Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Nyeri Hati


__ADS_3

Mereka terus membahas tentang Raka hingga tanpa terasa Adzan magrib berkumandang, Pak Rafi dan Bu Ratna bergegas mengambil air wudlu dan sholat berjamaah di mushola rumahnya.


Setelah selesai sholat magrib Pak Rafi duduk kembali di ruang TV, ia ingin menunggu Raka pulang, sebelumnya Pak Raka sudah memberi tahu agar Raka pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


Tok...tok...tok


"Assalamualaikum"


Pak Rafi segera membuka pintu, "Waalaikumsallam"


Setelah pintu terbuka Pak Rafi melihat seorang gadis yang sedang memeluk iqra dan juz Ama nya. Dara tersenyum lalu mengangguk.


"Kamu Dara?"


Dara mengangguk " Iya Pakde"


"Masuk...masuk"


Budhe menghampiri ruang tamu, ternyata suaminya sudah menyambut kedatangan Dara.


"Eh...neng geulis...sini masuk ke dalam" Budhe menggandeng tangan Dara untuk masuk ke dalam.


"Kenalin ini suami budhe"


Dara tersenyum lalu mencium tangan Pak Rafi.


"Ayo silahkan kalian belajar saja, Pakde tidak apa-apa"


"Sini Dara, Raka hari ini lembur, jadi kamu belajar dengan budhe" Budhe mengajak Dara ke mushola didalam rumahnya.


Dara mulai belajar mengaji iqra, dan menghafal alfatihah, kata budhe membaca alfatihah dalam sholat harus benar, karena alfatihah merupakan rukun sholat.


Surat al-Fatihah perlu dibaca dengan tajwid dan makhorijul huruf yang benar. Syeikh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan bahwa orang yang mampu membaca al-Fatihah dengan benar, sesuai dengan kaidah tajwid dan makhorijul hurufnya, akan tetapi ia dengan sengaja mengganti satu huruf dengan huruf lainya, maka tidaklah sah salatnya.


Sah tidaknya salat pun bergantung pada ada tidaknya al-Fatihah dalam salat kita. Jika kita tahu ilmu tajwidnya namun tak berusaha untuk memperbaiki bacaan kita, bisa jadi salat kita tidak sah.


Oleh karenanya, barang siapa yang merasa bacaan al-Fatihahnya belum cukup baik, hendaknya ikut salat berjamaah untuk menghindari salah bacaan yang kita perbuat. Mendengarkan bacaan imam juga melatih kita untuk memperoleh bacaan yang lebih baik.


Raka pulang membawa martabak telor kesukaan Pakde, ia memberi salam lalu langsung masuk ke rumah, Pakde yang sedang duduk di depan TV segera menghampiri Raka, memeluknya, Raka bersalaman mencium tangan Pakde.


Raka meletakan martabaknya di depan meja TV.


"Mandi dulu Ka" Ucap Pakde.


"Iya Pakde"


Raka naik ke atas ke kamar almarhum Abymanyu, ia meletakan tas kerjanya lalu segera mandi.


Selesai mandi Raka berganti baju hanya memakai celana pendek sebatas lutut dan kaos oblong warna hitam.


Raka turun ke bawah menuju mushola, ia melihat dari jauh Dara sedang belajar mengaji.


Raka tersenyum, Raka mengagumi kecantikan Dara saat menggunakan jilbab, berbeda sekali dengan Dara waktu masih menggunakan baju Tarzan, Raka justru risih melihatnya.


Raka kembali ke ruang TV, disana sudah ada Pakde yang menunggunya, Pakde mulai berbincang dengan Raka masalah rencana pakde ingin menjodohkan Raka.


"Ka...jangan terlalu memforsir masalah pekerjaan terus, kamu juga perlu pendamping, pakde ada kenalan anak gadis teman pakde" Ucap Pakde sambil tersenyum.

__ADS_1


Dara yang sudah selesai mengaji segera merapikan buku-buku dan iqra nya kedalam tasnya, budhe sudah terlebih dahulu ke dapur untuk membuatkan teh untuk pakde dan Raka.


Selesai merapikan bukunya Dara keluar dari mushola hendak menyusul budhe ke dapur, namun Dara mendengar percakapan Pakde yang ingin menjodohkan Raka dengan seorang gadis.


Dara menghentikan langkahnya, ia memberanikan diri untuk mendengarkan percakapan pakde di balik tembok.


"Bagaimana Raka?" Tanya Pakde.


"Hemm...nanti Raka berdiskusi dulu dengan Mbak Rengganis juga Bapak pakde"


"Oh oke, Pakde tunggu jawabannya yah, biar pakde bisa segera menghubungi teman pakde itu jika kamu setuju"


Raka hanya mengangguk, tapi fikirannya melayang entah kemana.


Dara memegangi Dada nya, Entahlah mendengar Raka yang akan di jodohkan membuat Dada Dara begitu sakit.


Tak terasa di ujung mata Dara sudah mengeluarkan air mata. Dara segera mengusapnya.


"Gue ga boleh gini, apaan sih ini, kenapa hati gue mendadak nyeri, gue ga boleh sedih, gue sama Raka kan hanya berteman, gue ga boleh nangis" Gumam Dara mencoba menguatkan hatinya.


Budhe yang sedang membawa teh melihat Dara berdiri terdiam menyandar di tembok sambil memegangi dadanya.


"Dara...kamu kenapa? ada yang sakit Nak?" Ucapan budhe membuat Dara terkejut.


"Emm...eh Budhe...tidak budhe, Dara hanya...hanya tiba-tiba lemas, biasa mungkin Dara kurang Darah"


"Ya sudah...ayo kita ke ruang TV, ada pakde dan Raka juga sudah pulang sedang mengobrol disana"


Dara mengikuti budhe ke ruang TV.


"Sudah belajar nya Ra" Tanya Pakde.


"Ayahmu sudah pulang belum?"


"Belum pakde, ayah biasanya pulang jam 10 malam"


"Di rumah sendirian?"


Dara menganguk.


"Ya sudah disini saja temani budhe, sering-sering kesini temani budhe, budhe itu sangat senang dengan anak perempuan, anggap saja rumah sendiri"


"Terimakasih pakde"


Raka membuka martabak telornya mereka lalu makan martabak telor bersama.


"Budhe Dara minta cabe lagi dong, budhe punya kan"


"Iya ada di kulkas Ra, ambil saja"


Dara berlari mengambil cabe yang ada di kulkas beberapa butir, lalu mencucinya terlebih dahulu, setelah itu kembali lagi ke ruang tv.


Dara memakan martabaknya sambil menggigit beberapa cabe.


Raka begitu ngilu melihat Dara makan cabe begitu gurihnya, Raka merebut cabe dari tangan Dara " Kamu ini, nanti perutmu sakit"


"Ih Raka, jangan rese dong, gue doyan pedas, Lo ga usah khawatir, perut gue baik-baik aja, sini kembalikan" Dara menengadahkan tangannya meminta Raka mengembalikan cabe nya.

__ADS_1


"Tidak"


"Raka sini"


Dara berusaha merebut cabe yang ada di tangan Raka namun sangat sulit, karena tangan dan tubuh Raka lebih besar darinya.


Dara mengerucutkan bibirnya. Dara hendak pergi ke dapur untuk mengambil cabe lagi tapi Raka langsung menarik tangan Dara.


"Jangan ambil lagi"


"Raka, Lo ini..."


"Eh kalian ini malah bertengkar"


"Budhe Raka nakal sekali budhe" Dara mulai merengek pada budhe.


Budhe dan Pakde tersenyum, mereka senang rumah mereka ramai dengan anak-anak, sejak Abymanyu tiada rasanya rumah ini sunyi sepi.


"Raka kembalikan...kamu kenapa usil sekali" Ucap pakde membela Dara.


"Tidak pakde, perutku selalu sakit jika makan terlalu pedas, Dara ini cari penyakit saja" Ucap Raka sambil melirik Dara.


"Ini perut gue Raka, beda dengan perut Lo, ih rese banget" Dara kembali memakan martabaknya tanpa cabe.


Budhe melihat ada kekhawatiran di mata Raka pada Dara. Tapi selama ini Raka hanya diam tidak mengutarakan apapun, budhe takut apa yang ia lihat hanya tebaknya saja.


"Mah...papah sudah membicarakan tentang perjodohan itu dengan Raka, mamah telfon Rengganis Mah, suruh kesini, agar nanti kita lebih enak musyawarah nya"


Deg...


Hati Dara kembali nyeri.


Dara melihat ke arah Raka, Raka ternyata juga sedang melihat ke arah Dara, manik mata mereka bertemu. Mata mereka menyiratkan kekhawatiran yang tidak bisa diungkapkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


[komen...komen...komen...episode ini yang komen langsung aku balas, jangan komen nggantung tapi 😁😁😁 khusus episode ini,😘😘😘 like nya jangan lupa juga okeh]


__ADS_2