Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Episode 44


__ADS_3

Raka dan budhe menunggu pakde selesai bicara di telfon, Budhe begitu gelisah, begitu juga dengan Raka.


Selesai menelfon Pakde menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya beristigfar


" Astagfirullah" Pakde lalu duduk di kursi sambil mengatur nafasnya.


"Pah...bagaimana, ada apa sebenarnya?" Budhe begitu tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Mobil keluarga Rosa tabrakan beruntun dengan mobil lainnya mah, polisi tadi menelfon kita karena mereka menemukan ponsel Ayah Rosa, dan mereka melihat panggilan terakhir di ponsel ayah Rosa adalah nomor ponsel papah, jadi pihak kepolisian menelfon kita, sekarang mereka ada di rumah sakit Harapan"


"Ya Allah" Budhe begitu histeris, budhe seperti ketakutan, mungkin karena budhe kembali mengingat almarhum Mas Abymanyu.


"Sudah Mah, sabar, kita akan kesana sekarang" Pakde mengajak Raka dan budhe untuk bersiap-siap ke rumah sakit.


Raka segera menyiapkan mobil dari garasi, mereka segera bergegas menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Rosa dan keluarga Rosa.


Sesampainya di rumah sakit, Pakde langsung menuju resepsionis, menanyakan tentang korban kecelakaan beruntun yang ada di jalan Halim.


Resepsionis segera menunjukan ruangan UGD, Raka, pakde dan budhe segera menuju ruang UGD, disana ternyata sudah banyak keluarga korban juga yang menampakan wajah sedih dan takut.


Pakde segera menghampiri suster yang ada di ruangan, Pakde memberi tahu bahwa pakde adalah keluarga Rosa, suster menunjukan satu persatu korbannya, Raka melihat sosok Rosa yang masih tidak sadarkan diri, namun terlihat tidak ada yang terluka.


Ada dua pasien yang ada di ruang oprasi, kemungkinan itu ayah dan ibu tiri Rosa karena Raka tidak melihat ayah dan ibu tiri Rosa di ruang UGD.


Raka, pakde dan Budhe mendekati Rosa, Rosa masih belum sadarkan diri, suster bilang akan segera memindahkan Rosa ke ruang rawat inap.

__ADS_1


Raka duduk di sebelah ranjang tempat Rosa berbaring. Raka memijat pelipisnya, ia merasa masalahnya semakin rumit, Dara yang meninggalkannya, kini Rosa yang terbaring lemah.


Semalaman Raka, pakde dan budhe menemani Rosa, Rosa sudah di pindahkan ke ruang rawat inap kelas VIP. Mereka masih menunggu Ayah dan ibu tiri Rosa.


Pagi harinya Rosa sudah sadar, ia mengerjapkan matanya, ia melihat sekeliling dan mulai menyadari dirinya bukan berada di rumah, Budhe yang melihat Rosa tersadar langsung menghampirinya.


"Rosa...kamu sudah sadar nak?"


Rosa hanya mampu mengangguk, Rasanya seluruh badannya remuk redam.


"Minum"


Budhe segera mengambilkan minum untuk Rosa. Rosa melirik sekilas, di sofa ada Raka yang sedang melihatnya juga, seketika hati Rosa langsung berbunga-bunga.


"Ayah..."


Budhe memegang jemari Rosa " Ayahmu jam 3 dini hari tadi baru keluar dari ruang oprasi, sekarang sudah di pindahkan di ruang rawat inap, tenang saja pasti semua akan baik-baik saja"


Rosa mengangguk, Budhe lalu menawari Rosa makan, Budhe hendak menyuapi Rosa makan bubur namun Rosa menolaknya dengan alasan ingin di suapi oleh Raka saja.


Raka menatap Rosa dengan jengah, dalam keadaan sakit pun Rosa masih terus saja mencari-cari perhatiannya.


Raka dengan langkah gontai menghampiri Rosa lalu menyuapinya, Rosa tersenyum puas.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Di pesantren Dara sedang bersiap-siap melaksanakan sholat duha dengan warga pesantren lainnya, terlihat dirinya masih belum bersemangat, semalam saat Aisyah ingin menghiburnya Dara malah sudah tertidur.


Dara dan Aisyah berjalan menuju masjid, di tengah perjalanan Dara menghentikan langkahnya, lalu duduk di bangku yang biasa berjejer di depan ruangan-ruangan.


"Kenapa?" Aisyah memegang bahu Dara.


"Teh...kenapa Dara sulit sekali melupakan Raka, serasa di fikiran ini hanya ada Raka, Dara lelah Teh"


Aisyah tersenyum "Kamu sepertinya sedang mengidap Virus hati yang bernama al isyq (cinta), Ibnul Qayyim dalam karya besarnya Zadul Ma’ad Beliau berkata, ”Gejolak cinta merupakan jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus. Disebabkan berbeda dengan jenis penyakit lain, baik dari segi bentuk, penyebabnya maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.”


"Apa obatnya Teh?"


"Menikah"


Dara langsung mengerucutkan bibirnya, " Teteh jangan meledekku, obat selain menikah?"


"Mengajak akal berfikir, bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang mustahil dijangkaunya itu ibarat perbuatan gila. Ibarat pungguk merindukan bulan. Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya terhalang maka terapinya yaitu dengan mengangap bahwa yang dicintainya itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan ialah dengan menjauhkan dirinya dari yang dicintainya. Dia harus merasa bahwa pintu ke arah yang diingininya tertutup, dan mustahil tercapai. Kamu sedang berusaha disini, insyaAllah Allah akan membantumu"


"Ingat Dara, kita harus lebih mencintai Allah, bukan makhluk, kamu harus menumbuhkan perasaan, bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih baik dan lebih kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara mencintai sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, tentu akan memilih yang lebih tinggi derajatnya. Kamu juga berpikir, bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama , harga diri dan kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar, demi mendapatkan kebahagiaan abadi. Sementara kebodohan, hawa nafsu, kedzalimannya akan memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan apa yang dikasihinya. Sungguh, orang yang terhindar ialah orang-orang yang dipelihara oleh Allah " Sambungnya lagi.


Dara memeluk Aisyah, " Teteh, terimakasih sudah menyadarkan Dara.


"Sudah...sudah ayo kita lanjutkan ke masjid"


Dara mengukuti Aisyah ke masjid, mereka berdua melaksanakan sholat duha di masjid, Dara memohon agar mendapatkan jalan terbaik dari Allah.

__ADS_1


__ADS_2