
Hari sudah mulai sore, Dara berpamitan pada ibunya, meminta izin untuk pergi ke pesantren, izin ke Abah juga Aisyah, Dara mengatakan hanya sebentar saja, hanya untuk berpamitan saja, setelah itu akan langsung ke rumah sakit lagi.
Ibu mengizinkannya, Dara langsung bergegas pulang ke pesantren, sesampainya di pesantren Dara langsung ke ruang kantor, disana ada Abah yang sedang menerima tamu, Dara memberi salam pada semua tamu Abah setelah itu duduk di depan komputer.
Tidak berapa lama, Zaki masuk ke dalam kantor, Zaki juga menyapa semua tamu, Zaki yang melihat Dara langsung menghampirinya. Melihat Zaki yang menghampirinya Dara segera menanyakan Aisyah saat ini mengajar di kelas apa karena Dara ingin segera bertemu Aisyah.
" Kamu ini selalu Aisyah yang di cari"
"Ya karena yang tidak ada Aisyah, ngapain cari ustad, kan ustad sudah ada di depanku, mencari itu yang tidak ada ustad Zaki"
"Kapan yah seorang Dara kira-kira mencari ku?"
"Nanti kalau ada kerja bakti, pasti aku cari" celetuk Dara sambil berdiri lalu beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Aisyah.
Ustad Zaki menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " Kamu ini memang tidak ada manis-manis nya sedikit pun padaku Dara" human Ustad Zaki.
Dara mencari Aisyah di tiap kelas, sesekali menanyakan pada santri yang berpapasan dengannya juga.
Saat sudah menemukan Aisyah, Dara segera menceritakan perihal ibunya pada Aisyah, untuk beberapa waktu Dara ingin merawat ibunya terlebih dahulu, tidak bisa menginap di pesantren dulu, tapi sepulangnya dari kampus Dara akan kepesantren untuk belajar mengaji.
Aisyah mengerti, Aisyah juga berniat akan menjenguk ibu Dara nanti selepas magrib. Setelah berpamitan dengan Aisyah, Dara kembali ke kantor untuk berpamitan pada Abah, Abah mendoakan yang terbaik untuk ibu Dara.
Sebelum Dara beranjak pergi, ustad Zaki memanggilnya.
"Dara...,ibumu sakit?"
Dara mengangguk, " Doakan yah ustad" Dara menundukan kepalanya.
"Pasti, di rumah sakit mana? nanti aku akan menjenguk"
" Aisyah juga nanti akan kesana, tanyakan saja nanti pada Aisyah ya Tadz, Dara buru-buru sekali"
"Oh ya sudah"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
Dara langsung menuju kamarnya, berkemas-kemas mengambil beberapa baju ganti. Setelah selesai Dara bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit saat Dara ingin membuka pintu, Dara terkejut melihat dari kaca pintu masuk kamar rawat inap, terlihat Raka sedang menyuapi buah untuk ibunya.
Dara tersenyum melihat pemandangan yang sangat menenangkan itu, tapi sesaat kemudian Dara tersadar jika Raka bukanlah calon menantu ibu, tapi hanya atasan yang perhatian terhadap bawahannya.
Dara langsung masuk ke ruangan, "Assalamualaikum"
Raka dan ibu menjawab dengan serempak
" Waalaikumsallam"
Dara meletakan ranselnya di lemari kecil tempat meletakan baju pasien.
Dara melihat ke arah Raka, begitu juga dengan Raka, manik mata mereka bertemu.
__ADS_1
Dara lalu tersenyum dan mengangguk.
Raka begitu bahagia melihat senyum Dara, tiga bulan lamanya sudah tidak melihat senyuman itu lagi, Raka begitu rindu.
"Maaf ya Pak Raka, kembali merepotkan"
" Jangan bicara seperti itu Ra, aku kebetulan baru saja pulang kerja"
Dara tidak membalas ucapan Raka lagi, Dara mengambil ranselnya lalu mengambil baju muslim nya setelah itu bergegas ke kamar mandi. Dara berharap saat dirinya selesai mandi Raka sudah pergi meninggalkan ruang rawat ibunya.
Ketika Dara sudah selesai mandi dan perlahan membuka pintu kamar mandinya, Dara malah di suguhkan dengan pemandangan yang tak terduga, Raka sedang menyuapi ibunya. Dara meletakan baju kotornya di lemari, membiarkan Raka melanjutkan menyuapi ibunya.
" Pak, terimakasih banyak" Ucap Bu Nadia dengan penuh rasa haru.
" Sama-sama Bu, saat seperti ini tiba-tiba aku merindukan ibuku sendiri, tapi ibu sudah bahagia disana bersama Allah"
Sesaat Dara merasa terharu dengan pernyataan Raka. Ternyata ibu Raka sudah tiada.
Adzan magrib berkumandang, Raka mengajak Dara dan Bu Nadia sholat berjamaah di dalam kamar, Bu Nadia begitu canggung karena sudah sangat lama tidak pernah melaksanakan sholat.
Mukenah Dara ia pakaikan untuk ibunya, sedang kan Dara sudah memakai kaus kaki dan jilbab panjang, dirasanya sudah cukup jika tidak menggunakan mukenah.
Dara menuntun ibunya bertayamum, setelah itu mereka sholat berjamaah, Dara sudah lama sekali tidak di imami Raka, sekarang di imami Raka lagi, hal ini terasa mimpi baginya.
Selesai sholat Raka pergi keluar membeli makanan, Dara membiarkan Raka keluar, Dara kira Raka akan pulang karena sudah mulai malam, ternyata Raka kembali lagi membawa dua kotak nasi goreng, Raka menasehati Dara agar Dara juga bisa menjaga kesehatannya, jangan sampai telat makan, jangan sampai sakit karena Ibunya saat ini sangat membutuhkannya.
Dara merasa Raka masih perhatian padanya. Di sela-sela makan Dara bertanya pada Raka.
Raka menghentikan makannya, " Ra, aku sebenarnya...."
Belum sempat Raka menjelaskan pada Dara, pintu ruangan di ketuk dan seseorang terdengar mengucapkan salam.
"Waalaikumsallam" Dara langsung membuka pintunya. Ternyata Aisyah dan Zaki.
"Eh, teteh, Ustad, masuk"
Mereka berdua masuk ke dalam, Aisyah dan Zaki terkejut melihat ada Raka di dalam ruangan.
Dara segera memperkenalkan Raka " Ini pak Raka, atasan ibu di kantor, Pak Raka sedang menjenguk ibu"
Aisyah melirik ke arah Dara, Dara hanya memberi anggukan. Zaki langsung berjabat tangan dengan Raka, sedangkan Aisyah hanya menangkupkan kedua tangannya pada dadanya.
Aisyah dan Zaki menghampiri ibu , Dara memperkenalkan Aisyah dan Zaki.
"Ini Aisyah Bu teman baik Dara di pesantren, sedangkan ini Ustad Zaki juga teman Dara di pesantren"
"Eh kalau di luar pesantren jangan ustad atuh Ra, tapi aa" Ledek Zaki.
"Haha, ngarep banget di panggil aa" Dara menjulurkan lidahnya.
"Kamu ini, iyain aja sih, biar aa seneng Ra"
"No" Dara menyilangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Heh sudah, kalian berdua ini, kebiasaan" seperti biasa Aisyah menengahi.
Raka begitu terbakar api cemburu kita melihat Dara akrab dengan Zaki, apalagi dia seorang ustad, mereka pasti bertemu setiap hari di pesantren.
"Ehmmm" Raka berdehem untuk menghentikan candaan mereka karena Raka sudah tidak kuat lagi mendengarnya.
Dara melihat ke arah Raka " Maaf Pak"
"Ra, aku pamit pulang dulu yah"
Dara mengangguk.
Raka bangkit dari duduknya, ia bersalaman dengan Bu Nadia dan mendoakan Bu Nadia agar cepat sembuh, Raka juga menasehati Dara agar jaga diri baik-baik selama menjaga ibunya yang sakit. Setelah itu Raka bergegas keluar dari ruangan Bu Nadia dengan hati yang berkecamuk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Maaf ya kemarin itu ada kendal dari pihak noveltoon nya, entah lah untuk episode ini akan lama atau tidak up nya]
jangan lupa like komen dan vote
Kalau berkenan boleh add FB ku Santy isnawan, biasanya aku bagiin cuplikan disana sebelum di up noveltoon.
Salam sayang,
Santypuji
__ADS_1