Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Episode 73


__ADS_3

Malam harinya Mas Birru juga Rengganis sengaja berkunjung ke rumah Bu Nadia. Mas Birru ingin membicarakan masalah pernikahan yang menurutnya Dara dan Raka sebenarnya sudah sama-sama siap. Rengganis juga sangat mendukungnya.


Raka tidak tahu jika Kakaknya akan ke rumah Dara karena kebetulan hari ini Raka lembur. Sementara Dara sudah terlebih dahulu diberi kabar oleh Rengganis jika dirinya dan Mas Birru ingin berkunjung dengan niat silaturahmi dan melihat kondisi ibunya.


Sesampainya di rumah Bu Nadia, Rengganis dan Mas Birru mengetuk pintu lalu memberi salam, Dara dan Bu Nadia ternyata sudah menunggu Mas Birru juga Rengganis. Rengganis langsung membuka pintunya lalu mempersilahkan Rengganis dan Mas Birru Masuk.


Mereka lalu saling berpelukan dan berjabat tangan kecuali Mas Birru. Mas Birru dan Rengganis menanyakan kabar Bu Nadia, Bu Nadia sudah terlihat begitu segar.


"Alhamdulillah Ibu sudah semakin membaik, lusa juga sudah mulai bekerja lagi,"ucap Bu Nadia.


" Aa Raka tidak diajak Mbak?" tanya Dara dengan malu-malu.


"Makanya nikah saja, jadi bisa bareng terus, tidak menanyakan terus keberadaannya" Mas Birru malah menjawab pertanyaan yang di lontarkan Dara untuk Rengganis.


" Nanti Mas, Dara ingin hatam dulu" Dara memberi alasan pada Mas Birru.


" Ra, Raka insyaAllah bisa membimbingmu, kamu bisa mengaji dengan Raka dan hatam bersamanya, Mbak ingin kalian cepat bersatu,"ucap Rengganis mencoba meyakinkan Dara.


" Iya, apa kalian tidak ingin seperti kami yang terus nempel begini" Ledek Mas Birru.


Dara tersenyum, " Mas Birru, Mbak Ganis, tolong beri tahu Dara, apakah pernikahan itu indah?" ibu dan Ayahku..." Dara melirik ke arah Ibunya.


Mas Birru tahu maksud Dara, " Dara, baik buruknya hal yang kamu.lihat jadikan lah pelajaran,bukan sebagai patokan masa depan"


Dara mengangguk, " Aku ingin pernikahanku bisa berjalan dengan indah Mas, Mbak."

__ADS_1


"Mbak mengerti Ra, tapi indah itu tergantung penilaian masing-masing,karena keindahan rumah tangga itu levelnya berbeda-beda, ada yang sudah cukup ekonomi saja sudah indah, ada yang setia saja, sudah indah, yang terpenting jangan takut," ucap Rengganis.


Mas Birru lalu menjelaskan lebih rinci, jika Menata rumah tangga itu belajar, memahami bagaimana mendahulukan kompromi ketimbang kemauan diri sendiri. Indah pernikahan jika keduanya terus belajar, mengerjakan sesuatu bukan atas dasar menyenangkan pasangan, tapi atas dasar bentuk ibadah karena Allah yang memerintahkan. Jika Allah senang dan ridho dengan apa yang kamu berikan pada pasangan, maka mudah bagi Allah untuk menberikan kegembiraan pada pasangan, mudah pula pasangan memberi apresiasi kegembiraan dan pujian.


Menata rumah tangga itu, kadang harus ada debu yang di sapu, seperti ego masing-masing yang harus di buang. Setiap hari harus selalu mengepel lantai rumah agar bersih dan wangi, sebagaimana ibadah kedua pasangan yang sama-sama kuat, hingga Allah menurunkan kebaikan pada mereka, lahir dan batinnya.


Menata rumah tangga sebelum membangunnya harus ada pondasi batu iman yang kuat dan niat yang benar. Menyusunnya dari batu bata ketaatan pada Allah, sehingga menjadikan bangunan rumahmu kuat. Meletakkan genteng rumah dan pintu yang mampu menutup semua aib pasangannya, hingga terlihat indah pasangan dari luarnya, tidak ada yang bisa melihat keburukan mereka, menjaga harga diri dan privasi rumahnya.


Kala hujan dan kegelapan datang menyelimuti rumah mereka, akan ada lilin kesabaran dan diskusi ramah yang menerangi mereka, lalu berselimut maaf yang keduanya mampu meminta maaf dan memaafkan, hingga datang pagi terang.


Menata rumah itu butuh pengorbanan, menyiapkan penutup telinga pada orang luar yang membicarakan pasangannya. Mengutamakan tabayyun dan mengakhirkan prasangka buruk. Mudah tidak mudah itu relatif, tergantung bagaimana setiap pasangan saling menguatkan, memahami, memberikan saran juga kritikan.


Belajar menata rumah itu bukan 30 sampai 50 tahun, tapi sampai salah satu dari mereka menutup mata. Mencapainya butuh saling menguatkan dan memahami.


"Mas dan Mbak Ganis? kita sama seperti yang lain, yang masih sama-sama harus belajar juga" Mas Birru benar-benar ingin malam ini Dara menyetujui untuk menikah dengan Raka.


" Mas, Mbak"


Rengganis dan Mas Birru menatap Dara.


" Ya Ra..."


" Dara mau menikah dengan Raka dalam waktu dekat"


" Alhamdulillah" Rengganis menggenggam erat tangan Mas Birru.

__ADS_1


" Bagaimana Bu Nadia?" tanya Mas Birru.


" Ibu yang penting Dara bahagia, ibu sangat percaya dengan ketulusan Raka, insyaAllah bisa membimbing Dara kelak,"ucap Bu Nadia sambil tersenyum.


"Terimakasih banyak Bu" Rengganis langsung memeluk Bu Nadia karena sangat bahagia.


"Nanti Ibu akan hubungi ayah Dara, semoga acara penentuan tanggal pernikahan bisa dilakukan secepatnya"


" Iya Bu, kami, keluarga Raka menunggu kabar baiknya Bu," ucap Rengganis.


Bu Nadia dan Dara tersenyum, mereka lalu mengobrol dan memakan cemilan yang Bu Nadia suguhkan.


Tepat pukul jam 8 malam, Mas Birru dan Rengganis pamit pulang karena tidak bisa berlama-lama meninggalkan Asyifa.


Di dalam mobil Rengganis masih tersenyum bahagia, Rengganis merasa lega karena sebentar lagi adiknya akan mendapatkan kebahagiaannya dengan wanita yang ia cintai.


Rengganis memeluk lengan Mas Birru yang sedang menyetir. " Sayang, terimakasih banyak yah."


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi Mas Birru.


" Malam ini double yah" Mas Birru mengerlingkan sebelah matanya.


Rengganis tersenyum, " Okeh deh sayang"

__ADS_1


" Asyik" Mas Birru sangat kegirangan seperti anak kecil yang dijanjikan membeli es cream.


Mas Birru memang selalu manja dan bersikap spesial jika didepan Rengganis, sangat berbeda sekali saat bersikap dikantor apalagi didepan oranglain.


__ADS_2