
" Ya sudah ayo ikut aku"
Doni membawa Dara naik lift untuk menemui Raka. Dara mengikuti Doni dengan perasaan berdebar, entahlah perasaan apa, yang jelas jantung nya seketika terpacu lebih cepat.
Sesampainya di lantai 5 pintu lift terbuka, Doni mempersilahkan Dara masuk ruangan lantai 5. lalu mempersilahkan Dara untuk masuk kedalam ruangan Raka.
Ketika sampai di pintu Dara menghentikan langkahnya, ia melihat dari kaca bening di celah pintu, Raka sedang sibuk dengan berkas-berkasnya, seketika Dada Dara mulai bergemuruh, Dara memegangi Dadanya.
"Tidak boleh ada perasaan ini Ra, dia suami orang" Gumam Dara menasehati dirinya sendiri.
Doni yang melihat Dara terdiam saja di depan pintu langsung menghampirinya.
"Kenapa?"
"Aku tidak enak, Raka sepertinya sedang sibuk"
"Sudah masuk saja, apa perlu aku temani?"
Dara mengangguk, Doni membuka pintu ruangan Raka.
"Bos"
"Hemm"
"Ada tamu spesial"
"Jangan bercanda di waktu jam kerja Don"
"Lihat dulu"
Raka menghentikan pekerjaannya, ia menatap ke arah Doni.
"Don....."
Raka terkejut ketika melihat Dara ada di sebelah Doni, Raka sangat senang melihat Dara ada datang ke kantornya, senyuman Raka langsung mengembang seketika.
"Dara"
Dara hanya mengangguk malu, Raka langsung beranjak dari tempat duduknya, ia mengajak Dara duduk di sofa.
"Ada apa? tumben kemari, aku seneng banget Ra"
" Gombal" Celetuk Doni yang ternyata masih di depan meja Raka.
Dara tersenyum.
"Eh pergi sana" Raka menyuruh Doni pergi, Doni pun langsung keluar dari ruangan Raka.
"Ada apa Ra?"
Raka menatap Dara dengan intens, 3 bulan lama nya tidak berjumpa dengan Dara, hanya jumpa kemarin itu saja tidak lama membuatnya begitu senang ketika Dara tiba-tiba menghampirinya.
__ADS_1
"Emmm...maafkan aku sebelumnya" Dara meremas jemari nya.
"Kenapa minta maaf?"
"Aku kali ini sedikit mencampuri urusan rumah tangga kalian, tapi ini karena aku sudah tidak tahan melihat kelakuan istrimu, dan aku merasa kasihan padamu Ka"
Raka tersenyum, ia begitu senang mendengar Dara memanggilnya dengan sebutan Raka lagi, tidak menggunakan embel-embel Pak.
"kenapa memangnya?" Raka sengaja tidak memberi tahu yang sebenarnya karena Raka ingin tahu seberapa khawatirnya Dara terhadap dirinya.
" Aku melihat Rosa memeriksa kandungan dengan laki-laki lain, aku tahu kamu sibuk, tapi seharusnya dia tidak meminta laki-laki lain untuk menemaninya, apa lagi laki-laki itu yang....."
Dara kembali meremas jemarinya, rasanya takut untuk melanjutkan perkataannya.
"Yang apa?"
"Yang pernah tidur dengannya" Dara menutup langsung menunduk.
"Jadi kamu sebenarnya sudah tahu semua tentang Rosa?"
" Iya Raka maaf kan aku, waktu itu aku ingin memberi tahumu tapi kita malah bertengkar di cafe, kamu tidak percaya jika waktu itu Rosa memang datang dengan laki-laki lain"
"Maafkan aku"
"Iya aku sudah memaafkan"
"Ra...sebenarnya?"
"Rosa bukan istriku" Raka langsung mengungkapkan inti dari pembicaraan yang ingin ia bicarakan.
Dara membelalakkan matanya " Maksudmu?"
"Aku tahu, kamu masih belajar mencintainya, tapi bukan berarti kamu tidak mengakuinya Ka" Sambungnya lagi.
"Dia memang bukan istriku" Raka menatap Dara dalam-dalam, Raka akhirnya menceritakan tentang gagalnya pernikahannya dengan Rosa karena Rosa ketahuan hamil saat akan melakukan ijab kabul.
Dara menutup mulutnya, Dara bingung antara terkejut dan senang mendengar kabar itu, tapi hatinya pernah merasa sakit, Dara langsung sadar dengan takdir yang sudah terjadi.
"Terimakasih sudah perhatian denganku" Ucap Raka sambil tersenyum.
Dara langsung salah tingkah " Bu...bukan, maksudku, emmm aku hanya tidak ingin kamu terluka, kamu laki-laki baik Raka"
"Tidak ingin terluka karena kamu masih mencintaiku kan"
Dara kembali menunduk, Dara tidak bisa menyangkal perasaannya yang masih utuh hanya untuk Raka.
"Ya sudah kalau ternyata dia bukan istrimu, aku mau kembali ke rumah sakit"
Dara hendak bangkit dari kursinya namun Raka langsung bergerak lebih cepat berlari ke arah pintu dan mencegah Dara keluar.
"Minta nomor ponselmu Ra?"
__ADS_1
Dara terdiam.
"Aku hanya ingin saling bertukar kabar saja"
Dara akhirnya memberikan nomor ponselnya pada Raka, karena Raka bukan lah suami orang, tidak ada salahnya bagi Dara untuk sekedar bertukar kabar.
" Ra... sekarang kamu makin cantik"
Raka langsung membukakan pintunya untuk Dara, Dara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Dara langsung melangkah keluar sambil mengucapkan salam, setelah di jawab Raka dan pintunya sudah tertutup kembali, kini Dara tersenyum tersipu malu. Tiba-tiba perasaan begitu bahagia muncul begitu saja dalam hatinya.
"Ehmmm... tadi ketakutan, sekarang senyum-senyum"
"Ya Allah Mas Doni, mengagetkan saja"
"Bahagia banget nih auranya"
"Ah sudah Mas, aku mau pulang dulu" Dara segera meninggalkan ruangan lantai 5 dan turun menggunakan lift.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Ciat...ciat bacanya sambil senyum-senyum nih hayo...hayo]😁😁
jangan lupa like komen dan vote
salam sayang,
santipuji
__ADS_1