
Dara memukul badan Rizki, " Abang sedang apa disini"
"Kan Abang sudah bilang sedang jadi superhero mu, kamu juga sedang apa disini hujan-hujanan?"
"Menikmati luka bang, siapa tahu luka Dara terbawa air hujan juga"
Rizki tertawa " luka itu di obati, jangan di nikmati, cerdas sedikit dong kaya Abang"
Dara tersenyum, melihat ke arah Bang Rizki.
"Mau Abang obati ?"
Dara terdiam, Rizki langsung mengajak Dara ke suatu tempat, Tapi sebelum itu Rizki mengajak Dara ke toko busana muslim terlebih dahulu karena baju Dara sudah basah kuyup.
Rizki membelikan busana muslim warna biru untuk Dara, satu stel dengan jilbab syar'i nya, menambah aura kecantikan dalam diri Dara.
"Bang...Dara masih belum siap pakai yang syar'i bang"
"Untuk sekali ini saja"
"Memang Abang mau ajak Dara kemana?"
"Lihat saja nanti"
Dara mengerucutkan bibirnya karena Rizki tidak mau memberi tahu dirinya akan di ajak kemana.
Dara begitu terkejut saat mobil Rizki perlahan masuk ke dalam area pesantren.
"Bang kita mau ngapain disini"
"Silaturahmi"
"Memang saudara Abang ada yang nyantri disini?"
"Tidak, ini pesantren milik Kakek"
Dara menutup mulutnya, kali ini lebih terkejut lagi " Jadi Abang??? cucu kyai?"
Rizki mengangguk.
"Aku ada bakat mengajar dari paman dan kakek"
"Ih bang, gue jadi malu, jangan kesini ya bang, malu bang"
"Kenapa?"
"Gue merasa ga pantes bang disini"
"Ra...pondok pesantren itu tempat menimba ilmu agama, tidak ada batasan pantas dan tidak pantas untuk memasukinya, semuanya boleh belajar disini dengan keyakinan dan tekad yang kuat, disini bukan tempat para profesor ataupun tempat bermukimnya alim ulama, tapi disini tempat mereka yang mau belajar dan berusaha menjadi manusia yang taat"
Dara mengangguk, Rizki mengajak Dara masuk ke dalam, Rizki memperkenalkan Dara pada kakeknya. Dipesantren kakek biasa di panggil dengan sebutan Abah.
"Abah...ini Dara, Abah ingat tidak?"
"Dara yang mana Riz?"
"Yang waktu kecil suka naik ke atas pohon mangga itu, anak pak Leon" Ledek Rizki.
"Ya Allah, sekarang sudah besar ini, geulis pisan lagi" Kakek begitu senang bisa bertemu dengan Dara lagi.
Dara hanya tersenyum, Dara malah tidak ingat kapan pernah bertemu dengan kakek Rizki, mungkin karena waktu itu Dara masih begitu kecil.
"Bah...Rizki mau ajak Dara mengelilingi pesantren yah, boleh kan?"
Abah mengangguk, Abah menemani Rizki dan Dara berkeliling pesantren yang lumayan besar ini, pesantren perempuan dan laki-laki memiliki gedung terpisah, Dara saat ini sedang berkeliling di gedung pesantren perempuan.
Di salah satu ruang kelas, Rizki sedikit mengintip lewat jendela, Rizki tersenyum lalu terdiam sejenak. Ternyata tingkah Rizki di lihat oleh Dara.
"Bang kenapa?"
__ADS_1
"Ah tidak"
Dara mencoba mengintip, disana terlihat sosok wanita begitu anggun Dengan balutan busana muslim warna hitam sedang mengajar bahasa Arab.
"Cie...abang"
"Heh sudah...Abah sudah berjalan jauh" Rizki memperingatkan Dara agar lanjut berjalan.
"Abah..." Dara memanggil kakek Rizki, Dara lalu berlari menghampiri Abah.
"Abah Dara ingin bertemu dengan teteh yang ada di kelas itu, Sebentar saja, Dara akan menunggu di depan kelas, boleh ya bah"
Abah seketika mengangguk. Abah lalu berjalan menuju kantor pesantren.
" Ra, ayo kita pulang"
"Ah tidak, aku ingin tahu siapa yang ada didalam"
"Kamu ini"
"Jangan ada yang abang sembunyikan dari Dara, termasuk hati Abang juga" Dara tersenyum meledek Rizki.
"Iya iya, ya sudah tunggu saja disini"
Sekitar 30 menit mereka menunggu, Akhirnya seorang wanita cantik keluar dari kelas.
Rizki segera menghampirinya.
“Assalamu’alaikum Aisyah”
Aisyah tersenyum malu, melihat Rizki tiba-tiba ada di depannya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah”
"Kumaha damang, Sya?”
“Alhamdulillah sae A Rizki, Kumaha samulihna?”
"Alhamdulillah"
Dara bingung mendengar percakapan mereka berdua, Dara langsung protes.
"Pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar dong"
Wajah Aisyah seketika berubah pias, melihat Rizki datang bersama dengan wanita muda yang begitu cantik.
"Saha A?"
"Oh ini Dara, Adek Aa"
Seketika Aisyah kembali tersenyum, Dara mengulurkan tangannya.
"Dara teh"
"Aisyah Dek"
Mereka lalu berjalan menuju kantor pesantren sambil berbincang, Dara begitu senang bertemu dengan Aisyah, begitu juga Aisyah yang sama senangnya juga bertemu Dara yang mudah akrab dengan orang lain.
Dara juga tidak malu memberi tahu Aisyah bahwa dirinya sedang berhijrah.
"Dek...kuliah sambil nyantri juga bisa, nanti kalau mau bisa sekamar dengan teteh" Aisyah menawarkan Dara agar ikut tinggal di pesantren.
"Benarkah Teh?" Dara begitu senang di tawari tinggal di pesantren, Dara bisa lebih leluasa belajar dan menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya.
Aisyah mengangguk, Dara langsung memeluk Aisyah " Ih bang Rizki ga salah menyukai teteh aisyah yang baik hati ini"
Rizki langsung memelotokan matanya ke arah Dara, sedangkan wajah Aisyah langsung bersemu merah.
Mereka banyak berbincang tentang diri mereka masing-masing, Abah juga ikut menemani, sampai akhirnya Dara dan Rizki memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
__ADS_1
Di mobil Dara terus saja berceloteh tentang Aisyah, ia ingin sekali suatu saat nanti menjadi sosok seperti teh Aisyah yang begitu anggun dan pantas di cintai laki-laki baik.
"Bang, gue kira selera Lo itu cewe seksi yang biasa pake baju sexy, lipstrik terang, berlenggok- lenggok" Ledek Dara.
Rizki langsung menyentil kening Dara " Ra walaupun Abang ini nakal, tapi Abang ingin punya istri yang baik"
"Dara juga sepemikiran dengan Abang, Dara ingin memiliki laki-laki yang bisa membimbing Dara, walaupun Dara bukan wanita Solehah"
"Semoga kita bisa mendapatkan yang terbaik ya Ra"
"Aamiin"
☘️☘️☘️
Setelah magrib Dara seperti biasa ke rumah budhe, malam ini ternyata Raka belum datang ke rumah budhe jadi Dara mengaji dengan budhe. Di rumah budhe juga terlihat sepi karena mbak Rengganis sudah pulang ke Surabaya.
Selesai mengaji Dara kali ini langsung berpamitan dengan budhe, Dara merasa hari ini sangat lelah sekali, terlebih badannya seperti agak demam, mungkin gara-gara kehujanan siang tadi.
Di depan rumah budhe Dara berpapasan dengan Raka yang sudah rapi menggunakan pakaian biasa.
" Ra..."
"Hemmm"
"Sudah mengajikan kan dengan budhe"
Dara hanya mengangguk, " Gue mau pulang dulu"
"Ra...maafin aku ya masalah tadi siang"
"Ga perlu, Lo ga salah, yang salah kan gue"
"Ra...jangan diamkan aku"
Dara tidak mendengarkan lagi perkataan Raka, Dara membuka pintu mobilnya, Raka berlari mengejar Dara dan menahan pintu yang akan di tutup oleh Dara.
"Ra...namamu akan selalu ada disetiap doaku, semoga Allah mempersatukan kita berdua"
Dara menatap Raka " Itu ga perlu ka, jika Lo sebutin nama gue dalam doa Lo, Lo harus siapin hati yang lapang, karena belum tentu gue yang akan jadi jawaban doa Lo"
"Tapi Ra, aku benci dengan keadaan ini, aku terus menyakitimu" Ucap Raka dengan mimik wajah sedihnya.
"Luka ini yang akan mendewasakan gue"
Dara segera menutup pintu mobilnya, menyalakan mesin mobilnya dan segera bergegas pergi dari rumah budhe.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Jangan lupa like komen dan vote]
__ADS_1
Salam sayang
SantyPuji