Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Menjadi Rekan Kerja


__ADS_3

Keesokan harinya, aktivitas tuan muda diawali seperti biasa dan kembali ramah padaku saat dia berangkat ke kantor. Sikapnya yang tenang dan suasana hatinya lebih baik.


"Hati-hati ya, sayang. Ingat, harus sabar dan jangan memikirkan hal yang menyusahkanmu, ok!" kataku memperingatkan tuan muda.


"Iya, kamu juga hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa atau Luis datang kemari mencariku, kau hubungi aku saja," ujar tuan muda.


Mataku berbinar saat suamiku mengatakan sesuatu yang membuatku senang.


"Menghubungimu? Apa sekarang aku bisa memakai ponselku kembali?" tanyaku menatap tuan muda tak percaya.


"Tidak, kau pinjam saja ponsel bi Tias atau pakai telepon di rumah. Jangan coba-coba memakai ponsel tanpa izinku lagi, Nay!" ucap tuan muda memberi perintah dengan tegas.


Wajahku langsung berubah kecut, tapi tak mengapa, selama dia masih peduli dan sayang padaku, akan lebih mudah Aku membujuknya dan meluluhkan hatinya agar dia benar-benar percaya padaku dan tak ada kecurigaan padaku lagi.


"Baiklah, akan aku ingat perintah darimu, Tuan mudaku!" ucapku tersenyum.


Tuan muda pun tersenyum melihat tingkahku yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Lalu dia mengusap kepalaku dengan lembut dan mencium keningku hangat.


Di kantor Haras Company, pukul 11.00 setelah tuan muda Aras menyelesaikan rapat, sang sekretaris menghampiri tuan muda yang hendak beranjak dari kursi.


"Tuan, ada seorang pria mencari anda. Dia memaksa masuk saat saya menyuruhnya untuk tunggu Tuan di depan ruangan anda, tapi dia malah menerobos masuk ke dalam. Maafkan saya, Tuan!" ujar Vena sang sekretaris dengan sedikit menundukkan kepalanya takut.


"Siapa dia?" tanya tuan muda terlihat kesal.


"Saya tidak tahu, Tuan. Dia seorang pria berkulit putih seperti orang barat, Tuan."


"Ya sudah, bereskan semua berkas-berkas ini, saya akan menemuinya," perintah tuan muda sembari bangkit lalu berjalan keluar dari ruang rapat.


Tuan muda berjalan cepat sambil memikirkan perkataan Vena tentang pria yang masuk ke ruangannya itu. Sekilas dia curiga saat Vena menyebut 'orang barat', pikirannya mulai tak tenang dan suasana hatinya menjadi buruk.


Brakkk


Pintu dibuka, seketika orang yang duduk di kursi kebesaran tuan muda Aras pun membalikkan kursi itu lalu beralih menghadap pemiliknya sambil menggoyang-goyangkan kursinya.


"Hi, Brother ... aku menunggumu begitu lama. Hampir saja aku ketiduran di kursi raja ini. Enak sekali jika hidupku seperti dirimu yang bergelimangan harta," sapa Luis tersenyum dan bernada sedikit menyinggung.


Sebisa mungkin tuan muda mengontrol emosinya dengan tenang sambil menatap Luis di hadapannya.

__ADS_1


"Kau memang tidak punya tata krama yang baik. Enyahlah dari kursi itu. Kau tidak pantas berada di sana!" ujar tuan muda meminta dan tatapannya begitu tajam.


Luis tersentak dengan ucapan tuan muda Aras yang sedikit melukai hatinya.


"Ya, aku memang tidak pantas duduk di kursi ini karna aku hidup di jalanan, seorang preman dan ketua gangster yang kerjanya hanya mencuri dan membunuh orang, itu kan yang ada di pikiran kamu?" ucap Luis kemudian bertanya dengan tuduhannya pada tuan muda.


Luis bangkit berdiri lalu mendekati tuan muda Aras.


"Tapi kau tidak bisa mengelak jika kita adalah saudara satu ibu, yaitu mama Laura," bisik Luis dengan menekan nama wanita yang melahirkan mereka.


Tuan muda mengepalkan tangannya hingga matanya memerah mendengar nama mamanya disebut. Karena tuan muda selama ini sudah melupakan nama mamanya dari kehidupannya sejak dia ditinggalkan oleh beliau.


"Pergilah, saya banyak pekerjaan. Tolong jangan ganggu saya," tuan muda langsung berjalan dan menduduki kursi kebesarannya.


"Baiklah, aku akan pergi tapi setelah aku menyelesaikan pekerjaan di kantor ini," Luis duduk di sofa tamu dengan santai.


Tuan muda mendecih dan menggelengkan kepalanya menganggap ucapan Luis hanyalah bualan saja.


"Saya akan panggilkan security jika kau tidak pergi juga," tuan muda langsung meraih gagang telepon hendak menghubungi security.


"Tunggu dulu!" Luis menghentikan gerakan tuan muda.


Luis kemudian menelepon seseorang dari ponselnya.


Tok tok tok


Tak lama setelah itu, ada suara ketukan pintu dari ruang kerja tuan muda.


"Masuk!" ucap Luis seenaknya saja.


Luis menatap seseorang yang tak lain anak buahnya sendiri setelah masuk ke ruangan itu.


"Ini berkas yang Tuan Luis minta. Saya akan menunggu Tuan di luar!" Anak buahnya pun keluar ruangan itu setelah meletakkan berkas di atas meja.


Luis meraih berkas itu kemudian dia berjalan menuju meja kerja tuan muda lalu dia meletakkan berkas itu di sana.


"Buka dan bacalah," pinta Luis.

__ADS_1


Terpaksa tuan muda Aras meraih berkas itu dan membacanya dengan seksama.


"Phoebus Company, ini maksudnya apa? Kenapa bisa berkas perjanjian kerjasama ini ada padamu?" tanya tuan muda heran.


Luis tersenyum lalu bergaya tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.


"Mulai saat ini aku yang akan menangani kerjasama antara Haras Company dan Phoebus Company. Kau mau tahu kenapa? Karena aku memiliki kekuasaan dan saham di sana," ucap Luis menjelaskan.


"Phoebus Company adalah milik perusahaan keluarga papaku. Dengan kekuasaan yang aku miliki, aku menuntut mereka atas hak waris di sana, termasuk kerjasama ini, aku mengancam mereka agar aku bisa menangani kerjasama denganmu termasuk kepergianmu ke Italia, itu semua rencanaku. Hebat kan diriku? Hahaha!" jelas Luis kembali dan tertawa puas.


Tuan muda begitu kesal dan sangat marah menatap tajam Luis di hadapannya.


"Sialan kau Luis!" umpat tuan muda geram.


Luis merasa senang atas apa yang dia perbuat, entah apa yang sebenarnya Luis inginkan.


"Tuan Halim Ahmet masih berhubungan baik dengan keluarga papaku hingga menjalin kerjasama ini. Papamu itu sengaja merahasiakan ini darimu karena dia tahu kau pasti akan marah dan melarangnya."


"Hah, papamu itu sungguh baik dan rendah hati. Sudah dikhianati oleh mama Laura tapi masih saja berhubungan dengan keluarga papaku, keluarga Vettori. Lucu sekali bukan?" ucap Luis tiada henti menjelaskan pada tuan muda Aras.


Tuan muda Aras pun merasa tidak suka bila Luis berkata seolah mengejek almarhum papanya.


"Tutup mulut kamu, Luis. Sekarang pergilah, saya muak melihat muka kamu di sini," pinta tuan muda kesal.


"Aku sekarang rekan kerjamu, jadi aku akan selalu standby di kantor ini untuk beberapa pekan atau beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun, agar kerjasama kita terjalin dengan baik. Aku harap kau mengizinkan aku memakai satu ruangan di sini, ok!" kata Luis mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan pemiliknya terlebih dulu.


"Ini kantorku, aku yang berhak memutuskannya," ujar tuan muda tegas dan menekan.


Luis tak mengindahkan ucapan tuan muda hingga akhirnya dia berjalan begitu saja hendak keluar dari ruangan itu.


"Terserah, aku akan memilih ruangannya sendiri, Brother!" Luis berjalan dengan tenang.


"Kau...," ujar tuan muda menggantung.


Luis pun berlalu dari ruangan itu hingga tubuhnya sudah tak terlihat dari pandangan tuan muda Aras.


"Dasar sialannnn!" teriak tuan muda mengamuk.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2