Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Episode 55


__ADS_3

Adzan dzuhur berkumandang, Bang Rizki memutuskan untuk pulang karena ada pekerjaan lain yang harus ia selesaikan, Rizki membuka pintu hendak keluar tapi di depan pintu ternyata sudah ada Raka hendak Masuk.


"Hadeh, baru ketemu tadi, ini yang lelaki sudah datang lagi saja" Ledek Rizkiil sambil melirik Dara.


Dara melihat ke arah pintu, ternyata ada Raka, Dara menyunggingkan senyumnya.


"Ini bagian dari usaha" Jawab Raka yang langsung menyerobot masuk ke dalam.


" Ya sudah aku pulang dulu yah Ka"


Raka mengangguk " Hati-hati bang"


Raka menutup pintunya, Raka meletakan beberapa makanan di meja untuk makan siangnya juga makan siang Dara.


"Ka, tidak perlu repot seperti ini"


"Hemm"


"Kamu kenapa?"


"Dara boleh aku meminta satu hal?"


"Apa?"


"Mulai sekarang jangan panggil aku Ka, Raka"


"Lalu" Dara mengernyitkan Dahinya.


"Panggil Aa" Ucap Raka sambil tersenyum. Dara pun ikut tersenyum.


"Ah, aku tidak biasa"


" Ya di biasakan, aku kan seniormu, eh aaaaa sekarang bukan seniormu lagi, tapi aku ini sudah dewasa"


"Ah segala dewasa"


"Iya, aku sudah lulus, sudah bukan anak sekolah lagi"


"Iya iya sudah terserah deh"


Dara membuka bungkus makanannya, Bu Nadia masih tertidur, Dara akan membangunkan ibunya setelah ia selesai makan.


"Sudah cepat makan"


" Aa, ayo makan gitu"


Dara tersipu malu " Ih apaan sih"

__ADS_1


" Cepat"


Dara menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Aa, Ayo makan"


"Nah gitu dong"


Raka segera mengambil makanannya, mereka berdua makan bersama siang ini, hal ini Raka lakukan demi mendapatkan perhatian lagi dari Dara, Raka tidak mau kehilangan Dara lagi untuk yang kedua kalinya, Raka juga yakin Dara masih mencintainya, Dara tidak menolak di perhatikan oleh Raka.


Selesai makan Dara membangunkan ibunya lalu menyuapi ibunya, setelah itu mereka sholat bersama dengan ibunya, seperti biasa Raka mengimami Bu Nadia dan Dara.


Setelah sholat Dara mengupas buah-buahan dengan Raka.


" Ka terimakasih banyak yah sudah selalu menyempatkan waktu menjenguk ibu"


Raka terdiam tidak merespon, Dara tau ia terlupa memanggilnya AA.


"A terimakasih"


Raka tersenyum " Sama-sama, jangan merasa tidak enak seperti itu Ra"


"Aku sangat senang dan bahagia sekali hari ini" Sambungnya.


"Apa yang membuat bahagia?"


" Apa?"


"Bahagiaku ketika Alfatihah ku di aamiini olehmu waktu sholat, aku ingin selalu menjadi imam sholatmu Ra"


Dara berhenti mengupas, Hatinya yang sejak lalu gersang, rasanya seakan-akan tersiram kembali oleh air yang menyejukkan, Hati Dara langsung berbunga-bunga mendengar kalimat manis dari Raka. Dara menunduk tersipu malu, Dara beranjak dari tempat duduknya menghampiri ibunya, ia ingin menyembunyikan wajahnya yang seketika bersemu merah.


Raka tersenyum bahagia, Tiga bulan baginya seperti tiga abad, menahan Rasa rindu, hanya doa yang bisa mengobati Rindu Raka pada Dara kala itu, apa yang terjadi saat ini rasanya seperti mimpi untuk Raka, Raka mengira akan kehilangan Dara dan tidak akan ada lagi kesempatan.


Dara menyuapi buah-buahan untuk ibunya, ibunya mendengar semua yang Raka katakan, ibu mulai meledek Dara.


"Pak Raka sepertinya menyukaimu Ra"


"Tidak Bu, Dia hanya suka bergurau saja"


Raka yang mendengar jawaban Dara langsung menghampiri Dara dan ibunya.


"Raka serius menyukai Dara Bu" Raka menatap Bu Nadia.


"A, ibu sedang sakit"


" Ini kesempatanku Ra"

__ADS_1


"Bu, aku menyukai Dara, apa aku boleh meminta Dara untukku Bu" Raka terlihat serius.


"Ibu setuju Dara dengan siapa saja, Asalkan Dara bahagia"


"Dara bagaimana nak?" Tanya ibu sambil menggenggam tangan putrinya itu.


"Dara ingin ibu sembuh terlebih dahulu Bu, Dara juga masih harus menyelesaikan kuliah Dara, masih harus belajar lagi di pesantren"


Wajah Raka seketika mendung mendengar jawaban Dara. Dara sedih melihat raut wajah Raka yang tampak sedih.


"A, aku ingin hatam Qur'an dulu, apa Aa sanggup menungguku"


Raka seketika langsung tersenyum "Baiklah, Aa akan menunggumu jika memang syaratnya itu, aa akan dukung"


Dara tersenyum juga melihat Raka tersenyum, Ternyata perasaan cinta itu membuat kita tidak bisa melihat orang yang kita cintai itu terluka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[ Jangan lupa, like komen dan vote yah]


Salam sayang,


Santypuji

__ADS_1


__ADS_2