terserah kamu. Yang penting makanan kamu itu harus kamu habiskan begitu juga dengan jus alpukat yang sudah saya buat," pintanya dengan kesal.
"Ingat, turuti perintah saya!" Dia pun pergi meninggalkan Aku di kamar.
Ah, begitu leganya Aku. Walau harus bibirku yang menjadi korban dari ulahnya, setidaknya tuan muda tidak mengawasiku makan sarapan yang dibuatnya pagi ini. Dan Aku tidak perlu meminum jus buatannya yang telah diberi obat penghilang ingatan itu.
Sekarang Aku harus pikirkan cara bagaimana Aku akan memainkan peranku kembali setelah ini. Ughhh, menyebalkan!
Bersambung....
__ADS_1