Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Memainkan Peran


__ADS_3

Aku senang sekali melihat ekspresi tuan muda saat Aku memanggilnya dengan sebutan 'kakak' biar dia tahu betapa Aku menginginkan kak Niko, Aku sangat merindukan kak Niko. Ya, saat ini Aku berhalusinasi bahwa tuan muda sebagai kak Niko.


Baiklah, saatnya Aku memainkan peranku pada sang tuan muda Aras.


"Kak, Aku sangat bahagia akhirnya kita bisa menikah dan menjalani hidup bahagia, sayang!" Aku menatap mata tuan muda yang saat ini dia masih diam membisu.


"Oh sial, rupanya Naya mengira saya adalah Niko," batin tuan muda kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


Huft, sangat menyebalkan, Aku terpaksa menggenggam kedua tangan tuan muda kejam ini dengan meyakinkan dia jika Aku benar-benar mulai kehilangan ingatan dan berhalusinasi.


Tapi Aku senang bisa menipu pria itu, dan bermain-main dengannya, semoga dramaku ini benar-benar bisa meyakinkan dia.


"Naya, kamu nggak ingat saya?" tanya tuan muda penasaran.


Bug


Oh owh, Aku memukul bahu tuan muda cukup keras, tapi rupanya malah Aku yang kesakitan. Aku pun menahan rasa sakit di tanganku. Aku lupa jika pria di hadapanku ini adalah pria kekar yang berotot.


"Hei, kau ini bodoh ya, Kak. Masa aku melupakan suamiku sendiri, sih. Kamu itu Kak Niko hanya milik Naya yang paling baik sedunia, iya kan?" pujiku pada tuan muda padahal Aku memuji kak Niko yang sebenarnya.


"Ah, i-iya!" jawabnya singkat dan gugup.


"Apa-apaan ini, kenapa malah saya yang bisa terjebak dengan rencana saya sendiri, sih? Dasar bodoh kamu, Aras. Come on, pikirkan cara selanjutnya," batin tuan muda menahan kekesalannya.


Cup


Aku mencium pipi kiri tuan muda sekilas. Aku juga ingin tahu bagaimana reaksinya setelah Aku menciumnya. Marahkah dia?


"Hei, kau...," ucap tuan muda membelalakan matanya dan tercekat.


"Itu ciuman pemanasan, sayang. Sekarang ayo cium aku, Kak!" pintaku sambil menaruh jari telunjuk ke pipi kananku.

__ADS_1


"Apa? Mencium dia? Mencium wanita gila ini? Oh no, mimpi apa saya semalam," batin tuan muda panik.


"Ayo, cium aku sayang!" pintaku dengan senyuman mengembang ke arah tuan muda.


Jangan ditanya soal ekspresi tuan muda saat ini. Dia seperti jijik menatapku apalagi harus menciumku.


Brakkk


Pranggg


Aku sengaja melempar barang-barang riasku ke sembarang arah yang membuat kebisingan.


"Berhenti Naya, itu membuat saya pusing," protes tuan muda menghentikan ulahku.


"Makanya cium aku dong sayang, kalau tidak maka aku akan membuat kaca ini pecah," Aku memukul-mukul kaca rias di depanku beberapa kali dengan pukulan yang sengaja Aku pelankan agar tanganku tidak terluka.


"Hentikan Naya ... saya bilang hentikan!" pinta tuan muda dengan suara keras kali ini sembari menahan kedua tanganku.


"Kamu sekarang berbeda, Kak. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, hah? Hiks... hiks... hiks...," Aku pura-pura menangis dengan lantang.


Aku berharap tuan muda menghentikan sikap konyolku. Jika tidak, maka lama-kelamaan kaca rias ini akan pecah dan tanganku akan berdarah. Oh, ini tidak bisa dibiarkan. Betapa nekatnya diriku. Ayo, tuan muda please cegah Aku.


"Ok, ok ... saya akan lakukan," ucapnya dengan terpaksa.


Akhirnya tuan muda mengalah. Dia akan menciumku. Oh my God.


"Kiss me, baby!" Aku pun siap memasang wajahku ke arah tuan muda dengan senyum mengembang.


Dasar konyol, bisa-bisanya Aku mengambil kesempatan dalam kesempitan. Padahal jelas-jelas Aku masih mencintai kak Niko, tapi Aku malah meminta pria yang kubenci ini untuk menciumku. Apa otakku sudah mulai error? Oh Naya, come on!


Perlahan-lahan dengan keraguannya, tuan muda Aras mendekat ke wajahku dan kemudian terjadilah sesuatu yang tak disangka olehku.

__ADS_1


Cup


Wow, ternyata tuan muda dengan sungguh menciumku. Aku kira dia alergi dengan wanita rupanya hanya dugaan semata.


"Oh shittt, ini pertama kalinya saya mendapat ciuman dari wanita dan pertama kalinya saya mencium wanita. Salah besar membuat Naya kehilangan ingatan. Nyatanya saya harus memainkan peran konyol ini sebagai Niko. Arghhh menyebalkan!" batin tuan muda meronta menahan amarah.


"Terima kasih, sayang!" Aku memeluk kembali tuan muda Aras namun tak ada respon darinya.


Aku tahu saat ini pasti kemarahan tuan muda Aras meronta-ronta hanya saja dia bisa menahannya dengan sangat terkontrol.


Jujur, Aku akui pertama kali bertemu dengan tuan muda Aras, memang Aku tertarik padanya. Dia benar-benar pria yang tampan, berkharisma, keren dan masuk daftar pria yang Aku suka. Tapi tiba-tiba Aku membencinya karena dia telah membuat ibu dan ayah meninggal. Sungguh sangat disayangkan.


"Are you happy?" bisikku pelan ke telinga tuan muda sambil menahan tawa.


"Hemm ... ha-happy," jawabnya ragu.


Tuan muda melepaskan pelukanku perlahan dan mengatakan sesuatu padaku.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat, saya mau ke kamar dulu," Tuan muda hendak keluar dari kamarku.


"Mau ke mana, Kak? Bukankah ini kamar kita?" tanyaku yang membuat tuan muda terdiam.


Tuan muda kebingungan, dia masih memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan padaku. Ekspresi inilah yang paling Aku tunggu-tunggu dari tuan muda, ekspresi kecemasannya, ketakutannya dan kekesalannya membuatku sangat puas. Aku tak henti-hentinya mentertawakan dia walau dalam hati.


"Kok diam sih, sayang? Ini kamar kita, kan? Atau aku yang salah masuk kamar? Semenjak menikah, kenapa aku sering lupa, ya Kak?" tanyaku membangunkan lamunannya kembali.


"Oh, i-itu karena...," ucapnya menggantung.


Aku menatap mata tuan muda Aras penuh tanya, sedangkan dia mengalihkan pandangan matanya dariku.


"I-itu karena...," lagi-lagi dia masih memikirkan jawaban dari pertanyaanku.

__ADS_1


Jika dia telah mendapatkan jawabannya, lantas jawaban apa yang akan dia katakan padaku? Oh, Aku menantikannya.


Bersambung....


__ADS_2