Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Jus Apel


__ADS_3

Pagi hari pukul 07.00 sengaja tuan muda Aras belum bersiap-siap ke kantor hanya untuk melihat kondisiku. Tapi ada sesuatu yang berbeda darinya hari ini. Yang biasanya bi Tias melayaniku saat sarapan tapi nyatanya malah berbalik ke tuan muda Aras.


"Apa Naya sudah sarapan?" tanya tuan muda pada bi Tias yang sedang menyuguhkan kopi di depan tuannya di ruang makan.


"Setelah ini Bibi mau menyiapkan sarapan untuk non Naya," ujar bi Tias yang hendak kembali ke dapur.


"Biar saya saja, Bi."


Tuan muda Aras menahan langkah bi Tias.


"Tuan kan mau kerja, biar Bibi saja," pinta bi Tias.


Tuan muda Aras langsung bangkit dan berjalan menuju dapur.


"Biar saya saja. Bibi lakukanlah pekerjaan lainnya," perintah tuan muda tak mau di bantah.


Tuan muda dengan cepat menaruh nasi dan ayam goreng ke piring lalu membuatkan jus apel serta tak lupa menaruh obat ke dalam jus itu.


Bi Tias yang mengintip tuannya karena tahu pasti tuan muda akan melakukan niat buruknya. Kemudian dengan berani bi Tias langsung berjalan ke arah tuan muda.


"Apa yang Tuan lakukan? Tolong berhenti memasukan obat berbahaya itu pada minuman non Naya. Kasihan non Naya," pinta bi Tias dengan lirih.


"Ini urusan saya, Bi. Sebaiknya Bibi tidak usah ikut campur."


"Ini juga menjadi urusan Bibi karena Tuan telah berlaku kejam pada istri sendiri. Kalau dilanjutkan maka ingatan non Naya akan bertambah parah," ucap bi Tias memperingatkan.


"Naya istri saya, jadi saya berhak melakukan apa saja padanya. Dia itu keras kepala, jadi saya tidak mau jika dia menjadi istri pembangkang, Bi."


Tuan muda menatap bi Tias lalu berjalan sambil membawa nampan yang berisi makanan dan jus apel yang dibuatnya tadi.


"Naya itu istri kamu, Nak. Dia tidak seperti nyonya Laura," ujar bi Tias mengingatkan kembali pada masa lalu tuannya dengan mata yang berkaca-kaca.


Sejenak tuan muda Aras berhenti melangkah lalu membalik badannya menatap bi Tias dari kejauhan.


"Jangan mengingatkan saya pada wanita itu lagi, Bi. Dan saya tidak akan pernah membiarkan Naya seperti wanita pengkhianat itu. Makanya saya melakukan ini semua untuk kebaikan hidup saya dengan Naya di masa depan," tegas tuan muda dengan kesal dan penuh penekanan.


Tuan muda Aras melanjutkan langkahnya kembali.


"Tolong jangan lakukan itu lagi pada non Naya, Tuan!" teriak bi Tias yang kali ini menangis melihat tingkah laku tuan muda Aras semakin hari semakin menjadi.

__ADS_1


Tuan muda tak mempedulikan ucapan bi Tias. Dia malah berjalan dengan langkah tenang menuju kamar di mana tempatku berada.


Tuan muda menaruh nampan di atas nakas lalu duduk di sisi ranjang di samping diriku yang masih telelap. Seketika tuan muda menyeka rambutku yang sedikit menutupi wajahku dengan pelan.


"Maafkan saya, Naya. Saya akhirnya tahu jika kamu memang gadis yang baik. Awalnya saya membencimu karena salah paham tapi sekarang saya tidak akan membuatmu depresi dan kehilangan ingatan lagi, tapi saya akan membuat kamu menjadi wanita yang selalu patuh dan berguna bagi saya," gumam tuan muda pelan sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Demi kamu, saya akan berperan sebagai suami yang baik dan perhatian padamu untuk mencapai tujuanku, SAYANG!" gumamnya kembali sambil menekan kata 'sayang'.


Aku perlahan membuka mataku karena pergerakan tangan yang tuan muda lakukan mengenai sedikit wajahku. Aku kanget dan membelalakan mataku tidak fokus. Aku kehabisan akal dan kata-kata saat ini.


"Siallll," umpatku dalam hati.


Drama apa lagi yang akan Aku perankan? Wajah tuan muda Aras seakan membius mulutku, sedangkan matanya membuatku terpesona saat tiba-tiba dia tersenyum kepadaku.


"Come on, Naya ... berpikirlah. Jangan tergoda oleh pria kejam ini," umpatku kembali dalam hati.


Aku sedikit bangkit lalu menyandarkan punggungku ke belakang di bantal yang sudah Aku tinggikan lalu memalingkan wajahku dari tuan muda ke arah samping tak ingin menatap pria kejam itu.


"Are you ok, Naya?" tanyanya dengan lembut dan perlahan mulai berani mengelus puncak kepalaku.


Sontak Aku menepiskan tangannya karena merasa aneh pada dirinya yang tampak perhatian padaku. Biasanya Aku yang memulai dramaku tapi saat ini malah dia yang menjalankannya terlebih dahulu. Jelas Aku mati kutu di hadapannya.


Tuan muda menatapku cukup lama dan mulai berpikir.


"Apa kondisi Naya normal saat ini? Baguslah, saya tidak perlu berperan sebagai Niko lagi," batin tuan muda menyeringai.


Tapi tetap tuan muda akan menjalankan apa yang telah dia rencanakan.


"Oh ya, saya membawakan sarapan untuk kamu, jadi kamu harus makan sekarang," Tuan muda meraih piring di atas nakas dan mengarahkannya padaku.


"Mana bi Tias? Taruh saja makanannya, aku belum lapar," jawabku tak mempedulikan makanan yang ada di tangannya.


"Mulai sekarang saya akan membawakan kamu sarapan jika saya ada waktu."


Tuan muda menyendokkan makanan ke piring lalu hendak menyuapkannya padaku.


"Ayo, buka mulutmu!" pintanya.


Jujur Aku menaruh curiga pada pria ini karena perlakuannya tiba-tiba berubah drastis menjadi baik. Apa jangan-jangan dia menaruh obat berbahaya itu di makanan atau diminumannya? Benar-benar gawat.

__ADS_1


"Aku bisa makan sendiri. Kau pergilah ke kantor!" ucapku beralasan.


Aku tetap menolak apa yang tuan muda inginkan.


"Setelah kau selesai sarapan, baru saya pergi ke kantor!" tegas tuan muda menatapku yang masih memegang sendok ke arahku.


"Buka mulutmu atau kau mau saya menyuapimu dengan cara saya sendiri secara paksa, hah?" desaknya dengan ancaman tetapi dia tetap tersenyum terpaksa menatapku.


Tuan muda menyuapkan satu sendok ke mulutnya, lalu hendak meraih wajahku. Tapi Aku langsung menahan dadanya agar berhenti mendekatiku, karena Aku tahu apa yang akan dia lakukan padaku. Seperti di film drama korea yang terpaksa menyuapi kekasihnya dengan menggunakan mulutnya. Aghhh, itu nggak akan pernah terjadi padaku saat ini.


"Baiklah, aku makan sekarang!" Aku langsung mengambil alih piring yang ada di tangan tuan muda lalu aku makan sendiri.


Aku yakin bahwa makanan ini tidak mengandung obat berbahaya karena tuan muda berani memasukkan makanan itu kemulutnya.


"Good girl," ucapnya sambil mengunyah makanan yang dia masukan ke mulutnya tadi lalu menelannya.


Aku mulai menyendokkan nasi beserta ayam goreng ke mulutku hingga berhenti di suapan yang ke lima karena Aku sangat tak berselera di saat tuan muda tak hentinya memperhatikan Aku yang sedang makan dengan tatapannya seolah Aku adalah tahanannya.


"Aku sudah kenyang," Aku memberikan piringnya ke tuan muda.


Tuan muda meraih piring itu lalu diletakkannya di nakas kemudian beralih meraih gelas berisi jus.


"Nih, kamu minum jus apel ini," Tuan muda memberikan Aku gelas yang berisi jus apel.


"Aku tidak suka jus apel. Aku tidak mau!" tolakku dengan memalingkan wajahku.


"Jus apel ini baik untuk daya ingat kamu. Pokoknya kamu harus meminumnya!" desak tuan muda.


Apa? Tidak salah lagi, pasti ada apa-apa dengan jus apel yang diberikan tuan muda. Bagaimana Aku menolaknya, sedangkan dia tidak akan pergi dari kamarku sebelum Aku meneguk jus apel itu. Oh no, ini tidak adil. Kenapa suamiku sendiri jahat padaku.


Tuan muda mendekat ke arahku lalu merangkulku sambil menahan kepalaku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memaksaku untuk meneguk jus apel itu.


"Hmpp...!" terpaksa Aku meneguk jus apel itu sampai tiga kali tegukan.


"Bagaimana, enak kan jusnya!" ucapnya tersenyum penuh kemenangan.


Aghhh sial, dasar tuan muda kejam tak berperasaan. Entah apa yang akan terjadi padaku setelah Aku meneguk jus apel buatannya. Apa mungkin Aku akan menjadi depresi kembali? Oh God, tolong Aku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2