
Hari ini adalah hari lamaran Rizki dan Aisyah sekaligus setelah magrib nya akan langsung diadakan ijab kabul karena memang Abah tidak mau jika lamaran dan pernikahan terpaut jarak waktu yang jauh melihat Rizki dan Aisyah yang sudah saling mencintai.
Raka dan Dara kini sedang berada di mall mencari kado untuk Aisyah dan Raka. Dara berinisiatif membelikan gamis dan baju koko couple untuk Aisyah dan bang Rizki.Raka menyetujuinya.
Raka memberikan satu kartu debitnya untuk Dara berbelanja.
" Sayang ini untukmu, untuk belanja sehari-hari juga, untuk keperluanmu juga terserah mau membeli apa"
Dara ragu menerimanya, " Tapi A,"
" Ini nafkah untukmu, kan sudah kewajiban Aa, Aa akan mentransfernya setiap bulan untuk keperluan baju dan bedakmu juga"
" Apa tidak berlebihan A, memberikan ku untuk membeli bedak juga"
" Tidak dong sayang, di samping harus memberi uang belanja, seorang suami juga harus memberikan uang untuk keperluan pribadi istri"
" Memangnya harus seperti itu segala ya mas, bagaimana jika yang mempunyai penghasilan pas-pasan" tanya Dara.
Raka tersenyum, " Ya harus sabar, Istri yang sabar jelas akan mendapat ridho Allah, setiap detik kesabaran yang dilaluinya menjadi sebuah pahala besar yang membawanya kepada surga, ia akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup di akherat nanti pada kehidupan yang kekal . Istri yang sabar adalah teladan istri Rasulullah yaitu Khadijah yang sabar dan setia mendapingi Rasulullah dalam masa sulitnya , perbuatan Khadijah tersebut pun menjadikannya sebagai sosok wanita teladan yang memiliki derajat yang mulia di sisi Allah"
Dara mengangguk pelan, " Semoga Dara bisa jadi istri sabar ya A"
Raka mengusap kepala Dara dengan penuh kasih sayang.
Selesai membeli kado untuk bang Rizki dan Aisyah, mereka berdua bergegas ke pesantren.
Sesampainya di pesantren Dara dan Raka berpapasan dengan Ustad Zaki.
__ADS_1
Ustad Zaki memandang Dara dengan tatapan sendu.
" Ustad" Dara mencoba mencairkan suasana yang begitu canggung.
" Eh Ra, Selamat yah atas pernikahannya, maaf aku tidak datang karena aku sedang tidak enak badan" ucap Ustad Zaki dengan senyum yang di paksakan.
Raka lalu merangkul bahu Dara, " Tidak apa-apa ustad, terimkasih doanya, semoga ustad juga cepat mendapatkan jodohnya, aamiin"
Ustad Zaki mengangguk lalu permisi meninggalkan Dara dan Raka.
Raka dan Dara masuk ke rumah Abah. Dara ingin sekali melihat Bang Rizki. Bang Rizki ternyata ada di ruang tengah, berkumpul dengan semua keluarganya.
" Bang"
" Eh Dara, Raka"
" Alhamdulillah lancar, telat ih"
" Ya pagi banget sih, tapi kita disini sampai malam, kita akan menyaksikan abang dan teteh menikah"
" Awas saja kalau kabur" ledek Rizki.
" Tidak, tenang saja, Dara mau ke teteh dulu yah"
Dara lalu meninggalkan Raka dan Rizki di ruang tengah, Dara masuk kedalam kamar Aisyah.
" Assalamualaikum, teteh geulis"
__ADS_1
" Eh Dara"
".Cie...cie, mukanya masih merah itu, bagaimana rasanya di lamar sama pujaan hati?" Ledek Dara.
" Ya seperti apa yang kamu rasakan saat dilamar Raka"
" Seneng banget ya Teh"
Aisyah mengangguk, Dara lalu memeluk Aisyah.
" Selamat ya teh, ini kado kecil dari kita untuk Teteh sama Bang Rizki"
Aisyah menerimanya dengan senang hati, mereka berdua lalu saling bercerita seputar pernikahan dan rumah tangga.
***
Waktu magrib pun tiba, pesantren sudah dipenuhi oleh para santri dan kyai yang akan memeriahkan pernikahan Aisyah dan Bang Rizki.
Prosesi ijab kabul berjalan dengan lancar, Abah tidak mengadakan pesta besar-besaran. Abah hanya mengadakan walimatul urs, itu saja tamu nya sudah sangat banyak.
Dara sangat bahagia karena teh Aisyah akhirnya mendapatkan kebahagiaannya. Aisyah dan Rizki menjalani cinta dalam diam, bahkan Abah tidak mengetahuinya.
Kata Teh Aisyah "Memperhatikanmu diam-diam, mendoakanmu setiap hari dan mencintaimu secara rahasia."
Mendengar setiap malam Dara dan Aisyah selalu saling bercerita tentang perasaannya masing-masing.
Dara memeluk Aisyah, Mata Dara berkaca-kaca. Allah memberikan kebahagiaan pada keduanya karena kesabaran keduanya pula.
__ADS_1