Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Episode 61


__ADS_3

Hari ini adalah hari bersejarah untuk Raka, hari ini Raka akan di wisuda. Ini adalah momen bahagia baginya juga keluarganya, amanah yang selama ini ia emban akhirnya berakhir dengan pencapaian yang memuaskan.


Pakde dan budhe begitu bangga dengan pencapaian Raka selama ini, Raka membantunya mengurus perusahaan sambil kuliah, Raka menjalaninya dengan sungguh-sungguh, hingga tiba saatnya hari ini Raka membuktikan dirinya lulus dengan hasil yang memuaskan.


Keluarga Raka sudah berkumpul di gedung tempat Raka di wisuda, Raka sudah ada di barisan wisudawan bersama teman-temannya. Prosesi wisuda berjalan dengan hikmat sampai selesai. Bapak mencium kening Raka, Bapak begitu bangga dengan Raka, andai saja ibunya belum meninggal pasti akan sama bangganya dengan Raka.


Rengganis memeluk Raka dengan mata berkaca-kaca. waktu begitu cepat berlalu, sepertinya baru saja kemarin mereka bermain bersama di sawah, saat ini Raka sudah beranjak dewasa.


Pakde dan Budhe juga sama bangganya dengan pencapaian Raka selama ini. Pakde dan Budhe memberi selamat pada Raka.


Raka nampak mencari-cari seseorang, Raka mengambil ponsel dalam sakunya lalu menghubungi Dara, namun tidak ada jawaban.


Raka tidak putus asa terus menelfon Dara, hingga ia merasa pundaknya di pegang oleh seseorang. Raka langsung menoleh lalu tersenyum.


"Kamu Datang juga" Raka tersenyum bahagia.


" Selamat yah, Semoga ilmunya berkah bermanfaat, Aamiin" Dara juga menyunggingkan senyumnya yang begitu manis.


Dara lalu berpelukan dengan budhe, budhe memeluk Dara begitu erat, seperti sedang meluapkan kerinduannya.


" Kenapa tidak pernah mampir lagi" Budhe mencubit pipi Dara.


" Dara kan di pesantren budhe"


Budhe melihat penampilan Dara yang semakin Ayu dan dengan busana syar'i nya.

__ADS_1


Mereka semua berfoto bersama, setelah berfoto, Raka mengajak Dara berselfi.


" Aku bahagia sekali Ra, andai saja yang menemani wisuda ku ini istriku"


" Oh jadi nyesel batal nikah?" Dara mengerucutkan bibirnya.


" Bukan...bukan, bukan seperti itu, jangan ngambek" Ledek Raka.


" Andaikan kamu sudah menikah denganku, pasti akan sangat bahagia Ra, wisuda di temani istri, kita bisa berfoto romantis disini" Sambungnya.


Wajah Dara langsung bersemu merah "Ih Dasar Aa, bisa aja"


Raka dan Dara lalu bergabung kembali dengan keluarga Raka. Rengganis menghampiri Dara lalu merangkul pundak Dara.


" Ra, nanti malam kita akan menjenguk Ibunya, kalau bisa tolong hubungi ayahmu ya, Papa Rafi ingin bertemu dengan ayahmu"


Rengganis tersenyum, " Makasih ya sayang"


Setelah acara wisuda selesai, Raka dan teman-temannya akan mengadakan bakti sosial dengan membagikan beberapa sembako ke keluarga yang tidak mampu di sekitaran perkampungan yang ada di daerah meraka. Raka mengajak Dara bergabung.


" Ra, yuk ikut Aa, ke acara bakti sosial dalam rangka syukuran wisuda tahun angkatan Aa, Aa punya komunitas peduli sesama dengan teman-teman, pasti kamu suka"


" Emmm, acaranya apa saja A"


" Hari ini berbagi beberapa sembako untuk warga kampung sekitar, kamu bisa melihat di Instagram juga bisa di situ ada banyak kegiatan Aa dengan teman-teman"

__ADS_1


" A, apa aku boleh bertanya, tapi aa jangan tersinggung yah" Dara nampak cemas jika Raka tersinggung.


" Iya, tanyakan saja"


" Apa perbuatan seperti itu bisa di kategorikan Riya?"


Raka tersenyum " Semua tergantung niat dalam hati Ra, kalau komintas Aa ini niat membantu dengan memposting di media sosial agar mereka yang melihat merasa terinspirasi, agar mereka yang melihat tergugah hatinya, masih banyak orang-orang yang harus kita bantu, bahkan agar orang yang melihat lebih bersyukur lagi, karena mungkin ada keadaan seseorang yang sebetulnya jauh lebih menderita dari kita, jika ada yang menilai itu Riya, semua orang berhak menilai sesuka hati mereka, tapi kalau kita, usahakan selalu khusnudzon, jangan mengotori fikiran dengan penilaian negatif"


Dara mengangguk "Iya, Dara suka heran saja dengan orang-orang yang suka suudzon dengan kebaikan orang lain A"


" Syetan itu memang tidak suka dengan manusia yang berbuat kebaikan, bahkan tanpa kita sadari saat kita menyembunyikan kebaikan sekalipun kita bisa terhasut riya di dalamnya" Ucap Raka.


" Maksudnya A?" Dara penasaran dengan Perkataan Raka.


" Contohnya seperti ini, Contohnya Dara ingin berbuat kebaikan, Dara berniat memposting nya untuk menginspirasi banyak orang, tapi syetan membisikan Dara, Jangan Ra itu riya, akhirnya Dara tidak jadi mempostingnya, lalu setelah itu Dara merasa bangga diri dan berkata dalam hati " seneng banget bisa melakukan kebaikan tanpa di posting" Itu sebenarnya Dara sudah terjerat bisikan syetan, jatuhnya malah menyombongkan diri sendiri, merasa dirinya tidak riya itu adalah bentuk kesombongan yang tanpa kita sadari" Raka memberikan penjelasana pada Dara soal pernyataannya.


" Astagfirullah, benar juga ya A" Ucap Dara dengan ekspresi muka terkejut.


" Iya, jika kita ingin berbuat baik, niatkan yang baik-baik, jangan perduli apa kata orang, ayo ikut tidak"


" Lain kali saja ya A, Aku memikirkan ibu"


" Oh ya sudah, lain kali ikut yah, apalagi kalau sudah jadi istri Aa nanti"


Dara tersenyum "setiap Raka berbicara tentang istri, Dara merasa sangat senang"

__ADS_1


Dara, Raka dan keluarga Raka menaiki mobil masing-masing, Dara kembali ke rumah sakit, Raka pergi dengan teman-temannya sedangkan Rengganis dan keluarga Raka ingin menyiapkan sesuatu untuk Dara malam ini.


__ADS_2