
"Assalamualaikum" Ucap beberapa orang mengucapkan salam.
Dara langsung menghapus air matanya lalu mematikan kembali ponselnya.
"Waalaikumsallam" Dara berjalan menuju pintu.
Ternyata ada serombongan tamu Abah yang datang ke pasantren, Dara segera mempersilahkan masuk, Salah satu dari tamu itu memperhatikan Dara yang kala itu begitu cantik di balut busana muslim warna Biru muda.
Dara permisi terlebih dahulu untuk memanggil Abah, Abah ternyata sedang meninjau perbaikan bangunan pesantren. Dara segera menghampiri Abah dan memberi tahu bahwa di kantor ada tamu.
Abah berterima kasih pada Dara lalu bergegas menuju kantor. Dara tidak kembali ke kantor, hatinya yang sedang sendu tiba-tiba membawanya ke taman bunga, barang kali saja bau wangi bunga bisa membuat fikirannya lebih tenang.
Sesampainya di taman bunga, Dara mengeluarkan ponsel dari sakunya, Dara mengusap ponselnya. Tangisannya mulai pecah'.
"Hikss...hikss ðŸ˜ðŸ˜ Ternyata sesakit ini ya Allah, sakit sekali" Dara menunduk sambil terus terisak.
"Kenapa kisah cintaku hanya manis sesaat, aku tahu jodoh adalah hak Mu ya Allah, tapi kenapa jadi begini"
Dara mengambil sim card pada ponselnya, Dara mengamati sejenak, lalu segera melemparnya begitu jauh.
"Kamu padahal tahu jodoh itu hak Allah, tapi kamu malah memaksanya, itu berarti dihati kamu belum yakin bahwa jodoh adalah kuasa Allah"
Dara mengusap air matanya lalu langsung menengok ke belakang, ternyata seseorang salah satu tamu Abah.
"Menguping, tidak sopan" Celetuk Dara.
"Aku lewat, aku tidak sengaja mendengar, itu beda dengan menguping"
"Terserah"
"Hahahah ternyata orang sedang patah hati itu sensian juga yah"
Dara hendak melangkah pergi, tapi laki-laki itu menghalanginya.
__ADS_1
"Jika yakin pada Allah, mintalah pada Allah, kan laki-laki itu sejatinya juga milik Allah"
"Gila saja kalau gue meminta suami orang menjadi jodoh gue" Dara mengerucutkan bibirnya.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya " Siapa tahu dapat dudanya" Ucapnya sambil terkekeh.
"Gue ga sejahat itu Bambang" Dara menjulingkan matanya.
"Awas minggir " Dara menabrak laki-laki itu agar dia bisa lewat.
"Namaku Zaki, bukan Bambang" Teriak Zaki.
Dara hanya mengacungkan jempolnya ke atas. Zaki langsung tersenyum.
"Cantik...tapi sensi" Gumam Zaki.
Dara kini berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah, begitu juga dengan Zaki dan teman Abah yang lainnya, Zaki di tunjuk sebagai imam untuk mengimami sholat Dzuhur.
Santri putri semua berbisik melihat ketampanan Zaki, menurut desas desus Zaki di gadang-gadang akan mengajar di pondok pesantren Abah.
Aisyah juga ingin sedikit merubah sikap Dara agar terlihat lebih lembut, Aisyah tahu Dara adalah wanita baik yang bisa di bimbing.
Selesai mengaji Dara bercerita pada Aisyah kalau hari ini Raka sudah menikah, air mata Dara berurai lagi, Dara begitu merasakan sesak didadanya.
"Raka sudah menikah Teh, Raka sudah menikah ðŸ˜"
Aisyah memeluk Dara lalu menepuk-nepuk pelan punggung Dara untuk menenangkannya.
"Sabar neng, InsyaAllah Kamu akan mendapat seseorang yang lebih baik lagi, ikhlaskan"
"Bagaimana aku bisa mengikhlaskan dan merelakannya Teh?"
"Kuncinya ada pada dirimu Ra, jika tekadmu kuat melupakannya, pasti akan lupa dengan perlahan"
__ADS_1
Dara mengangguk, entahlah untuk saat ini rasanya belum bisa untuk bertekad melupakan Raka.
Aisyah mengajak Dara ke kantor Abah, disana ternyata Tamu Abah belum juga pulang, Abah memperkenalkan Dara dan Aisyah pada tamu mereka.
Dara dan Aisyah juga berkenalan dengan Zaki, Zaki akhirnya tahu nama gadis cantik itu adalah Dara.
Abah menjelaskan bahwa mulai hari ini Zaki akan mengajar di pesantren ini, Zaki adalah anak salah satu kyai teman Abah, Zaki baru saja pulang study di Mesir dan ingin menyalurkan ilmunya di pesantren Abah.
Selesai berkenalan Dara berpamitan pada Aisyah keluar pesantren ingin membeli kartu perdana baru, Aisyah mengangguk dan mengerti kenapa Dara membeli nomor ponsel baru, jelas saja ini bagian dari bentuk usaha Dara melupakan Raka.
Sebelum ke konter Dara terlebih dahulu mampir ke warung terdekat milik warga, disana Dara membeli beberapa cemilan.
Setelah itu Dara berjalan ke konter membeli kartu perdana baru.
"Mas yang sinyalnya bagus di sini pakai apa yah"
"Semua kartu sinyalnya bagus disini" Ucap seseorang di belakang Dara.
Dara menengok ke belakang, ia terkejut ternyata ada Zaki di belakanganya.
"Lo...aih...kenapa ada Lo dimana-mana, Lo ngikutin gue yah" Dara kembali sensi.
"Aku juga mau beli pulsa Neng Dara"
Dara melengos begitu saja, ia langsung memilih asal kartu perdana yang akan ia beli, Dara segera membayarnya lalu pergi, Zaki juga segera membeli pulsa lalu bergegas mengejar Dara.
"Yang harus di buang itu perasaan kamu, bukan kartu perdananya, yang harus di ganti juga perasaan kamu, bukan kartunya"
Dara menghentikan langkahnya, ia menghampiri Zaki, lalu tersenyum dan langsung mencubit lengan Zaki dengan sekuat tenaga, Dara layaknya anak kecil yang kesal dengan temannya, Dara pun lari dengan kencang ke pesantren.
"Aw...Sssttt, Astagfirullah, geulis-geulis tapi serem pisan, itu gadis sungguhan bukan sih"
Zaki mengelus-elus lengannya yang begitu sakit karena di cubit Dara.
__ADS_1
Sampai pesantren nafas Dara tersengal-sengal, ia lalu tertawa dengan riang karena berhasil mencubit laki-laki menyebalkan itu.